Seongwoo, jomblo 23 tahun, anak orang kaya yang ga pernah susah dan selalu mobilan kemana-mana.
Seongwoo, si pembenci transportasi umum.
Seongwoo, yang jatuh cinta di pandangan pertama dan akhirnya bersedia naik KRL setiap harinya. Demi orang yang j...
"Pak, ga usah anter saya sampe Sudirman lagi." Seongwoo yang lagi benerin kemeja ngomong ke supirnya yang lagi bikin kopi.
"Loh kenapa mas?" Tanya pak Sumar, supir Seongwoo.
"Ga baik kebanyakan naik mobil. Kita harus mendukung program pengurangan macet pemberintah." Jawab Seongwoo.
"Tumbenan mas. Mas salah makan? Saya bilang ke Bapak sama Ibu nih?"
"Yee si Bapak. Saya udah dapet hidayah makanya jadi warga negara yang baik. Bapak juga jangan naik mobil terus." Seongwoo muterin badannya di depan cermin, lalu tersenyum puas begitu melihat penampilannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ga panas mas? Katanya ga mau pake mobil?"
"Kan di kereta ada AC." Jawab Seongwoo.
"Mas, kemarin mas kan naiknya jam setengah sebelas. Sekarang jam 7. Penuh mas." Pak Sumar mengingatkan.
"Sepenuh apa sih pak? Ga bakalan kaya orang rebutan sembako ini."
"Mendingan naik ojek online deh mas. Percaya sama saya."
"Ga mau pak. Nanti saya item kalo naik motor. Ngerusak gen bagus warisan Papa sama Mama aja."
Seongwoo cuma bisa melongo di peron kereta. Bener kata pak Sumar. Ini beneran beda banget sama kemarin waktu dia naik kereta. Seongwoo menghela nafas. Pasrah bakalan terjepit di lautan manusia.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ya ampun orang sebanyak ini?" Seongwoo menghela nafas sebelum menceburkan dirinya ke lautan manusia.
Ikut berdesak-desakan diantara ratusan manusia yang saingan buat dapet tempat di dalem kereta. Seongwoo pasrah tubuh kurusnya terlempar sana-sini.
Mau gimana lagi. Kadang angin kenceng sedikit aja Seongwoo limbung. Makanya kadang kalo jalan dari rumah, tasnya Seongwoo suka diisi Mamanya pake batu bata satu. Biar anak sulungnya ga ilang kebawa angin katanya.
Bener aja, begitu masuk ke lautan manusia, Seongwoo terbawa arus. Dia harusnya ke arah Tanah Abang buat transit sebelum lanjut naik kereta arah Depok atau Bogor. Tapi sekarang dia justru di bagian kereta arah Rawa Buntu.