Adhira menatap orang tuanya bergantian. Mata biru kehijauan itu menyiratkan kemarahan. Raut wajahnya tetap datar. Adrien -mamanya- menghela nafas, kemudian mengusir keheningan yang terjadi sejak sepuluh menit yang lalu.
"Kak, udah, kasian Dhira" ucap Adrien menatap Milan. Panggilan masa SMA hingga sekarang masih saja dipakainya. Buat Milan panggilan tersebut adalah panggilan yang biasa tetapi mempunyai banyak kenangan di dalamnya.
"Buat apa di kasihani? Masih untung kamu Papa kasih waktu lebih untuk menyelesaikan semuanya. Tapi apa? Kamu malah sia-siain waktu itu." Milan melayangkan tatapan tajam juga tantangan ke anak keduanya.
"Kenapa sih selalu Dhira yang salah disini, Pa, kenapa gak kak Milsa aja? Dia kan juga penerus Papa!" sungut Adhira. Emosinya sudah tak bisa terbendung lagi.
"Satu-satunya anak laki-laki di keluarga ini tuh cuma kamu, Dhir! Memang siapa lagi yang mau Papa usulkan untuk meneruskan perusahan ini?"
"Kak Milsa kan bisa, Pa. Percuma juga dia kuliah di luar negri kalo ujung-ujungnya dia bakal bangun usaha sendiri,"
"Mau kamu ap--"
"KAK STOP! Udah, cukup!" Adrien melerai perdebatan anak dan suaminya yang mempermasalahkan siapa penerus perusahaan "Dilange Group".
Dilange Group adalah perusahaan milik keluarga Dilange. Keluarga terkaya kedua setelah keluarga Carallo. Dilange Group sudah lama di kembangkan. Semua anak, cucu, cicit dari keluarga dilange sudah merasakan bagaimana menjadi CEO yang di kenal banyak masyarakat karena kekayaan melimpah ruah serta sifat ramah, rendah hati pada siapa saja dan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar membuat banyak masyarakat tak segan-segan memberi pujian positif kepada Dilange Group. Dan selama sepuluh tahun akhir ini, Milan lah yang bertanggung jawab atas semua urusan yang terjadi pada Dilange Group.
Milan berencana untuk vakum sementara waktu. Walaupun umurnya masih tiga puluh sembilan tahun yang nanti di bulan Maret tepat berusia empat puluh tahun. Selain berencana vakum, Milan juga menginginkan lebih banyak waktu di rumah daripada harus di kantor menghadap layar monitor ditambah tumpukan berkas. Milan ingin memberi perhatian lebih kepada istri tercintanya. Karena pekerjaan yang menumpuk setiap hari, Milan menjadi sering pulang larut malam dan mendapati Adrien yang tertidur pulas di sofa akibat menunggunya pulang terlalu lama.
"Papa mohon sama kamu, Dhir, turutin permintaan papa ya?" nada suara Milan terdengar lirih, Adrien menatap suaminya iba.
"Kamu gak kasian sama Mama kamu? Tiap hari kalau Papa lembur, pasti Papa temuin Mama kamu tidur pules banget di sofa." Adrien terkejut ketika Milan membongkar semua fakta yang tidak di ketahui anaknya itu sekarang. Adrien menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar Milan tidak semakin berlanjut menceritakan fakta tersebut. Tetapi Milan ya tetap Milan, akan membongkar semuanya hingga orang yang sedang di pojokkannya luluh dan terenyuh oleh kata-kata.
"Setiap hari, Mama kamu bangun pagi, siapin semuanya buat Papa dan kamu. Coba kalau ada Milsa, mungkin Papa gak akan minta kamu buat gantiin Papa di perusahaan." Adhira terdiam masih mencerna semuanya. "Kemarin Mama kamu sakit, kamu gak tau kan? Badannya panas, hampir step. Bahkan diusianya yang udah tiga puluhan, Mama kamu masih seperti anak kecil. Bukan itu aja, Mama kamu mimisan, entah sampai berapa kali dalam sehari Papa gak hitung."
Adhira beralih menatap sang Mama. Terselip rasa bersalah di pupil mata cowok itu. Mengapa bisa ia tidak mengetahui kalau Mamanya sakit? Apakah ia sekejam itu? Adrien tersenyum melihat kearah anaknya. Rasa capek yang setiap hari di dapatnya, hilang seketika saat anaknya pulang sekolah dengan wajah sumringah.
"Papa juga merasa semakin lelah akhir-akhir ini, Dhir. Papa gak tau lagi harus ngelakuin apa selain minta pertolongan ini sama kamu. Coba kalau Mama kamu mau buatin adik lagi untuk kamu dan Milsa, terus pas banget dapetnya cowok. Papa seneng banget, Dhir, sayangnya masalahnya ada di Mama kamu."
Adrien menatap tajam Milan. Tatapan matanya berkata "awas kamu, kak!". Milan sendiri pun nyengir tanpa dosa, sedangkan Adhira sibuk menggigit bibir bawah, berusaha menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak.
"Dhira pikirin lagi deh, Pa." akhirnya Adhira memutuskan untuk membantu Papanya. Dengan meminta beberapa waktu lagi untuk memikirkan kembali. Milan senang saat anaknya mengatakan satu kalimat itu membuat pria berdarah spanyol-london itu memeluk Adhira, tentunya dengan gaya laki-laki maco.
"Makasih sayang, makasih banget. Papa gak tau lagi harus bilang apa ke kamu!" Milan bernafas lega setelah hampir satu jam berdebat dengan anaknya itu.
Adrien tersenyum tulus, lalu beranjak dan duduk diantara suami dan anaknya. Mereka bertiga saling berpelukan erat. Seandainya ada Milsa, tambah lengkap bagian keluarga ini.
...
"Sha"
"Hm.."
"Berapa kali gue bilang, kalo lagi ngomong tatap mata gue."
Nathusa menatap Danka malas yang kini berbalut kemeja putih di padu dengan jas biru navy dengan bagian kerah berwarna hitam, celana bahan berwarna senada dan sepatu pantofel tak lupa sebuah dasi berwarna hitam. Sekarang mereka berada di acara ulang tahun perusahaan Madison Project. Yang tak lain dan tak bukan pemiliknya adalah ayah Danka sendiri.
"Kenapa?" tanya Nathusa pada Danka yang menatapnya aneh.
"Cantik." puji Danka sadar. Nathusa mengernyit tidak mengerti--- bukan, bukan tidak mengerti, lebih tepatnya tidak tahu apa maksud dan tujuan cowok di depannya memujinya dengan kata 'cantik.'
"Pantes badan lo panas!" ucap Nathusa setelah memeriksa kening Danka memakai punggung tangan.
"Gue serius, Sha. Lo cantik malam ini." Danka tersenyum. "Ini pertama kalinya gue liat lo pake dress. Penampilan lo, berubah malam ini."
Nathusa menatap dirinya sendiri, dari ujung sepatu hingga rambutnya yang memilih untuk di gerai. Gadis itu ingin sekali tersenyum, tetapi ia berusaha menahannya.
"Senyum aja sayang, jangan di tahan gitu." kata Danka, mengusap pipi Nathusa lembut. Membuat benda kenyal tersebut merona. Nathusa malu setengah mati, Danka memperlakukannya seperti sang kekasih. Semua perhatian tamu undangan yang datang tertuju pada Nathusa dan Danka yang ternyata sudah berada diatas panggung kecil. Nathusa terkejut ketika lantai yang di pijaknya bergerak. Dan orang-orang yang ada di sana seperti turun ke bawah. Nathusa mencengkeram tangan Danka kuat, cowok itu menyadari kemudian merengkuh pinggang Nathusa. Perlakuan tersebut mengundang sorakan suara yang Nathusa lagi-lagi tidak mengerti. Lauro, pemilik perusahaan Madison Project, orang tua Danka tersenyum penuh arti juga Elena sang istri.
"Jangan liat ke bawah." perintah Danka. Nathusa mengangguk patuh.
Tak lama panggung kecil itu berhenti. Sebuah lagu roman mengalun indah. Danka menjalankan aksinya. Membawa tangan Nathusa agar melingkari lehernya. Tangan Danka yang tak kebagian apa-apa, membantu tangan lain merengkuh pinggang gadis itu.
Nathusa merona lagi. Danka suka itu. Mereka pun berdansa, riuh tepuk tangan menggema di ballroom hotel ini. Semuanya menatap Danka dan Nathusa. Kecuali seseorang yang mengenakan dress selutut berwarna peach. Dia menatap penuh kebencian pasangan yang sedang berdansa mesra. Tangannya terkepal kuat bersiap melayangkan suatu bogeman. Air matanya perlahan jatuh membasahi pipi, merusak semua polesan make up. Karena sudah tidak tahan lagi, wanita itu pergi dengan keadaan tidak baik. Kepingan hatinya yang hancur, kemungkinan besar untuk disatukan lagi tidak ada. Hatinya begitu sakit, sangat sakit. Bisa-bisanya orang yang dia sayang dan di pertahankannya selama ini, bisa segampang itu menjadikan perempuan lain sebagai kekasih. Padahal mereka baru putus kemarin. Awas kamu, Dan, aku gak akan tinggal diam. Batinnya sambil tersenyum sinis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hurt Again
Novela Juvenil"Biarlah semua berjalan dengan apa adanya, berlalu dengan semestinya, dan berakhir dengan seharusnya." -Nathusa Delanva "Sudut bumi sebelah mana yang tak mengharuskan bertemu dengannya?" -Adhira Yumara Dilange "Mengikhlaskan lebih baik, daripada har...
