Apa yang harus ku lakukan disaat sudah seperti ini?
Apa yang harus ku cari tau disaat sudah seperti ini?
Apa yang harus ku buktikan disaat sudah seperti ini?
Semuanya sudah terlambat. Bahkan aku baru mengetahuinya.
Bodoh! Memang aku sangat bodoh. Bagaimana bisa aku menghargainya disaat aku telah kehilangannya?
Dia pergi. Tak akan kembali. Dengan rasa. Yang amat terluka.
Aku tak tau harus berbuat apa lagi, perjuanganku diabaikan olehnya.
Mungkin benar kata orang. Karma berlaku.
Ya, sekarang karma melandaku, menyiksaku, menjatuhkanku, memojokkanku, seakan aku yang salah dalam hal ini.
Tak hanya itu, dia merahasiakan semua tentang penyakit yang diderita. Penyakit kronis yang menyebabkan sel darah merah habis dimakan oleh sel darah putih, umurnya pun ditentukan. Hingga stadium menakutkan.
Aku menangis sejadi-jadinya ketika ia tengah bertaruh nyawa. Nafasnya tercekat, suaranya tinggal seperti bisikan, jantungnya pun berdetak dengan lemah. Mesin pendeteksi jantung bergaris lurus. Menandakan sang nyawa telah lepas dari keadaan yang sangat menyiksa dan teramat sakit. Tangisku pecah. Perasaan merasa bersalah pun menimpa. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Hanya karena sebuah perasaan yang disebut cinta, manusia bisa seperti ini. Melakukan hal gila tanpa berpikir.
Kini, ia telah pergi. Pergi jauh, selamanya dan tak akan kembali. Aku berharap, dia lebih bahagia disana. Menemukan patahan hatinya yang sempat terbelah menjadi dua.
"Aku sayang kamu, Adhira Yumara."
------
Cover by IkaAguista
Thank u:)
![](https://img.wattpad.com/cover/131780068-288-k145043.jpg)
KAMU SEDANG MEMBACA
Hurt Again
Teen Fiction"Biarlah semua berjalan dengan apa adanya, berlalu dengan semestinya, dan berakhir dengan seharusnya." -Nathusa Delanva "Sudut bumi sebelah mana yang tak mengharuskan bertemu dengannya?" -Adhira Yumara Dilange "Mengikhlaskan lebih baik, daripada har...