Seongwoo, jomblo 23 tahun, anak orang kaya yang ga pernah susah dan selalu mobilan kemana-mana.
Seongwoo, si pembenci transportasi umum.
Seongwoo, yang jatuh cinta di pandangan pertama dan akhirnya bersedia naik KRL setiap harinya. Demi orang yang j...
Jadi kemarin sore, Seongwoo ga bisa pulang bareng sama si mas ganteng. Alesannya, Seongwoo meeting sama klien dan baru selesai sampe malem, sedangkan si ganteng itu.
Minhyun Faeyza Alister.
Nama panggilan, Minhyun. 23 tahun. Kerja di bank Korea yang berkedudukan di Indonesia. Soalnya doi ada keturunan Korea.
Dia ahli IT di bank itu.
Iya. Seongwoo udah tau lumayan banyak soal orang yang bikin dia mau desek-desekan naik kereta.
Dan yang paling penting, nomornya udah ada di dalem ponsel kesayangan Seongwoo. Hebat kan?
Bukan. Bukan Seongwoo yang minta nomer. Minhyun duluan.
Hah! Iri kan kalian? Iri? Jangan iri kalo belum sebening Seongwoo. Main air bekas hujan aja sana kalian. Jangan sok mau rebut Minhyun dari Seongwoo.
Seongwoo udah nyengir aja ngeliatin layar ponselnya yang menampilkan foto profil Minhyun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rela deh Seongwoo rela tiap hari kejepit di kereta juga. Yang penting udah ada yang jagain. Yang penting udah punya pendamping.
...
...
...
Belum deng. Pendamping apanya. Chat aja cuma kemarin buat ngasih tau kalo ga bisa pulang bareng.
Dan cuma dibaca sama Minhyun.
Mengheningkan cipta, mulai.
"Mas, kamu kenapa sih libur kok bengong aja. Kerjaan lagi?"
Seongwoo nengok, mamanya berdiri di ambang pintu, berkacak pinggang.
Iya, Seongwoo hari ini balik ke rumah orang tuanya di Pondok Indah. Dia biasanya pulang seminggu sekali. Weekend. Paling ga sebulan sekali.
Pernah Seongwoo ga pulang satu bulan lebih satu jam. Jam berikutnya, mamanya udah mendobrak pintu apartemen Seongwoo. Khawatir anaknya kena serangan jantung atau mendadak hilang ingatan sampe lupa mama sama adeknya.
Papanya mah emang jarang dirumah. Pilot, maklum.
"Ga ma. Kenapa?" Tanya Seongwoo.
"Temenin mama ke pasar dulu yuk. Si adek keluar. Main sama temennya." Mama Seongwoo mengeluarkan titahnya. Dan pastinya, ga boleh dibantah.
"Abang lagi sakit punggung Ma. Kemarin Abang naik kereta." Keluh Seongwoo.
"Coba Mama periksa sini. Ya lagian kamu sih Mas, badan kamu sama tali jemuran aja lebih berisi tali jemuran. Masih aja coba naik KRL." Si Mama periksa punggung Seongwoo. Mama Seongwoo dulunya dokter sebelum jadi direktur rumah sakit.
"Gatau ma. Abang pengen aja."
"Mas, kowe ki jowo lho. Mbok gelem dipanggile Mas. Ngopo Bang Bang koyo ngono? Bapak ibumu ki wong jowo. Mbah mu yo jowo. Kowe ki ngopo ra gelem dipanggil Mas?" Translate: mas, kamu ini jawa lho. Mau lah dipanggil Mas. Kenapa Bang Bang kaya begitu? Bapak ibumu tuh orang jawa. Kakek nenekmu juga jawa. Kamu tuh kenapa ga mau dipanggil Mas?