Azfar #9 Siapa?

12.4K 638 3
                                        

Pak Amar kembali tenang setelah dokter mengatakan jika Fara baik-baik saja dan sudah dipindah ke kamar rawat inap. Meski begitu Fara belum juga siuman, menurut dokter, syok yang terlalu berat karena traumanya membuat kerja otaknya melemah dan ia terancam amnesia. Mungkin bukan amnesia yang serius tapi sampai itu benar-benar terbukti, Fara masih tetap harus dalam pengawasan dokter.

Kini adalah hari ketiga Fara masih tertidur di kasur rawatnya dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda ia mengalami masa kritis. Pak Amar juga tau Fara masih punya kewajiban di sekolah, jadi pak Amar juga harus pergi kesekolah untuk meminta izin pada kepala sekolah. Ia juga meminta kepala sekolah untuk merahasiakan perihal Fara yang dirawat di rumah sakit bahkan pada guru pengajar. Alasan yang diberikan untuk menutupinya adalah Fara yang sedang pergi keluar negeri untuk kepentingan keluarganya.

Pak Amar terus menemani Fara, jika saja Fara terbangun saat ia tidak berada disana, pasti akan menambah beban pikiran padanya. Genap hari kelima Fara tertidur, pergerakan kecil dari tangannya membangunkan Pak Amar yang saat itu tertidur sambil menggenggam tangannya.

"Non Fara?" panggil pak Amar menatap Fara penuh harap, dan benar saat itulah mata Fara terbuka secara perlahan. "Dokter! Dokter! teriak pak Amar dari pintu kamar Fara. Beberapa dokter yang saat itu kebetulan lewat langsung berlari mendekatinya dan memeriksa keadaan Fara yang saat itu sudah tersadar.

Fara masih mengerjapkan matanya mencoba untuk tersadar. Pak Amar tak henti-hentinya berdoa sambil menggenggam tangan Fara dengan mata berkaca-kaca.

"Pak Amar," panggil Fara menatap sendu supirnya itu.

"Iyaa Non?" ucap pak Amar dan tersenyum tipis.

"Ini di rumah sakit? Kenapa aku bisa di sini?" tanya Fara dengan gelagapan.

Pak Amar ingat pesan dokter sebelumnya. Fara mungkin akan melupakan beberapa kejadian saat traumanya atau bisa saja lebih parah dari itu. Tapi untungnya tidak separah itu karena Fara masih mengingat dirinya.

"Non Fara tadi pingsan pas mau ke laundry, kata dokter Non Fara kekurangan vitamin" ucap Amar berbohong untuk yang kedua kalinya.

"Laundry?" Fara mengangkat alisnya dan mencoba mengingat lagi. "Bukankah tadi aku meminta di antarkan ke sekolah?" Fara menatap pak Amar bingung.

Pak Amar juga bingung dengan yang di ucapkan Fara. "Sekolah?"

Fara mengangguk pelan, "Ini hari pertamaku kesekolah kan, kenapa bapak mengatakan aku akan ke laundry?" Fara tersenyum dan mengira ucapan Amar adalah lelucon.

Amar diam. Ingatannya memang tidak terhapus semua, tapi ingatannya terhapus sejak beberapa minggu yang lalu. Ingatannya hanya sampai disaat ia tiba di bandung dan hendak berangkat ke sekolah barunya. Mungkin tidak akan masalah jika Fara belum memiliki teman dekat atau bersama dengan beberapa orang. Itulah yang Amar pikirkan.

"Ahahaha, iya saya jadi makin pelupa Non, udah tua soalnya," ujar Amar dan tertawa paksa.

"Sepertinya bapak kelelahan, sekarang bapak istirahat saja dulu," ucap Fara dan kembali merebahkan tubuhnya lalu kembali menutup matanya untuk istirahat. Entah kenapa matanya menjadi lebih berat setelah dokter tadi menyuntikkan sesuatu pada lengannya.

___^^___

Tak terasa dua minggu sudah Fara dirawat di rumah sakit dan berbaring dengan terus melalukan pemeriksaan. Tapi nihil, ingatannya belum juga kembali seperti semula. Ia masih melupakan semua kejadian setelah ia sampai di bandung hingga sebelum kejadian saat hujan.

"Bapak beneran sudah ngehubungin sekolah? Aku sedikit takut untuk pergi ke sekolah, sudah terlambat satu minggu," Fara menggerutu sembari memasukkan beberapa pakainnya.

AZFAR ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang