TIGA : Nginep

20 4 0
                                        

You say I'm just a friend to you

Friends don't do the things we do

Everybody knows you love me too

I tried to be careful with the words I use

I say it cause I'm dying to

I'm so much more than a friend to you

A friend to you

A friend to you

A friend to you

Petikan gitar terakhir membuat suasana kamar Rey kembali hening. Semilir angin dengan nakalnya meniup surai cokelat Alana yang menikmati hembusan pada wajahnya.

"Mau sampai kapan?" Tanya Rey menaruh gitar pada sofa kecil dan ikut-ikutan bersender pada balkon kamar.

"Apanya?"

"Lo paling tau maksud gue."

Keduanya membisu. Yang satu menunggu jawaban, yang lain memikirkan jawaban yang harus diberikan.

"Sampe gue move on, mungkin?"

"Kalo gitu jangan move on" Celetuk Rey.

"Sialan. Lo mau gue jomblo sampe kapan?"
Alana memutar badannya kearah Rey yang kini tampak fokus pada bulatan putih benderang di langit malam.

"Sampe lo siap jadi seutuhnya buat gue."
Jawabnya matang.

"Dan itu jawaban dari pertanyaan awal lo sendiri"

Hubungan yang rumit? Sudah jelas. Benang merah yang mengikat keduanya terlalu carut marut untuk diurai.

Tapi satu hal yang pasti, mereka membutuhkan keberadaan satu sama lain.

Untuk bersandar.

Untuk melampiaskan.

Untuk kepuasan.

Dan untuk hidup.

(***)

Rey menutup pintu kaca balkon kamarnya. Tak lupa berserta gordennya. Kemudian merebahkan diri di kasur yang digelar ketika Lana menginap.

"Lo udah tidur?" Tanyanya pada gadis itu.

"Belom," Lana berguling diatas ranjang hingga menghadap Rey.

Sebenarnya, ranjang Rey cukup besar untuk dua orang. Hanya saja, Rena-ibu Rey- khawatir mereka khilaf.

"Gak dingin?"

"Banget" Rey mengusap-usap kedua tangannya mencari kehangatan.

"Sini" Alana menepuk bagian ranjang yang kosong. "Tapi subuh pindah ya. Nanti Tante Rena marah."

Bergegas Rey rebahan disamping Lana dan menutup kaki hingga dadanya dengan selimut. Lelaki tampan ini memang payah kalau dipasangkan dengan suhu rendah.

Lana menggeser tubuhnya kearah Rey. Mencerukkan wajah di leher jenjang lelaki itu dan melingkarkan tangannya disekitar bahu Rey.

"Gue janji, gue gak bakal ninggalin lo. Kecuali lo yang minta, atau maut yang jemput gue, Lan." Ucap Rey. Lana mengangguk.

"Selamat tidur, pangeran."

RecitaziONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang