Alana membuka kulkas dan tidak mendapati apa yang dicarinya.
"Tante belom belanja ya?" Tanya Alana pada Rena.
Rena menepuk dahinya. "Oh iya, tante lupa! Tapi.. tante ada arisan nih, Lan. Gimana dong?"
"Yaudah aku aja yang belanja deh tan," tawar Alana.
Karena seperti perempuan pada umumnya, Alana juga suka berbelanja. Maklum yah, naluri ibu-ibu. Eh salah, baru calon.
"Makasih ya Lan. Nanti minta kunci mobil ke Rey aja ya. Tante berangkat dulu," pamit Rena.
"Siap, tan,"
***
Sepeninggal Rena, Alana beranjak menuju lantai dua, tempat dimana kamar Rey berada untuk membangunkan kebo tidur (baca:Rey)
Alana mengetuk pintu kamar beberapa kali dan tidak mendapat jawaban. Sehingga ia dengan segera memasuki kamar bercat monokrom itu.
Dibukanya tirai jendela selebar mungkin hingga cahaya matahari menerobos membuat silau. Ditariknya bedcover Rey penuh tenaga karena cengkraman lelaki itu tidak kalah kuat.
Setelah terlepas, ia lipat rapi bedcover itu dan membuka aplikasi rekaman dan menyetel yang berjudul record 20081631.
"Reynando Putra! Bangun atau bunda potong uang jajan kamu! Reynando Putra! Bangun atau b---"
"AKU UDAH BANGUN, MA!" Rey dengan wajah bantalnya terduduk di kasur dengan wajah panik. Alana yang melihatnya hanya terkikik geli.
"Loh, mama mana?" Tanya Rey membuat Alana justru tertawa geli.
Rey merenggut,
"Al, lo ngerjain lagi gue ya?!"
Alana terbahak. Entah sudah yang keberapa kali, tapi ia selalu berhasil mengerjai Rey dengan cara ini. Suara Tante Rena emang da best lah.
"Udah, cepetan bangun! Temenin gue belanja isi lemari es lo," kata Alana mencoba menghentikan tawanya.
***
Alana menimang-nimang antara dua saus spaghetti di tangannya.
"Rey mending yang mana? Yang ini yang biasa kita makan, yang satunya yang lagi ngehits itu loh," kata Alana sambil menunjuk antara dua saus itu. Selain motif bahwa saus itu sedang ngehits, Alana juga mengincar potongan harganya ternyata gaes.
"Udah, yang biasa aja," Rey merebut salah satu saus dan memasukkannya kedalam troli.
"Yahh, Rey... " desah Alana kecewa. Padahalkan diskonnya lumayan. Yakan gaes?
"Gak usah protes! Yuk lanjut cari yang lain," ajak Rey sambil merangkul Alana yang mendorong troli.
Dekat tempat mereka memilih tadi, seorang ibu sedang menimang antara dua jenis kentang berbeda. Melihatnya, Alana mengerti kegalauan macam apa yang ibu itu alami. Antara diskon dan ukuran, memang bikin galau, sih!
"Bingung ya bu?" Tanya Alana. Ibu itu menoleh dan tersenyum.
"Iya, nih, nduk,"
"Mending kentang jawa aja, Bu. Udah lokal, juga lebih enak dari kentang Inggris. Walaupun ukurannya gak sebesar kentang priangan," sahut Alana yang membuat ibu itu manggut-manggut.
"Makasih ya, nduk," kata ibu itu yang akhirnya memilih sesuai yang disarankan Alana.
"Sama-sama bu."
"Eh, ada suaminya ya? Pengantin baru yang langgeng ya," kata ibu itu sambil berlalu.
Duh, si Ibu. Salah pahamnya bikin Alana memerah malu. Apalagi Rey yang malah membeku. Semoga aja gak ada yang cemburu!
Anyway, Alana sama Rey bukan Song-song kapel, bu. Jadi gak ada tuh, yang namanya pengantin baru.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
RecitaziONE
Novela JuvenilSejak dulu, satu harapan Alana, memiliki ending bersama pangerannya. Dan demi mewujudkannya, Alana akan melakukan apapun! Sejak dulu, satu keinginan Rey. Menjadi kesatria untuk tuan puterinya. Dan demi mewujudkannya, Rey rela mengorbankan apapun. B...
