Pupuh III

292 6 0
                                        

Masalah yang di hadapi oleh Majapahit bukan lagi sekedar masalah baru, namun masalah yang bisa saja akan melenyapkan sendi-sendi kerajaan dari dalam. Tampaknya bukan saja Majapahit ini begitu megah dalam pemandangan orang banyak lain yang begitu mengagumi kebesaran dan kemegahan kedaton kebanggan Nusantara ini, tetapi orang-orang yang tidak melihat permasalahan dari dalam kedaton mungkin tak akan pernah menyadarinya. Itulah sebabnya Bumi Pertiwi mulai bersedih, karena melihat bahwa putra kebanggaan Nusantara, Majapahit, akan segera sirna dari Bumi Jawa ini. Jelaslah bahwa kebesaran kerajaan yang sangat tiada bandingnya ini dengan kerajaan-kerajaan lain tak bisa disebandingkan dengan mereka. Majapahit ialah pusat kerajaan di Nusantara, dan juga Jawa.

Pada suatu hari, Siu Ban Ci merasakan bahwa ia tengah hamil. Ia memberikan pesan kepada Prabu Brawijaya lewat seorang emban yang biasa mengurusi kaputren, begini pesannya: "Kanda Prabu, sangat bersyukur kepada para dewa dan juga Gusti Allah, bahwa kita berbahagia. Hari ini, aku mendapati kebahagiaanku dengan mengandung seorang jabang bayi dari hasil percintaan kita". Mendengar pesan dari emban tua itu, sangat berbahagia hati Prabu Brawijaya. Namun, dalam pemandangan lain dari para menteri dan penasihat kerajaannya, mereka melihat bahwa Gusti Prabu sendiri telah kehilangan berbagai kesempatan dengan berita bahwa Siu Ban Ci telah mengandung anak dari Prabu Brawijaya.

Ada penasihat spiritual Prabu Brawijaya, bernama Sabda Palon dan Naya Genggong.  Mereka ini telah melihat dengan jelas dari mata batin mereka, bahwa sebentar lagi Majapahit akan mengalami 'senjakala' terbesar dalam masa hidupnya. Lantaran karena anak yang dikandung oleh Siu Ban Ci itulah, maka Majapahit akan lenyap ditangan orang-orang Islam. Sabda Palon dan Naya Genggong berulang kali menasihati Prabu Brawijaya, supaya berhati-hati dalam mengambil tindakan dan keputusan. Karena bisa saja keputusan yang tidak disadari kebijaksanaan, maka di kemudian hari akan menimbulkan kegemparan bahkan masalah besar.

Beberapa bulan setelahnya, Siu Ban Ci tengah hamil tua. Dalam keadaan usia kandungan yang semakin membesar itu, Dewi Amaravati meminta kepada Prabu Brawijaya, supaya menceraikan selirnya yang sedang hamil tua itu. Dalam hati, sebenarnya Prabu Brawijaya tidaklah tega mengingat dulu ia pernah menghabiskan waktu-waktu berharganya dengan Siu Ban Ci. Namun, tak ayal, manakala ketika Dewi Amaravati mengatakan hal tersebut kepada Sang Prabu, Prabu Brawijaya benar-benar menceraikan Siu Ban Ci. Putri China yang malang ini diserahkan Sang Prabu Brawijaya kepada Adipatinya di Palembang, Arya Damar, untuk diperistri olehnya. Arya Damar sesungguhnya juga peranakan dari keluarga Majapahit. Dia adalah putra dari selir Prabu Wikramawardhana dengan Ratu Mataram III  Dyah Aniswari. Aji Wikramawardhana sendiri adalah raja Majapahit yang sudah wafat dan memerintah pada tahun 1389 - 1429 Masehi.

Di Palembang, Arya Damar dikenal dengan sebutan 'Arya Dilah' atau 'Jaka Abdilah'. Arya Damar menunggu kelahiran anak yang dikandung Siu Ban Ci sebelum ia menikahinya. Begitu Siu Ban Ci selesai melahirkan, ia dinikahi oleh Arya Damar. Anak yang lahir dari rahim Siu Ban Ci, hasil dari pernikahannya dengan Prabu Brawijaya, adalah seorang anak lelaki. Diberi nama China 'Jin Bun'. Karena ayah tirinya adalah seorang Muslim, dia juga diberi nama 'Raden Hassan'. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan nama Raden Patah.

Dari hasil perkawinan Arya Damar dengan Siu Ban Ci, lahirlah juga seorang putra. Anaknya diberi nama 'Kin Shan'. Nama Muslimnya adalah 'Raden Hussein'. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan nama 'Raden Kusen' sebagai Adipati Pecattandha, atau Adipati Terung.

Kembali ke Jawa, tepatnya di pusat kekuasaan Majapahit di Antawulan. Dalam berbagai kesempatan, Prabu Brawijaya selalu diperingatkan oleh kedua penasihat terdekatnya, Sabda Palon dan Naya Genggong. Tak kurang-kurang, Sabda Palon dan Naya Genggong, sebagai penasihat  Prabu Brawijaya, juga sudah memperingatkan agar momongan mereka ini berhati-hati, tidak gegabah. Namun, Prabu Brawijaya bagaikan orang mabuk, tak satupun nasihat orang-orang terdekatnya beliau dengarkan.

Di kalangan orang-orang Islam, diam-diam terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama yaitu kubu yang mencita-citakan berdirinya Ke-Khalifah-an Islam di Tanah Jawa, dan kubu kedua adalah kubu yang tidak menginginkan berdirinya Ke-Khalifah-an itu. Kubu kedua ini berpendapat, dalam naungan Kerajaan Majapahit, yang beragama Siwa-Buddha, umat Islam diberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadah agamanya. Bahkan, syari’at Islam pun boleh dijalankan didaerah-daerah tertentu.

Kubu pertama dipelopori oleh Sunan Giri, sedangkan kubu kedua dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Adipati Tuban Arya Teja, keponakan Sunan Ampel. Kubu Sunan Giri mengklaim, bahwa golongan mereka memeluk Islam secara kaffah, secara bulat-bulat, maka pantas disebut 'PUTIHAN' (Kaum Putih). Dan mereka menyebut kubu yang dipimpin Sunan Kalijaga sebagai 'ABANGAN' (Kaum Merah).

Bibit perpecahan didalam tubuh orang-orang Islam sendiri mulai muncul. Hal ini hanya bagaikan api dalam sekam ketika Sunan Ampel masih hidup. Kelak, ketika Majapahit berhasil di hancurkan oleh para militant Islam dan ketika Sunan Ampel sudah wafat, kedua kubu ini terlibat pertikaian frontal yang berdarah-darah.

Rencana busuk Dewi Amaravati, perpecahan kedua kubu orang-orang Islam, dan banyaknya permasalahan dari berbagai daerah bawahan Majapahit ternyata sangat merugikan dalam tubuh pemerintahan Majapahit. Khusunya Prabu Brawijaya. Dalam hal ini, Prabu Brawijaya berada di ujung tanduk; tampaknya ia sama sekali tidak menyadari kehadiran 'musuh dalam selimut' yang sangat membahayakan kedudukannya sebagai Rajadiraja Tanah Jawa. Namun, ditengah semua permasalahan yang menimpa, jejak-jejak militansi Islam mulai beredar dan pasukan telik sandi Majapahit mengendus hal ini.



Prabu DewatanegaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang