#19 - Dua Belas Ipa 8

3K 277 10
                                        


Sebelum bercerita lebih dalam lagi.
Aku akan menceritakan sedikit kisah selanjutnya di bangku SMA, yaitu di kelas 12. Dimana disini, aku benar-benar terbuka. Sudah tidak peduli dengan apa yg dipikirkan oleh orang lain tentang diriku. Setiap orang bebas berpendapat sesuai dengan apa yg mereka pikirkan. Aku tidak melarang mereka mengecapku aneh, atau lain sebagainya. Itu adalah penilaian mereka.

Tapi nyatanya memang tidak begitu, mereka semua menerimaku, tak ada diantara mereka yg menganggapku aneh atau apapun itu. Mereka berteman biasa saja denganku. Bahkan di kelas 12 ini, aku malah satu kelas dengan teman yg sesama indigo. Mereka adalah Raina dan Wening. Tidak hanya itu, ternyata mamahnya Juna dan Rika memiliki kepekaan juga terhadap 'mereka'. Dan disinilah, di kelas 12 ini aku merasa nyaman berada di lingkungan sekolah. Aku bisa sharing dengan mereka, bercanda tawa bersama teman-teman kelasku. Sudah benar-benar tak ada yg kusembunyikan lagi dari teman-temanku. Tapi terkadang, ada saja salah satu teman kelas yg mengatakan aku ini seperti dukun. Hmm, kuanggap itu hanyalah candaan. Mungkin dia tidak tau bedanya indigo dengan dukun. :(

Pernah suatu hari, kami yg sesama indigo disatukan di kelas untuk bercerita bersamaam dengan teman kelas lainnya yg penasaran dengan hal gaib. Aku, Wening, dan Raina saling berbagi kisah di masa kelas 10 dan 11, selama kami tidak sekelas melihat apa saja di lingkungan sekolah, selama persami, dan lain-lain. Ternyata penglihatan kami memang sama. Dengan begini, rasa tidak nyaman dan takutku menjadi semakin berkurang. Semakin hari, aku semakin terbiasa dengan kemampuanku ini. Tidak jarang juga Aku, Raina, dan Wening saat istirahat atau jam pelajaran kosong, kami malah memberikan dongeng untuk teman-teman kelas tentang 'mereka'. Saat itu aku ingat, Beni dan Bimbim temanku sangat ingin diceritakan tentang 'mereka', tapi mereka berdua ini penakut. Akhirnya aku dan raina menceritakan makhluk apa saja yg ada di sekolah. Alhasil, mereka malah panas dingin karena takut. Atau sebaliknya, justru diantara anak-anak lelaki lainnya ada yg sengaja pergi mendatangi dan memfoto tempat yg menurutku, Raina, dan Wening sangat seram.

Begitulah anak remaja. Terkadang, mereka suka menantang. Berkali-kali Aku dan Raina yg kewalahan untuk memarahi teman yg lain karena terlalu banyak bertanya tentang hal-hal gaib. Padahal, 'mereka' itu ada dimana-mana. Selama kita tidak mengganggu dan saling menghargai keberadaan 'mereka', maka 'mereka' tidak akan mengganggu. Tapi jika kalian menantang, ya tentu saja 'mereka' akan merasa terusik.

****

Ini adalah bagian akhir dari cerita di masa sekolah dimana aku sedang dalam proses membiasakan diri dengan kemampuam yg kumiliki.

Untuk cerita selanjutnya, aku akan membahas lebih dalam tentang kehidupan 'mereka' sesuai dengan pengetahuan dan penglihatanku karna setelah aku lulus dari bangku SMA, Aku sudah mengerti dan sedikitnya paham dengan kehidupan 'mereka'.

Karena di bangku kuliah, apa yg aku lihat, aku rasakan, dan aku dengar, semua indra ini semakin menajam, dan mau tidak mau aku harus menganalisa arti dari itu semua untuk mengambil hikmahnya dalam kehidupan sehari-hari.

Ada banyak hal yg ingin kusampaikan pada kalian, tak sebatas tentang 'hantu' saja. Tetapi tentang alam semesta ini juga, tentang gejala alam yg terjadi di sekitar kita.



----

Semoga kalian tidak bosan membaca kisahku.

Indigo Crystal 1Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang