"Velany? Vel?," terdengar seseorang memanggilku.
"Hah iya apa?," Aku tersentak kaget mendengarnya, pikiranku benar-benar bukan di sini.
Perempuan itu tersenyum dan membenarkan kacamatanya di depan kelas," kamu jadi sekertaris yaa."
"Hah? Kenapa aku?."
"Casie bilang kamu seneng nulis," Ia menjawab dan tetap tersenyum dengan bijak.
Aku melirik ke sebelahku, Casie tertawa tak bersuara. Ia benar-benar menjebakku, sudah tau aku hanya mau menjadi anggota dalam organisasi manapun.
"Kali-kali lah Vel, pengalaman," Casie menepuk pundakku.
"Kali-kali dari mana?," Aku menaikkan nadaku kesal. "Eh kamu itu KM yang di depan aku lupa siapa namanya. Engga-engga Casie bohong! aku ga suka nulis, tulisan aku beuhh udah deh ceker ayam."
"Tulisan Velany bagus kok, aku suka nyontek catetannya selama kelas MOS," cowo yang selama satu minggu ini telah mengangguku berkomentar. Sial sial sial satu kelas lagi sama cowo ini dan parahnya kali ini benar-benar tiga tahun.
"Jadi menurut kalian semua baiknya gimana setelah denger pendapat Casie sama Daniel dan argumen Velany sendiri," sang KM dengan bijaknya menengahi.
Daniel? Satu minggu sekelas sama itu cowo aku gak pernah merhatiin namanya, yang aku tau dia dipanggil 'Dan' aku kira namanya Dandi kek atau bahkan Dinda aku ga peduli.
"Aku sih setuju aja Velany jadi sekertaris, keliatannya dia suka ngomong. Jadi cocok dong buat marahin cowo-cowo yang mabal, sekertaris ngurus absen juga kan," salah satu perempuan nyeletuk berpendapat.
"Sip, moal mabal moaal!," satu cowo dari belakang berteriak.
"Oke sekarang ambil suara, yang ga setuju Velany jadi sekertaris angkat tangan," ucap KM benar-benar bijak dan aku masih tidak tahu namanya.
Aku angkat tangan dengan ambisi tanpa basa-basi lalu menengok ke kiri dan kanan. Gawat, tidak ada sama sekali yang mengangkat tangan selain aku.
KM itu tersenyum," bisa kita lihat hasilnya, kalau begitu Velany ditetapkan sebagai sekertaris."
"Semangat sekertaris Velany!," Daniel agak berteriak dan terus tersenyum, kenapa harus dia?. Aku hanya membalasnya dengan dengusan kesal.
"Daritadi Daniel seneng banget sih keliatannya sama Velany," seorang perempuan yang sedang berdiri di sebelah KM nyeletuk. Kupastikan dia adalah wakilnya.
"Wih ada apa tuh euy!," terdengar suara cowo.
"Gimana gaada apa-apa seminggu selama MOS bareng terus!," Casie ikut bersorak di sebelahku. Aku memasang wajah marah padanya dan menyenggol lengannya.
"Wihh first couple in this class atuh," terdengar lagi suara satu cowo dengan logat kental sundanya.
"CIEEEE," kini seisi kelas bersorak.
Aku melihat Daniel dan memasang wajah yang amat sangat marah, tapi ia tetap tersenyum dan tersenyum seolah semua sorakan ini adalah hal yang diinginkannya.
***
"Casiee! Kenapa tadi kamu pake ikut-ikutan segala sih?!," aku menggerutu kesal ketika kami berdua sedang menunggu pesanan di kantin.
YOU ARE READING
7 Hours for 717 Days
Teen FictionHarapanku satu tahun lalu, terwujud. Impianku mengukir kisah bersamanya dalam hari-hari yang sederhana. Kini, Ia bukan angan lagi untuk kudapatkan. Namun Ia masihlah harapan untuk sebuah pertemuan. Ribuan masalah memanglah tantangan. Bahwa hanya sat...
