Hurt Again - ONE

81 11 1
                                        

"Nathusa! Dicariin tuh sama Adhira!" ucap salah
satu temannya dari ambang pintu. Gadis yang merasa dipanggil buru-buru beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu.

Nathusa sedikit terkejut, sedetik kemudian wajahnya berubah. Kembali datar dan dingin seperti tadi. Ia menautkan alis kanannya, bermaksud menanyakan ada apa cowok itu mencarinya.

"Bu Siska nyuruh lo ke BK sekarang." sahut Adhira tak kalah datar.

Nathusa hanya mengangguk, kemudian ia bergegas menuju ruang BK yang letak dan jaraknya cukup jauh. Gadis itu menuruni satu persatu anak tangga masih dengan wajah datar serta aura dingin khasnya.

"Eh, Nathusa!"

"Mau kemana, Sha? Gue anter yuk."

"Tambah cantik aja nih!"

"Dingin amat sih neng, abang cairin yah?"

"Ayang gue lewat, manis banget sih!"

"Enak aja lo ayang-ayang, dia pacar gue!"

"Pacar gue!"

"Gue!"

"Gue!"

"Gue!"

"Gue!"

"Hei, ada apa sih? Iya gue tau kok, gue itu cantik dan mempesona. Pasti kalian lagi rebutin gue kan? Iya kan? Ngaku aja deh!"

"Najis! Buat lo aja tuh, Rik. Gue sih ogah."

"Idih, geli gue. Mending sama bencong deh daripada sama nih cewek."

"Kalian jahat banget sih!"

"Bodo, pergi sono lo. Jijik gue!"

Rasanya Nathusa ingin muntah sekarang juga mendengar Cindy salah satu adik kelasnya yang terkenal dengan dadanan menor serta cara bicara yang lenjeh membuatnya jijik setengah mati. Nathusa juga ingin membuang manusia satu itu jauh-jauh kalau perlu ditenggelamkan didasar lautan sana.

Tak terasa ia sudah sampah di depan ruang BK. Sebelum masuk Nathusa mengetuk pintu tersebut sebanyam tiga kali hingga suara sahutan terdengar baru ia melangkah masuk.

"Nathusa, sini nak!" panggil Bu Siska menyuruhnya menuju salah satu meja yang berada di pojok.

"Ada apa ya bu?"

Bu Siska terkekeh melihat ekspresi pucat pasi Nathusa, tak biasanya gadis datar nan dingin itu menampilkan raut wajah yang berbeda. "Gak ada apa-apa kok, ibu cuma mau minta tolong sama kamu." katanya.

"Minta tolong?" Nathusa membeo. "Dalam hal apa bu?"

"Bisa kamu bantu Adhira untuk meningkatkan nilainya dalam pelajaran ibu?" Bu Siska menaruh selembar kertas berisi nilai-nilai siswa siswi kelas XII SMA Harapan 3. "Ibu takut dia tinggal kelas, nak, orang tuanya sudah memohon pada ibu agar Adhira diberi nilai diatas rata-rata. Tapi ibu tidak bisa, kalau ibu menuruti permintaan orang tua Adhira sama saja ibu mengkorupsi nilai anak didik disini."

Nathusa menatap nanar guru didepannya ini, terselip rasa kasihan melihat raut wajahnya yang begitu sendu. "Saya usahakan bu," tanggap Nathusa membuat Bu Siska mendongak sambil tersenyum senang.

"Serius kamu mau bantu ibu?"

"Iya, tapi Nathusa gak bisa janji. Kalau memang nilai Adhira tetep dan stay tanpa ada peningkatan, saya nyerah bu. Kemampuan saya belum bisa seperti ibu, gimana?"

"Tidak apa-apa, Sha. Kamu mau membantu ibu saja, ibu sudah senang."

"Kalau begitu, ibu akan panggil Adhira kesini." Bu Siska beranjak menuju microfon yang terhubung dengan son sistem seantero sekolah.

Hurt AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang