Chapter 4 : Global Epidemic

76 11 4
                                    

Kami berkendara mengintari markas. Markas ini lebih luas dibanding di New York. Markas ini terletak di San Antonio, tempat penelitian Virus X. Mobil militer ini berkendara menuju gedung besar. Sepertinya itu Lab penelitian mereka. Aku benar-benar bingung, apa yang sebenarnya terjadi, begitu pula adikku, terlihat dari raut wajahnya.

"Dr. Walter Jameson Creek, Michael William Creek, ikut kami." Kata salah satu prajurit berbaju hitam sambil menatap kami bergantian.

Kami memasuki gedung, seperti Lab penelitian. Kami berjalan menyusuri lorong. Salah satu tanda mengatakan, "DILARANG MASUK", sepertinya mereka meneliti Mutan-mutan itu. Kami masuk ke salah satu ruangan, pintunya berlapis baja, dengan jendela Fiberglass di pintunya. Suara erangan terdengar dari dalamnya, terdengar tidak asing, sepertinya itu suara mutan.

"Silahkan masuk, kau ditunggu Professor Green didalam." Kata tentara berbaju hitam tadi sambil menatapku tajam.

Akupun melangkah masuk. Ternyata benar, mereka meneliti mutan. Ditengah ruangan terdapat ruang pengamatan, sepertinya mereka menelitinya didalam. Seseorang dengan jas lab menghampiriku dengan raut wajah lesuh.

"Dr. Creek, perkenalkan, namaku Patrick Green." Katanya sambil mengulurkan tangan selaku menyapaku.

"Prof. Green, Senang bertemu denganmu." Jawabku sambil bersalaman. "Sebenarnya ada apa kau memanggilku?"

"Aku tahu kau bingung, kau pasti mengenal Ben, ia keponakanku, terbunuh saat ledakan Lab Newer." katanya sambil membalikkan badan. "huh, aku bahkan tak mengerti asal-usul Virus mengerikan itu."

"Virus itu berasal dari Zimbabwe, Afrika Selatan." Jelasku pada Prof. Green

"Apa?!" Katanya sambil langsung membalikkan badannya.

"Saya sendiri yang melakukan ekspedisi ke sana. Konon warga Afrika menyebut yang terinfeksi dengan sebutan 'Vervloek' yang artinya terkutuk."

"Virus itu sudah beredar selama 1 tahun di Afrika Timur, korban akan merasakan pusing berat, kerabunan, hingga muntah darah disertai ketidaksadaran diri yang berujung menjadi ganas dan tidak terkendali. Bahkan mereka diikat dengan tali tambang dan dikurung di kandang bambu warga setempat." Jelasku

Raut Wajah Prof. Green berubah, alisnya melebar seolah tidak percaya.

"Berarti benar, Virus itu berasal dari sana, dan sepertinya Virus itu lama kelamaan menguat." Kata Prof. Green dengan wajah yang serius. Ia menghembus nafas panjang.

"Maksudnya?" Tanyaku tidak mengerti.

"3 tahun lalu, aku menemukan semacam Virus, mirip dengan Virus X sekarang, tapi hanya ada di hewan tertentu, salah satunya di sapi. Kau tahu? hewan-hewan yang terinfeksi menjadi kehilangan kesadaran dalam kurun waktu 2 hari. Setelah itu, hewan-hewan itu seperti mengalami koma 1 hari, kemudian berontak di kandangnya. Penyakit itu ditemukan di peternakan setempat di Brussels, Jerman." Katanya sambil menatapku tajam. "Aku tidak yakin, bagaimana virus itu berpindah ke Zimbabwe, tetapi sepertinya sapi yang aku teliti didistribusikan ke sana, menyebabkan konsumen daging itu terinfeksi."

"Dan sepertinya virus tersebut lama kelamaan berevolusi, menyesuaikan diri dengan kondisi kering dan gersang, sepertinya cocok dengan USA secara tidak langsung." Kataku dengan menatap serius Prof. Green

"Ini bahkan lebih buruk dari dugaanku." Jawab Prof. Green sambil mengehembuskan nafasnya dengan berat.

"Kita perlu melakukan lebih banyak penelitian, Professor, dengan WHO."

