Setelah selesai mengambil kartu funworld Lea pun langsung berlari lagi memasuki mall, tetapi di saat ia sedang fokus pada chat dari seseorang, Lea pun menabrak bapak-bapak dengan tampang sangar. Bapak-bapak itu terlihat sangat marah karena Lea baru saja menumpahkan minuman yang sedang bapak-bapak itu pegang dan mengenai bajunya.
"Hey!!! Kamu itu kalo jalan liat-liat. Udah tau lagi di tempat umum, malah matanya ke hp. Gimana si??!" Bapak-bapak itu pun marah-marah dan memaki Lea.
Lea pun terlihat sangat panik dan ketakutan sampai ia pun gemetar dan hampir mengeluarkan air mata nya.
"Pak ma... maaf, tadi s...s...saya bener gak se...sengaja." akhir satu kalimat permintaan maaf pun dapat keluar dari bibir Lea yang sedang gemetar.
Bapak-bapak itu pun langsung membulatkan matanya dan mengacak rambutnya karena kesal "kamu ini. Kalo udah kaya begini saya harus gimana?"
"Yah begitulah lah pak. Emang nya mau gimana lagi?" Devan pun muncul entah dari mana asalnya dan mengucapkan kata-kata Barusan Dengan santai.
Lea pun sangat bingung dengan kemunculan Devan yang entah dari mana dan langsung memberikan tatapan seolah bertanya -kok Lo bisa ada di sini-
Kepada Devan. Dan yang di tatap seperti itu pun hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Udah ya pak,, kan temen saya juga udah minta maaf, lagi juga ini bukan sepenuhnya kesalahan temen saya. Buktinya aja tadi bapak jalan nya buru-buru banget jadi nya yah ketabrak." Dengan sangat santainya Devan pun mengungkapkan kata-kata Barusan.
"Ah... Sudah lah! Saya malas berdebat dengan kalian. Sudah lupakan, dan bilang sama teman kamu itu kalo jalan yang benar!" Setelah mengatakan kalimat itu bapak-bapak nya pun langsung pergi.
×°×°×°×°×°×°
Lea, Sandra, Karin, Aya, dan Devan pun kini berada di taman belakang mall untuk menenangkan fikirannya Lea karena masalah bapak-bapak tadi.
"Lagi juga kenapa tuh bapak-bapak pake ngebentak Lea segala?! Bikin orang stres aja. Ih nih yah kalo gue ada di situ, itu bapak-bapak bakalan gue caci maki abis beneran sama gue." Karin pun memutar bola matanya malas karena terus-menerus mendengar Omelan Aya.
Ternyata yang malas mendengar Omelan Aya bukan hanya Karin tetapi juga Sandra, dan akhirnya ia pun menabok mulut Aya "Aya Lo bisa diem gak sih? Ini Lea lagi syok."
Karin pun kaget mendengar kalau Sandra mengatakan bahwa Lea sedang syok. "Apah... Lea syok. Hahahaha." Dengan sangat jahatnya Karin pun tertawa di atas penderitaan Lea.
Lea yang sedang menunduk langsung melirik sinis ke arah karin karena ia merasa tidak nyaman jika di tertawai, dan ia pun berkata "lagi siapa juga yang syok. Orang gue lagi mikirin nasib gue setelah di bentak bapak-bapak gila itu di depan umum. Mau taro di mana ini muka gue??"
Devan, Sandra, dan Aya pun langsung membulatkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Lalu mereka semua pun langsung saling tatap-tatapan dan tawa pun muncul dari Karin, Aya, dan Sandra. Tetapi Devan hanya dia dan menatap kecewa ke arah Lea.
"Lo kenapa??" Tanya Lea pada Devan.
Devan pun menggelengkan kepalanya tidak percaya dan memberikan senyum miris nya pada Lea "gila akting Lo bagus banget. Dan dengan bodohnya gue percaya itu. Sampe-sampe gue ngebuang waktu gue cuma buat khawatir Lo."
Tawa pun langsung lenyap seketika sampai akhirnya di gantikan tatapan heran dari para gadis yang berada di dekat Devan.
Lea pun langsung dengan tingkah angkuh nya lalu menaikkan dagunya dengan tinggi dan berkata "oh Lo merasa di rugikan karna Lo udah khawatirin gue. Dean, Devan, atau apalah nama Lo itu. Tapi sayangnya gue kan gak minta Lo buat khawatirin gue. Jadi apa salah gue??!!" Lea pun langsung pergi menuju mobilnya di parkiran dengan langsung di ikuti oleh ketiga sahabatnya. Dan Devan pun hanya bisa diam karena ia kaget dengan apa yang barusan saja ia dengar.
×°×°×°×°×°×°
Lea pun merasa sangat bersalah karena ia telah mengucapkan hal yang seharusnya tidak ia ucap kan pada Devan. Bukannya berterimakasih atas kepedulian Devan pada nya tapi ia malah membentak-bentak Devan. Lea pun hanya bisa mengacak rambutnya frustasi karena kebodohan nya telah menyakiti hati Devan.
Ketiga sahabatnya Lea pun hanya memandang heran ke arah Lea yang sedari tadi hanya mengacak-acak rambutnya.
"Lea,,, kenapa??" Tanya Sandra pelan.
Lea pun hanya melirik sekilas dan menggeleng kan kepalanya.
"Gue mandi dulu yah, kalian santai aja. Oh iya kalo laper minta bi Imah bikini makanan aja."
Setelah Lea masuk ke kamar mandi, ketiga sahabatnya pun langsung saling bertatapan dan melihat jam dinding yang berada di atas tv kamar Lea. Merekapun langsung berdiskusi.
"Lo tau kalo Lea mandi malem itu tandanya apa?" Tanya Karin untuk memastikan bahwa sahabatnya itu tau.
"Yah tau lah pasti dia lagi frustasi karena mikirin sesuatu." Jawab Aya polos.
"Nah mangkannya itu kira harus cari tau apa yang lagi ganggu fikiran dia." Usul Karin.
"Caranya??" Tanya Aya yang tidak paham.
"Kita kan sahabat nya, yah jadi kita harus desek supaya dia mau cerita gimana pun caranya." Sandra pun menaikkan sebelah alisnya lalu mengangguk kan kepalanya.
"Oke" jawab Karin dan Aya kompak.
×°×°×°×°×°×°
Keempat remaja perempuan itu pun sedang membereskan persiapan mereka untuk menuju Jungleland.
Di saat mereka sudah hampir menyelesaikan dandanan dan segala macem nya, Aya pun memberi kode dengan bersuara "ehem," lalu Karin dan Sandra pun langsung menghampiri Lea dan memberikan tatapan yang seolah macan ingin menerkam mangsanya.
"Apa?" Lea pun bertanya karena ia tidak mengerti apa maksud dari ketiga sahabatnya yang mengelilinginya saat ia sedang make up.
"Lo masih nanya dengan semua yang udah terjadi?" Karin pun mendengus.
Sandra pun akhirnya langsung mengungkit inti permasalahan nya "jadi sebenernya Lo nganggep kita ini sahabat Lo atau nggak sih?"
"Maksud kalian apaan si, yah udah pasti iya lah."
"Kalo emang bener Lo anggep kita ini sahabat Lo, Sekarang juga Lo ceritain apa masalah yang sekarang ganggu pikiran Lo."
Lea pun menghembuskan nafas panjang lalu ia pun mulai bercerita, "jadi gue dari semalem itu kepikiran soal Devan. Yah... Yah karna gue ngerasa malu aja sama diri gue yang udah dengan teganya ngomong kasar banget ke dia. Padahal itu seharusnya gue berterimakasih sama dia karena udah nolongin gue."
Ketiga sahabatnya Lea pun langsung memeluk dan mengelus lea untuk menenangkan pikirannya.
"Udah, ga papa Lea, nanti di sekolah Lo tinggal minta maaf aja sama Devan." Ucap Karin sambil mengelus punggung Lea.
"Iya... Udah gak usah di pikiran."
Lea pun yang merasakan ketenangan karena perhatian yang tulus dari para sahabatnya langsung tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEANDRA
Novela Juvenil"Maaf bila sikap saya menyebalkan. Saya seperti ini karena ingin melihat seberapa jauh perjuanganmu" - Leandra Maira.
