Langit mengembang dengan awan-awan menebal dan membesar. Ufuk membayang emas, corak-corak biru yang berbaur mulai menghilang. Matahari mengedipkan sebelah matanya. Semesta sedang mengasihi seorang anak yang selalu menatapnya penasaran.
Zyx mendengar bunyi-bunyian alam sore yang indah. Burung enggang terbang di atas pohon kelapa, ia bertengger agak lama sambil bersenandung riang. Jangkrik dan belalang berlompatan dari ujung rumput satu ke ujung rumput yang lain. Helatan-helatan sayap kecil mereka menimbulkan nada do, menggelombang damai. Bahkan suara kebersamaan semut hitam yang berjajar, menuju sebuah lubang gembur di sela akar pohon kelapa, tidak luput dari pengamatannya.
Ini yang membuat Zyx selalu bertahan, dengung alam yang merindu kehidupan. Desahan yang tak terlihat, tapi mendorongnya untuk berani pada setiap kejutan dunia. Ekspresi langit dengan wajah tak terhingga terus menemani saat-saat tersulitnya.
Sore itu, Nek Ani menyusuri pematang untuk menyabit rumput banta' terbaik. Zyx disuruh melihat-lihat saja agar nantinya tidak banyak tanya lagi. Perempuan bertangan keriput itu mengumpulkan rumput sabitan ke tepi pematang, menumpuknya di atas rumput gajah. Kalau tumpukan telah menggunung, Zyx yang bertugas mengangkut ke bak rumput di kandang.
Sambil menunggu, Zyx mengingat angka yang diperkenalkan ibu guru di sekolah. Ia mengambil pelepah kelapa yang kering, memisahkan antara daun dan tulang daunnya. Setelah mendapat lidi yang panjang, Zyx mengukir-ukir bentuk huruf dan angka di permukaan sawah yang lunak. Ia mencoba berulang-ulang sampai bentuk huruf dan angka itu sempurna.
Tidak puas dengan huruf dan angka, Zyx mencoba beraneka bentuk. Ia melihat dengan mata yang jeli. Di depannya, Nek Ani masih sibuk mengumpulkan rumput. Di atas sana, langit dan alam sekitarnya masih sama misterinya. Ia melukiskan yang terlihat bersama rasa yang membuncah. Hasilnya menakjubkan. Ia baru saja memindahkan panorama ke tanah gembur.
***
"Bu Ani...Bu Ani!" seru laki-laki berkemeja polos.
"Ada apa ini ribut-ribut?!" Merasa terusik.
"Saya diutus untuk menjemput Anda," ujarnya kalem.
"Dijemput?" Nek Ani mengernyit dalam.
"Keluarga Terraen tidak akan memulai acara tanpa kedatangan Anda sekeluarga. Mereka sangat senang bisa menemukan Tuan Muda bersama Anda dalam keadaan sehat dan selamat."
"Aku belum menyelesaikan pekerjaan," kilah Nek Ani cepat.
"Saya akan menunggu."
Pintu mobil dibuka, turun anak kecil dengan sebuah kotak bagus. "Selamat malam, Ibu," sapa Zao seraya tersenyum gurih.
"Malam." Nek Ani menjawab kurang senang.
"Boleh bertemu dengan Zyx?"
"Apa-apaan ini?" Nek Ani mulai naik pitam.
"Tuan Muda memaksakan diri untuk ikut, katanya ada urusan penting." Pak Dani mewakili anak majikannya sekali lagi.
"Apa maumu, anak kecil?"
"Tadi siang, aku menjatuhkan buah cokelat ke sepatu Zyx. Aku rasa sepatu itu terkena getah." Memperlihatkan isi kotak. "Sekarang, aku membawa gantinya."
"Ambil sepatumu,Zyx!" teriak Nek Ani menggema hingga ke ujung dapur.
Pak Dani dan Zao terhenyak melihat Zyx datang secepat kilat, melesat ke bawah anak tangga. Lalu keluar menenteng sepasang kain kanvas usang berbentuk sepatu.
Nek Ani mengambil sepatu Zyx. Ia susah payah mendapatkan sepasang sepatu tersebut. Ia akan membersihkan bercak-bercak putih pada kain dengan menyikatnya pelan. Tetapi semakin disikat, serabut kain semakin banyak yang lepas. Hasilnya, sepatu tidak sepenuhnya bersih dan justru berbulu di beberapa bagian.

KAMU SEDANG MEMBACA
KAOLIN: Mencintai Jalan Kehidupan
General FictionBaginya, kehidupan dunia merupakan perjalanan yang perkaranya terus berganti. Kecuali, ada sebuah masa yang abadi. Namun, ia masih bingung akan pilihan-pilihan kepala kecilnya. Banyak lakon kejam telah dihadapinya. Sekuat apapun, ia manusia yang sam...