3 Weeks?

73 7 0
                                        

Ini bukanlah sebuah permainan, aku benar-benar mengetahuinya. Cepat ataupun lambat Daniel pasti akan menyatakan perasannya bahkan mungkin menembakku perihal ketidaktahuannya hubunganku dengan Alatan. Tapi aku terus berharap itu tidak akan terjadi, aku tidak mau itu terjadi karena terlalu sulit. Selama satu minggu ini Daniel sudah berbaik hati mengantarku pulang ke rumah dan membantuku dalam beberapa hal. Jika aku menolaknya mungkin dia akan menghindariku jauh dari kata teman.

"Vel hari ini masih mau pulang bareng?," Daniel nyelonong nanya ketika lewat bangku aku dan Casie.

"Pulang ini ketemu Sery Vel," Casie malah menjawab.

"Eh berarti kamu gaakan sama Fiko, Cas?."

Casie menggeleng," tapi kalau kamu mau sama Daniel sok aja, aku tinggal minta jemput Fiko."

"Lah jadii..?," aku bertanya kebingungan.

"Eh ide bagus juga ya!," tiba-tiba Casie agak berteriak. "Kamu sama Daniel aja Vel! Sekalian kenalin Daniel ke Sery! Siapa tau nyangkut. Yaaa itu juga kalau Danielnya mau sih," Casie tertawa setelah memberitahu ide gilanya itu.

"Siap laksanakan bos!," Daniel menanggapi dan kembali berjalan kebangkunya tanpa menunggu jawabanku.

"Wiih Daniel lama-lama serius tuh," Casie melirik ke arahku menggoda.

"Alatan," jawabku tegas.

"Kalian gosip mulu ah, kantin yuk laper," Mony yang daritadi menyimak semua percakapan kami dari bangku depan berkomentar.

"Gimana Rein?," aku menepuk pundaknya dari belakang.

Rein melepas headsetnya karena sedari tadi sibuk dengan lagu-lagu dan handphonenya," eh kenapa?."

"Kantin, laper nih," jawab Mony.

"Lah jamkos ini, lima menit lagi juga istirahat," Rein menaruh handphone dan headsetnya kedalam tas beranjak berdiri.

Aku merasa benar-benar beruntung menjadi bagian dari kelas ini. Rein memang KM yang terkesan begitu bijak dan tegas. Tapi ia bukan KM yang egois dengan peraturan, aku rasa kelas ini akan menjadi kelas yang solid dan mewarnai dengan baik masa putih abuku.

***

Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi. Di dalam kelas tinggal tersisa beberapa anak yang betah di sekolah termasuk aku, Casie dan Daniel.

"Fiko udah otw Vel, ayo!," Casie beranjak dari duduknya.

Melihat Casie beranjak dari duduknya Danielpun ikut beranjak dan keluar dari kelas.

"Oke iya iya," aku melangkah malas menyusul Daniel ke parkiran.

Aku lihat Daniel sudah siap di atas motor memakai jaket dan helmnya. "Dan?," entah kenapa aku ingin bertanya.

"Kenapa?,"jawabnya.

"Kamu gapapa selalu nganter aku gini? Semua gara-gara Casie sih."

"Ya elah Vel yang gitu dipikirin, aku malah seneng kok bisa liat kamu selamat sampai ke rumah tiap hari," Daniel tersenyum. "Ayo naik!."

Selama di perjalanan aku memikirkan perkataan Daniel, terus terngiang-ngiang dipikiranku. Apa Alatan akan memikirkan keselamatanku untuk sampai di rumah walau tidak melihatnya?. Seminggu ini aku dan Alatan hanya berhubungan lewat chat tidak pernah menelepon lagi karena kami sudah mulai sibuk dengan tugas sekolah masing-masing.

7 Hours for 717 DaysStories to obsess over. Discover now