Sebelum ayam jantan berkokok dan membangunkan alam, Zyx telah terjaga. Ia turun perlahan dari ranjang. Sedang Nek Ani tengah memicingkan mata, mengamati sang cucu.
Zyx tersenyum kagum dengan seragam sekolah yang tergantung. Rok merah berlipit-lipit banyak yang goyang oleh tiupan angin. Dan baju putih berkantong satu tentunya.
Zyx memasukkan tangannya ke kantong seragam. Ia tertawa sendiri, matanya membinar riang. Cepat-cepat ia menuju dapur, menggapai bakul dan segera mengikat kacang panjang.
Suasana begitu dingin, sepoi subuh masih enggan meninggalkan hari yang ingin menampakkan diri. Meski menusuk-nusuk tulang, dingin tidak mengusik keasyikan Zyx. Tangannya tetap semangat menggelungkan karet berulang-ulang ke berbagai ukuran sayuran.
Khawatir kalau terlambat pergi sekolah, ia cepat mengelompokkan sayur dalam satuan ikat harga.
Terdengar langkah berat memasuki dapur. Sambil berjalan, Nek Ani membetulkan ikatan sarungnya. Lantas ia menghampiri tungku dan menyalakan api. Memasak air sekaligus menghangatkan tubuh.
Air bergerumul keras, menandakan titik didih air dalam panci mencapai seratus derajat. Nek Ani mengambil potongan celana bekas, dilipat berkali-kali sehingga mampu menahan panas telinga panci.
Cekatan pula, Zyx mengambil dua cangkir berukuran sedang. Berikut saringan berisi bubuk teh. Nek Ani menyambutnya dan mulai menyeduh teh. Kembali Zyx datang membawakan toples berisi gula, sisa sedikit, mengkerak di pinggir. Nek Ani mengisi gula di cangkir cucunya lebih awal, kemudian cangkirnya sendiri, sampai toples itu benar-benar kosong tanpa sekristal pun.
Merasa tubuhnya agak hangat, Zyx melanjutkan pekerjaannya, mengikat sayur. Melanjutkan rutinitas, Nek Ani mencuci beras untuk dijadikan bubur. Ia menambahkan irisan kentang dan wortel sebagai campuran.
Pintu dapur berderit ribut. Angin segar menyeruak keras. Nek Ani merapatkan sarung, turun melalui anak tangga menuju kumpulan pot bekas. Setiba di bawah, ia merunduk hampir-hampir sujud, meraba pangkal batang daun sup. Memetik batang yang menua penuh hati-hati. Setelah cukup, ia kembali ke rumah dengan menaiki tangga yang dirajai lumut.
***
Penampang malam telah hilang, seberkas demi seberkas dari peredaran langit. Warna oranye terang mengufuk tinggi seperti lampu sorot yang ditengadahkan ke atas. Semburat kuning menyemprot luas ke permukaan langit yang ditinggalkan gelap. Matahari baru menampakkan separuh cahayanya di kaki langit. Limbasan sinarnya mengelompok-lompok dalam kawanan awan. Tampak oleh mata kecil seperti kantong-kantong sarang lebah, penuh madu keberkahan bagi insan penuh syukur.
"Siapakah penggambar alam ini?" pekiknya takjub sambil tersenyum jenaka pada langit yang menyaga. "Sungguh hebat pencipta warna-warna langit."
Diam-diam, Nek Ani tercenggang haru. Cucunya sudah tumbuh besar. Daya pikir Zyx tidak bisa dicegah. Dalam hati kecilnya, ia ingin Zyx dapat bertahan dalam segala kekurangan. Tapi tiba-tiba mulutnya bertutur keras, "Ngapain kamu di depan pintu, hah? Ngomong sendiri kayak orang gila. Cepat mandi sana!"
Sebelum mendapat lebih banyak komentar pedas, Zyx berlari bolak-balik dari kamar ke sisi Nek Ani lagi. Keduanya menuruni tangga samping, menuju sumur. Seperti biasa, Nek Ani langsung menimba air dan Zyx yang menyiapkan baskom. Tapi siapa yang tahu, tubuh mungilnya menggigil akibat siraman air dingin.
"Mulai hari ini, tidak ada air panas!" Nek Ani pergi tanpa merasa bersalah, ataupun sedikit empati.
Air mata murni Zyx mengalir sunyi, kesedihannya bertambah dalam. Seandainya ia memiliki ibu, sudah tentu tidak demikian keras hidupnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
KAOLIN: Mencintai Jalan Kehidupan
Genel KurguBaginya, kehidupan dunia merupakan perjalanan yang perkaranya terus berganti. Kecuali, ada sebuah masa yang abadi. Namun, ia masih bingung akan pilihan-pilihan kepala kecilnya. Banyak lakon kejam telah dihadapinya. Sekuat apapun, ia manusia yang sam...