"Dan...," aku berusaha menanggapinya dan memikirkan berbagai kata yang pantas untuk dikatakan padanya. Perjuangannya sudah terlalu jauh aku harus tetap menghargainya walau pada kenyataanya aku pasti menolaknya.
"Apa?," tanya Daniel yang senyumnya terus merekah.
"Kamu udah mikirin segala resikonya ngelakuin semua ini?," tanyaku.
"Ya pastinya kalau kamu nerima aku bakal seneng!," Daniel menyodorkan sebuket bunganya semakin tinggi.
"Kalau.. engga?," tanyaku perlahan.
"Mungkin bukan waktunya," kini Daniel menundukkan kepalanya.
"Emm bentar ya," aku menjauh dari jendela dan mengambil notebook tentang Alatan.
Aku merobek satu lembar dan menulis beberapa kalimat yang lumayan panjang agar hal yang di luar dugaanya ini tidak terlalu menyakiti hatinya lalu kulipat serapih mungkin.
"Ini, bukanya nanti aja ya kalau udah di rumah," aku memberikan lipatan kertas itu pada Daniel dan berusaha tersenyum sebaik mungkin agar tidak menyakiti perasaanya.
"Bunganya diterima kan?," tanya Daniel.
Aku mengambil sebuket bunga itu dari tangannya,"makasih ya."
"Sama-sama," Daniel masih tetap mematung di atas tangga itu.
"Ga pulang? Biar bisa cepet dibuka itu kertasnya," aku tersenyum kikuk.
"Ternyata Velany gini ya kalau mau tidur, cantik," Daniel tersenyum. "Udah deh aku pulang ya dadah! Makasih tiga minggunya."
"Eh iya.. ati-ati," aku melihatnya ke bawah ketika menuruni tangga dan setelah dia sampai bawah aku cepat-cepat menutup jendela.
"Ini gila!," aku menghempaskan diri di atas kasur mengacak-ngacak rambutku.
Aku mengambil handphone-ku dan langsung mencari nomor Casie dan Sery, untung saja bisa menelpon dua nomor sekaligus.
Ayoo angkaaat angkaat, batinku.
"Jam berapa ini Vel?!," terdengar teriakan Sery.
"Eh kok suara Sery? Bukannya Vely yang nelpon," terdengar juga suara Casie.
"Akhirnyaa," aku menghembuskan napas lega.
"Vel?! Kenapa sih?," kini mereka berdua teriak berbarengan.
Aku sempat tertawa mendengar teriakan mereka tetapi ketika mengingat tujuanku menelpon mereka tawaku terhenti seketika.
"Daniel gila," akhirnya kata itu yang keluar dari mulutku.
"Eh gila? Emang gila sih," Sery berkomentar.
"Kayaknya tebakan Fiko terjadi deh," Casie malah menggumam.
"Eh Fiko nebak apaan? Kayak peramal aja," Sery kebingungan.
"Itu Fiko nebak dari gerak-geriknya Daniel tadi sore kata Fiko pasti ga lama lagi Daniel bakal..."
"Ssstt.. udah deh kalian besok pokonya wajib ke rumah aku, makan gratis!," aku memotong perkataan Casie.
"Makan gratis pasti dateng!," Sery menyetujui.
"Cas?," tanyaku.
YOU ARE READING
7 Hours for 717 Days
Fiksi RemajaHarapanku satu tahun lalu, terwujud. Impianku mengukir kisah bersamanya dalam hari-hari yang sederhana. Kini, Ia bukan angan lagi untuk kudapatkan. Namun Ia masihlah harapan untuk sebuah pertemuan. Ribuan masalah memanglah tantangan. Bahwa hanya sat...
