Alfa dan .....?

52 11 0
                                        

Teng nong~

Bunyi bel rumah terdengar, "Biar Ara aja yang buka pintunya"

Dengan segera aku berjalan menuju pintu rumah.

Ku buka kenop pintu, "Hai Tuan putri"

"Alfa? Kok pagi banget Dateng nya? Ini kan masih jam setengah 6"

"Mau numpang sarapan dulu, boleh kan?"

Aku memutar bola mata ku.

"Gak mungkin gue nolak kan? Masuk sini"

Setelah Alfa masuk, ku kunci pintu kembali dan berjalan bersama menuju ruang makan.

"Ayah, bunda kenalin ini teman Ara. Dia mau numpang sarapan katanya"

"Yang mau antar Ara sekolah juga ya?" Goda ayah

Aku melotot kan mata ku pada Ayah.

Ayah ini memang senang sekali sih bikin anak nya malu

"Halo om, Tante"

Ayah dan bunda tersenyum menyambut

"Ayok-ayok duduk" suruh bunda

"Iya Tante"

Alfa duduk disebelah ku lalu Bunda mengambil kan nasi untuk Alfa

"Nak, Alfa mau lauknya apa?"

"Apa aja Tante"

"Gak usah malu-malu gitu, elah" ucap ku

Kaki ku diinjak oleh nya. Kurang ajar!

Aku injak balik kaki nya. Dia meringis pelan. Menatap ku dengan tatapan kesal nya.

"Rasain" ucap ku dengan gerakan bibir

Setelah itu aku melanjutkan makan ku, terdengar Alfa yang menghela nafas  dan memakan sarapan nya yang telah diambilkan bunda

"Nak, Alfa sekelas sama Ara?" Tanya ayah membuka obrolan

"Iya om"

Bunda terlihat tidak tertarik menimbrung. Aku pun juga sama.

"Ara dikelas gimana? Gak aneh-aneh kan? Om khawatir sama dia. Anaknya kan agak gitu"

Sontak saja saat mendengar ucapan ayah, aku melotot kan mataku pada nya.

"Agak gitu gimana om?"

"Duh.. masa kamu gak ngerasa sih, dia kan suka diam di pojokan kelas, nulis-nulis gak jelas. Sok-sok introvert padahal gak bisa"

"Ayah!!" Ucap ku kesal

Alfa tertawa mendengar nya, "Om kok tau sih? Jangan-jangan om menyabotase CCTV sekolah ya?"

"Kamu jangan salah, om ini punya Intel dimana-mana. Jadi tanpa harus menyabotase CCTV om udah tau"

Alfa mengacungkan jempol nya pada Ayah, "Wah... Om emang keren"

Ayah menepuk dada nya seperti sedang membanggakan diri, "Om gitu loh"

Ku dekatkan kepala ku pada nya,"Ayah gue emang garing, maaf ya" ucap ku pelan

Alfa hanya tersenyum, tidak menyahuti perkataan ku.

***

"Ra" panggilnya dengan masih fokus menyetir

"Kenapa?"

"Gue udah resmi jadi sahabat lo belom?"

"Sahabat?"

Dia menganggukkan kepala nya dengan antusias. 

"Gue sih sebenernya pengen lebih dari sahabat, tapi kalau untuk sekarang kayaknya lebih enak jadi sahabat"

Aku bingung harus merespon apa. Terlalu tiba-tiba rasanya

"Ra! kok diem?"

"Terus lo mau gue ngerespon apa?"

"Cukup jawab iya atau enggak. Itu udah cukup buat gue"

"Gue boleh nanya dulu?"

"Tentu aja boleh Tuan Putri"

"First, stop calling me like that. Sumpah aneh banget gue dengernya"

"Ra, itu panggilan istimewa gue buat lo. Walaupun pasaran sih, tapi bagi gue spesial"

"Cari yang lain. Gue gak mau panggilan itu"

"Berarti kalau gitu gue udah resmi jadi sahabat lo kan?" Ucap Alfa dengan semangat

''Kenapa Lo mau jadiin gue sahabat Lo?" Aku bertanya balik

"Apa enggak boleh?"

"Bukan gitu..."

"Terus?"

"Maksud gue kenapa Lo milih gue?"

"Because you're different."

"Apa yang bisa membuat Lo bilang kalau gue berbeda?"

"Ya,Karena......"

Belum sampai Alfa menyelesaikan ucapan nya, aku tersadar kami sudah sampai di sekolah. Dan mobil Alfa berjalan masuk ke sekolah. Tidak berhenti di halte dekat sekolah. Sontak saja aku panik. Aku kan tidak mau kelihatan orang-orang turun dari mobilnya

"Alfa! Apaan sih kan gue udah bilang turunin gue dihalte deket sekolah. Bukan di parkiran sekolah!'' ku potong kalimat nya begitu saja

''Emang iya ya?kok gue gak denger, kapan lo ngomong nya?''

Oke. Aku mulai kesal sekarang.

"Jangan pura-pura lupa Alfa! Gue udah bilang tadi pas kita lagi dirumah gue"

"Lo udah telat ngomong nya Ra, kita udah nyampe di parkiran sekolah. Dan gak mungkin kan kalau gue keluar sekolah lagi cuman buat nganter lo?"

Aku menatapnya kesal. Tanpa mengatakan apapun aku keluar dari mobilnya.

Berjalan cepat menuju kelas tanpa menghiraukan tatapan ganas fans seorang Alfa.

Saat sampai lapangan sekolah aku merasakan tangan ku di genggam tiba-tiba. Membuat ku berhenti berjalan.

Ku tatap genggaman tangan ini, lalu ku dongakkan kepala ke arah sebelah ku melihat siapa pemilik tangan ini.

Mengetahui siapa pemiliknya Aku langsung berusaha keras melepas genggaman tangan ini.

"Lepas!"

"Coba aja kalau bisa"

Sial. Semakin ku coba untuk melepasnya semakin erat genggaman tangan nya.

"Ravan, lepasin tangan gue!"

Tak dihiraukan nya ucapan ku. Justru dibawa nya aku berjalan sambil bergandengan tangan.

Sumpah hari ini adalah hari yang benar-benar berhasil membuat ku naik darah.

SecretsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang