Anisa Frederica, si gadis penghuni rumahku yg ingin kuceritakan dan kugambarkan dalam ceritaku kali ini. Sebelum tau namanya, Aku biasa memanggilnya "neneng", tapi sekarang dia lebih ingin dipanggil "caca" saja. Bagaimana aku takut dengannya saat ini, jika parasnya saja membuatku ingin seperti dia. Hihi
Kau tau? Pertama kali aku bertemu dengannya dia cukup menyeramkan bagiku. Bagaimana tidak, rambutnya yg acak-acakan, matanya yg sembab, dan sering menunduk lalu menangis. Bagiku, itu cukup mengerikan karna aku belum terbiasa dengan 'mereka'. Tapi, lama kelamaan dia menunjukkan wujud aslinya yg semakin membaik.
Saat itu. Saat aku sudah memutuskan diri untuk mengenalnya, disanalah tergambar raut wajah yg senang dari dirinya. Mungkin, selama ini dia merasa kesepian dan merasa kehilangan, sehingga ia terus menangis sepanjang hari setelah sekian taun lamanya.
Caca yg kumaksud. Umurnya tetaplah 17 taun. Dia cantik. Ramah. Sopan. Lemah lembut. Ceria. Tingginya hampir sama denganku (158cm). Dia adalah gadis keturunan Jerman. Ibunya seorang wanita asli Indonesia dan Ayahnya adalah seorang pria asal Jerman.
Dia adalah putri satu-satunya yg paling disayang. Setiap hari Minggu, ia dan keluarganya suka pergi ke sebuah taman. Disana, mereka bermain, bercanda, tertawa bersama, semua hal yg membahagiakan bersama kedua orang tua dimasa kecil sangatlah membuatnya semakin sedih ketika mengingat masa-masa itu. Karena kini, ia sendiri. Tak memiliki siapapun. Dan semua itu tinggalah kenangan yg selalu ingin ia ulangi lagi bersama kedua orang tuanya.
Lalu? Dimana kedua orang tuanya?
Suatu hari, kedua orang tuanya pergi ke Jerman untuk urusan pekerjaan disaat Caca berumur 10 tahun. Saat itu caca tidak bisa ikut, karna ia harus tetap bersekolah disini. Akhirnya, ia tetap di rumah bersama kepercayaan kedua orang tuanya yg ia panggil Bibi. Bibi ini mempunyai seorang anak lelaki yg berumur 7 tahun saat itu, yg suka bermain juga bersama Caca dan sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Kedua orang tuanya berjanji akan segera pulang setelah urusan pekerjaannya selesai. Tapi, sampai bertahun-tahun lamanya, lebih tepatnya 3 tahum mereka tidak kunjung pulang juga. Tidak ada kabar dari keduanya di Jerman. Mereka tidak pernah kembali lagi sampai detik ini. Caca tidak tau bagaimana kabar kedua orang tuanya. Terakhir, ia mendapat berita bahwa kedua orang tuanya mengalami kecelakaan di Jerman saat usianya tepat 14 tahun. Mendengar kabar itu, Caca hanya terdiam lalu menangis. Ia tidak percaya bahwa ia akan selamanya hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya.
Caca merasa sangat terpukul atas kepergian kedua orang tuanya. Sepertinya, jasad kedua orang tuanya yg mengalami kecelakaan di Jerman pun tidak dapat ditemukan karna kendala tertentu. Kabarnya, mereka mengalami kecelakaan mobil yg cukup parah disana.
Semenjak itulah, Caca menjadi tinggal bersama keluarga Bibi itu yg tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dan ia sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
Bagiku ini adalah bagian yg membuatku sedih.
Bagaimana tidak. Hari itu adalah hari ulang tahunnya (31 Januari). Iya berharap kedua orang tuanya menelponnya dan mengucapkan ulang tahun. Namun sayang, telepon yg ia dapat malah kabar duka dari kedua orang tuanya. Sejak hari itu, Caca menjadi pendiam, pemurung, dan depresi. Disaat pulang sekolah, dimana anak-anak sebayanya asyik bermain, Caca pergi ke rumah tempat tinggalnya yg dulu. Rumah itu kini kosong, meninggalkan bekas kenangan yg tak dapat dilupakan oleh Caca. Hampir setiap hari, bahkan memang setiap hari sepulang sekolah, Caca hanya berdiam diri di teras rumahnya. Duduk di teras dengan berharap keajaiban datang. Ia tetap menunggu kedua orang tuanya pulang. Ia menunggu janji kedua orang tuanya yg berkata bahwa "mereka berjanji akan segera pulang jika pekerjaannya sudah selesai"
Mengetahui hal itu, sang Bibi pun merasa sedih. Ia sangat mengenal Caca. Ia adalah anak yg ceria, senang bermain, dan tak jarang ia selalu menghibur dan menyemangati teman-temannya. Tapi kini, ia seolah menjauh dari keramaian. Mencari ketenangan. Ia pun berjanji akan tetap menunggu kedua orang tuanya sampai akhir hayatnya di teras rumah ini. Caca hanya takut dan tak percaya, ia berpikir suatu saat kedua orang tuanya pasti akan menemuinya kembali di teras rumah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Crystal 1
ParanormalSejak kecil, aku tidak tau kalau mataku akan terus setajam ini. Awalnya aku tidak percaya "mereka", bahkan aku tidak takut ketika melihat "mereka" di usiaku yang masih kecil. . Kupikir, apa yg kulihat adalah kesalahan pada mataku. Sampai pada akhirn...
