Belajar Bisnis

6 0 0
                                    

Hujan baru berhenti mengguyur desa Kademan.

Desa yang malamnya sangat dingin, menjadikan selimut tidur seperti bongkahan es. Semakin malam, tulang-tulang insan penyayang terlelap dalam tidur yang panjang. Terbuai oleh kehangatan mimpi hingga tidak mendengar kokok ayam jantan. Desa yang panasnya menyengat, sinar matahari menerobos kulit-kulit ari sampai ke aliran darah. Yang tidak sabar pasti mudah marah.

Hari ini, mutiara langit baru saja jatuh. Pecah, membagi keberkahan pada semua makhluk yang menanti. Cacing tanah berdendang di antara tanah-tanah gembur. Ikan-ikan menari anggun di permukaan air. Tunas-tunas terbangun dari kelonan pelepah tua.

Air mengalir di atap nipah, jatuh meretas tanah. Zyx mengulurkan tangannya lewat jendela. Bbrrr...dingin sekali. Sekelompok butiran bening mengumpul di tangannya.

Pujangga jingga masih bersimponi diam di ufuk timur, memberi nada masuk yang menantang. Gemulai sayap burung mengiringi kenaikan sang raja kalor. Jam dinding berdetak, jarum-jarumnya menjajaki detik, menapaki menit dan jam-jam berlalu. Zyx menyaksikan bagaimana bulan merelakan matahari membias hari. Amboi waktu, engkau tidak pernah lelah. Zyx bergegas menuju sumur, libur telah berlalu. Sudah waktunya kembali bersekolah. Berkutat dengan buku dan berjibaku dengan tugas.

***

Nek Ani menjerang air, membuat teh penghangat sulbi-sulbi. Ia tahu jika hari ini adalah hari pertama Zyx menjalani sekolah di tahun ketiga. Kemampuan berhitung cucunya tidak diragukan. Juara satu berturut-turut di setiap triwulan cukup menjadi jaminan. Ia mantap memberikan Zyx pekerjaan baru.

Di meja makan terhidang nasi dari beras baru, wanginya mengundang lapar. Dengan telur goreng yang tidak utuh, Zyx menikmati sarapan istimewanya. Ia menambah porsi makannya. Selesai. Ia siap ke sekolah.

"Tunggu, Zyx."

Seperti biasanya, insting Zyx berlaku benar. Jika neneknya melakukan hal khusus dari biasanya, pasti ada yang diinginkannya. Nek Ani masuk ke kamar, kembali menenteng sejumlah kantong plastik.

"Kamu jual di sekolah. Makanan ini 500 rupiah 2 buah. Permen ini 50 rupiah per buah. Kue kering ini 200 rupiah per buah."

"Dijual?" Zyx bertanya heran.

"Ya, seperti di pasar. Kalau teman-temanmu sudah memberi uang, baru kamu beri makanan ini."

Zyx mengangguk daripada mendapat omelan di hari pertama sekolah. Lagipula bukan pekerjaan yang buruk, ia akan melakukan yang terbaik. Ransel kecilnya sudah menggembung, belum cukup juga. Tersisa dua kantong yang harus ditentengnya.

Saga telah hilang, berganti pendar biru terang. Mentari pagi siap temani langkah Zyx menuju sekolah.

***

"Terkejut? Sini biar kubantu."

"Zao! Hampir saja aku memukulmu." Zyx mengepalkan tangan, geram.

"Aku benar-benar tidak sabar ingin sampai di sekolah. Pasti banyak kamboja berguguran, rumpun bunga akan berkembang banyak dan pohon lamtoro akan matang."

"Ya, aku juga."

Keduanya memacu jalan, adu cepat-cepatan sampai di sekolah. Melalui jembatan, melewati kolam luas beraroma pandan. Tiba bersamaan di pagar sekolah.

Tanaman singkong di luar pagar tumbuh subur, daunnya hampir menutupi tonggak pagar. Batangnya menjulang besar, sebentar lagi siap dipanen. Setiap awal tahun pembelajaran, pihak sekolah mengadakan acara sup singkong. Biasanya, mereka berkumpul di satu ruang. Penyekat antara dua ruangan dibuka. Semua guru dan murid bertemu.

KAOLIN: Mencintai Jalan KehidupanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang