#2 - Beranjak pada Kisah di Masa SD

7.5K 531 17
                                        

Apakah ini benar benar hanya halusinasiku saja seperti yg dikatakan kakak dan ibuku? Kalau ya, apakah aku setiap harinya berhalusinasi? Ataukah aku ini sebenarnya penakut sampai aku berhalusinasi seperti ini?

Ayah? Dimana kau? Apakah kau melihat "mereka". Ah, tapi ayah sedang sibuk bekerja. Aku tidak mau mengganggunya.

Sudah kuceritakan sebelumnya, aku tinggal disebuah asrama milik dinas. Disana, bisa dibilang tempatnya agak lembab, tidak besar dan tidak terlalu kecil. Semasa kecil, aku sering melihat ayah sibuk dengan pekerjaannya sehingga aku jarang bertanya kepadanya karna aku takut mengganggunya. Tapi, ayah selalu ada untuk mengantar dan menjemputku sekolah.

: Suatu hari disaat aku masih kelas 1 SD, saat itu waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Aku dikagetkan dengan melihat seorang ibu paruh baya yg cantik dan bersinar. Tapi, saat itu juga kakakku menangis dan berlari ke pojok kamar. Aku lalu mengejarnya ke kamar karna aku khawatir padanya. Ayah dan Ibuku masih mengaji di ruang tamu dan tidak tahu tentang ini.

Aku : kakak kenapa kak? (dengan wajah polos setengah panik)
Kakak : kakak tadi sehabis shalat melihat seorang ibu ibu putih tapi ia bersinar.

: Jujur aku bingung apa maksudnya saat itu. Tapi jelas saja, saat itu aku melihat ibu paruh baya itu ada disampingnya dan tersenyum kepadaku. Mungkinkah dia yg dimaksud kakakku?
Aku : oh iya, aku juga melihatnya kak.
Kakak : kamu juga melihatnya? (kakakku masih setengah menangis dan kaget mendegar itu)
Aku : iya, iya aku melihatnya (masih dalam posisi menatap wanita tersebut)
Kakak : iya, mungkin itu yg aku lihat tadi.
.......

Aku bingung, memangnya kenapa kalau aku melihat dia? Dan kenapa juga kakak harus menangis ketika melihat wanita itu? Apa ada yg menakutkan? Atau ada yg mengharukan dari pertemuan itu? Entahlah apa yg ada dipikiran kakakku. Tapi yg pasti, sepertinya wanita itu tidak berniat jahat. Dia terlihat baik, dan sepertinya tidak asing.

: Beranjak ke kelas 2 SD. Saat itu ibuku akan melahirkan di bidan dekat asrama dinas tempat tinggalku. Namanya bidan Juju. Saat itu hari Rabu malam ibu dan ayah sudah pergi ke bidan, aku dan kakak juga ikut menemani ibu ke bidan. Tapi ada yang aneh disana.
Hari ini malam Kamis, di bidan sangat sepi. Aku mau pulang saja. "Ayah, antarkan kami pulang" (kataku dan kakakku). Kebetulan saat itu karna tak ada yg mengurus aku dan kakak, ayah menelpon Tante ku yg rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Jadi, kami dirumah ditemani oleh Tante.

: Lalu aku dan kakakku pamit pulang kepada Ibuku. Ah tunggu, apa itu di jendela ventilasi kamar bidan? Aku diam dan menatapnya dalam dalam sambil menunggu ayahku berbicara kepada ibuku. Aku melihat sepasang mata merah menyala dari sana. Mungkinkah jika itu hanya lampu? Kenapa terlihat mengerikan. Aku mencari cari lampu merah yg menyala, mungkin saja itu hanya pantulan cahaya. Tapi tidak ada apa-apa. Sekarang mata itu melihat kearahku. Menyeramkan sekali. Tapi, aku mencoba berpikir ulang dan mengingat perkataan ibuku. "Apa yang aku lihat mungkin itu hanya halusinasi atau imajinasimu saja". Baiklah, lupakan tentang mata itu.

: Kini adik perempuanku sudah lahir. Sekarang, kita 3 bersaudara perempuan semua. Saat usia adikku 2 tahun, dia sering sekali menangis menjerit jerit tidak jelas, aku hanya berpikir itu hal yg wajar untuk anak anak. Tapi ternyata hal itu menyebabkan kedua orang tuaku memanggil seorang paranormal kerumah berkali kali. Astagaaa, Untuk apa. Sepertinya om sumur itu mengganggu adikku. Atau ada yg lain?

Paranormal : Bu, maaf anak ibu yg kedua ini jgn ada disini. Dia sensitif.
Ibu : maksudnya?
Paranormal : iya pokoknya setiap saya mulai mengeluarkan tenaga dalam dan berkomunikasi dengan makhluk lain, anak ibu yg nomor dua ini tolong jgn ada disini dan jgn lihat ini. Dia sensitif Bu.
Ibu : ohh gitu. Iya iya baiklah.
...
Ibu : Nayshi, kamu di kamar aja ya. Jangan disini, nanti kamu menghalangi.

: Kenapa? Kenapa hanya aku yg tidak diperbolehkan melihat? Kenapa aku harus disingkirkan setiap kali paranormal itu beraksi. Sepertinya ini tidak adil bagiku. Berkali kali paranormal itu beraksi dirumahku, aku mendengar dari dalam kamar dia mengeluarkan mantra entah bacaan do'a apa aku tidak tau, lalu ia dirasuki sehingga suaranya menjadi berbeda. Sebenarnya apa sih yg dia lakukan?
Hanya saja... Ada yg aneh dari dirinya. Setiap kali dia datang kerumah, aku selalu melihat dipundaknya ada monyet yg selalu mengikuti kemana ia pergi. Dulu, aku pikir itu memang hewan peliharaannya. Tapi, setelah aku bertanya pada ibuku. Ibu menjawab : Haha kamu ngaco, monyet darimana. Kamu liat di tv kali.

Kenapa aku jadi seperti orang konyol. Apa yg aku tanyakan sepertinya merujuk pada ketidakmasuk akalan. Sebenarnya siapa yg salah? Penglihatanku atau penglihatan ibuku? Sepertinya aku juga sudah bisa menebak, Ayah tidak tau soal apa yg aku lihat dan juga ayah tidak bisa melihat "mereka".

: Sepertinya adikku masih tetap saja menangis walau sudah dipanggilkan seorang paranormal dan ustad sekaligus. Aku hanya melihat sosok hitam legam yg menggagunya, mungkin itu om sumur yg kukenal. Dia tinggi besar, hitam legam, rambutnya panjang sebahu lurus tetapi agak kusut tak beraturan, wajahnya sedikit rata. Atau wanita berambut panjang sekali. Aku tidak pernah bilang tentang hal itu pada orang tuaku. Aku masih tetap berpikir kalau aku ini berhalusinasi atau berimajinasi dalam khalayan kanak-kanak. Itulah, kenapa sejak kecil aku tidak pernah takut dengan "mereka" dan apa yg terus kulihat. Karena aku, tidak menyadari "mereka".

: Atau, kisah di sekolah SD-ku. Sepertinya, sekolah sudah menjadi sarang bagi "mereka". Hari-hariku disekolah selalu banyak menjumpai "mereka". Tapi tetap saja, aku tak menyadari kalau "mereka" yg kulihat benar benar sungguhan. Aku hanya heran saja.

Temanku : Lariiiiiii.. Ada hantu di pohon sanaa
Teman yg lain : Aaaaaaaaaaa (mereka berlari)
....
Aku duduk saja memperhatikan mereka. Aku heran, apa yg mereka hindari? Mereka bercanda dan berlarian seolah-olah mereka dikejar hantu. Tapi, aku justru melihat mereka berlari menghampiri hantu tersebut. Ah tidak, mungkin mereka benar. Aku tidak bisa melihat hantu. Yg aku lihat, seorang kakek disana adalah salah.

: Atau, saat persami kelas 5 SD. Disaat api unggun, kita semua berdiri mengelilingi api unggun. Tapi, aku bingung. Disela-sela, diantara teman-temanku yg berdiri, disana banyak sekali sesosok wanita yg biasa disebut "kuntilanak". Aku sebenarnya kaget melihat itu. Ditambah di jendela ruangan kelas di pojok sekolah, aku melihat seperti ada guling. Ah, ada apa dengan mataku? Mungkin aku sudah terlalu mengantuk. Sudahlah, tak perlu diambil pusing.

Tapi, saat itu sampai kelas 6 SD, temanku bertanya kepadaku "kamu bisa lihat ,Nay?", dan kujawab "tidak bisa sama sekali". Mungkin ada beberapa teman sekelas di SD-ku yg menyadari perbedaan dari diriku. Sedangkan aku sendiri, tidak pernah menyadari itu.

Lalu sampai kapan? Dan bagaimana aku akan menyadari akan hal itu?
******

Indigo Crystal 1Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang