Sssshh kali ini aku publish dua chapter wohooouuw
with all my love still need readers support<3
happy reaaaddiiinggg!
***
"Haahh..haah..," aku ngos-ngosan setelah berhasil berdiri di sebelah Casie.
"Vel? Dari tadi kamu kemana? Hampir aja telat, aku udah khawatir banget tau," Casie melihat kedatanganku kaget.
"Haahh... telat bangun hehe," aku nyengir menyalahkan diriku sendiri.
"Ini hari pertama kita di sekolah ini Vel, jangan kasih kesan pertama yang buruk dong."
"Yang penting ga telat kan?," aku menunjukkan tanganku membentuk 'peace'.
Casie menggelengkan kepala melihat tingkah lakuku kesal.
"Oke yang belum dapet barisan buat barisan lagi dari depan!," terdengar salah satu pengurus MOS berteriak menggunakan pengeras suara.
Aku melihat ke depanku, tidak ada orang-orang berbaris dan menengok ke arah Casie.
"Udah sana bikin barisan sebelum pengurus MOSnya ngamuk, semoga kita sekelompok," Casie tersenyum.
Aku pasrah dan mengambil barisan baru di depan.
"Hei kamu yang tadi lari-lari pas hampir gerbang di tutup ya?," seorang laki-laki di sebelahku berbisik.
"Ngomong apa sih? Kenapa harus bisik-bisik cobaa."
"Suutt itu panita MOS ngeliatin tau," Ia terlihat ketakutan.
Setau aku tahun ini sudah ada keputusan bahwa MOS tidak akan menggunakan kekerasan. Tapi kenapa semua orang tetap takut?.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berbicara lagi dan melihat ke depan.
"Bukannya dijawab malah diem," cowo itu kembali berbisik padaku.
Apa mau dia coba? Bukannya tadi dia ketakutan karena diliat oleh panitia MOS. Sekarang Ia malah protes aku tidak menjawabnya.
"Kamu maunya apa sih," aku menjawab kesal.
"Yah cantik-cantik ngambek."
Aku memolotinya berusaha mengancam bahwa aku benar-benar tidak suka dengan tingkah lakunya.
***
"Vel tadi cowo yang di sebelah kamu siapa sih? Kok keliatannya akrab banget," Casie menghampiriku dan tertawa ketika jam istirahat.
"Gatau ga jelas, kalau tadi tau sekelompok satu barisan aku gaakan pindah," aku memanyunkan bibirku.
"Ya gapapa lah, kita juga harus cari temen baru kan Vel," Casie mengedipkan sebelah matanya. "Kira-kira Sery lagi ngapain ya?."
"Palingan juga dia udah punya temen baru lagi buat ngecengin kakel cogan," aku menjawab dan membayangkan apa yang dilakukan Sery.
"Yap bener-bener bisa jadi," Casie ikut tertawa. "Vel itu cowo yang tadi bukan?," Casie menunjuk ke depan dan aku ikut melihat ke depan karena daritadi sibuk bermain handphone.
"Eh ketemu lagi," cowo yang tadi duduk di sebelahku dan sekarang jadi sekelompok denganku tersenyum lalu pergi.
"Manis gitu loh Vel, ati-ati nyangkut," Casie menyenggol lenganku.
YOU ARE READING
7 Hours for 717 Days
Novela JuvenilHarapanku satu tahun lalu, terwujud. Impianku mengukir kisah bersamanya dalam hari-hari yang sederhana. Kini, Ia bukan angan lagi untuk kudapatkan. Namun Ia masihlah harapan untuk sebuah pertemuan. Ribuan masalah memanglah tantangan. Bahwa hanya sat...