Untuk kesekian kalinya aku tahu bahwa ini telah menjadi ancaman terhadap kehidupan dunia. Pemerintah AS sudah melakuakn pertemuan di Washington DC beberapa waktu lalu. PBB dan WHO menyatakan bahwa Virus X adalah ancaman bagi dunia. Suatu wabah mematikan yang berpusat di Afrika Selatan, penelitian lebih lanjut oleh WHO akan dilakukan beberapa waktu lagi.

Virus X telah menyebar di sekitar AS bagian Timur, bahkan hingga Washington DC. Pemerintah AS melakukan Karantina di sekitar wilayah tersebut yang sekrang dikenal dengan 'Black Zone'. Pemerintah Kanada juga melakukan pengamanan dan karantina di daerah perbatasan bagian timur dengan AS. Entah bagaimana Virus itu bisa menyebar dengan cepat, yang jelas, Dunia hanya berharap pada satu, "Kesembuhan".

...

1 bulan kemudian

Pagi itu seperti biasa, udara terasa lembab akibat perubahan iklim akhir-akhir. Langit cerah terlihat dari balik jendela kamarku. Terlihat menerangi seisi kamar yang berukuran 4 x 4 meter itu. Aku pergi keluar kamar, ke dapur. pintu kamar Mike terletak disamping dapur, tepat disamping jendela ruangan ini. Semenjak evakuasi 1 bulan lalu, aku bersama Professor Green melakukan penelitian lebih lanjut wabah dunia ini, disertai pihak WHO. Sementara Mike, kehidupannya berubah 180 derajat. Ia bergabung dengan militer semenjak 2 minggu lalu. Pelatihan intensif khusus diterapkan kepada pemuda 18 tahun - setengah peretas - itu.

Aku bergegas bersiap-siap, Penelitian yang akan dilakukan bersama pihak WHO di Afrika Selatan akan dilakukan jam 7 nanti. 4 unit Pesawat militer Boeing V-22 Osprey akan menjemputku beserta Professor Green, 4 peneliti WHO, dan tentara AS.

"Dr. Creek, pagi yang cerah untuk memulai penelitian, ya kan?" Sapaan Mike dengan senyum sarkastiknya.

"Sergeant Michael. Apakah tidak terlalu muda bagimu begabung dengan kemiliteran?" Balasku dengan sarkastik mengejeknya yang memakai baju loreng dengan bergaya.

"Aku luluslebih cepat. kelas akselerasi di SMP dan SMA juga pendidikan dasar diusia 16 tahun hingga 18 tahun. Sepertinya itu masuk akal." Balasnya dengan jawaban ngawur, lagi-lagi aku kalah bicara.

Aku berjalan menuju lapangan penerbangan kecil di sebelah hangar tadi. Aku berangkat dari gedung tempatku tinggal menggunakan mobil militer tadi. Aku melihat Prof. Green duduk di sebelah kanan sayap pesawat. Sambil membawa tas ransel berisi baju dan laptopku, aku berjalan kesana, pesawat sepertinya akan berangkat sebentar lagi. Para peneliti terlihat masih berjalan dari hangar menuju pesawat lainnya.

"Professor, sepertinya ini akan menyenangkan." Sapaku sambil menaruh tasku di jaring barang bawaan diatas tempat duduk.

"Sepertinya. dan kau membawa tambahan Bodyguard kesini." Jawabnya sambil menatap Mike setelahnya.

"Heheh, dan aku turut berduka cita atas Ben, Ia dan aku sering bermain bersama di semasa hidupnya, sungguh pengalaman yang menyenangkan." Mike tertawa kecil, kemudian memasang wajah Respect atas Ben.

Pesawat mulai lepas landas, tidak menggunakan lepas landas biasa, melainkan seperti helikopter. Baling-baling di sisi samping sayap dapat berubah menjadi baling-baling helikopter untuk melakukan lepas landas vertikal, juga diubah menjadi pendorong pesawat.

2 jam berlalu, kami memasuki daerah pesisir. siang itu gelap sekali, gemuruh awan bertabrakan berbunyi kencang sekali. Kami memasuki daerah Republik Congo, disitu hampir semuanya hutan, dapat dilihat dari jendela pesawat. Langit semaki gelap, pesawat sesekali berguncang, menerobos awan abu-abu.

CTAAAARRRRR!! Alarm pesawat langsung berbunyi kencang. Barang-barang didalam pesawat seketika berceceran dilantai, akibat guncangan dahsyat

"PEGANGAN! KITA AKAN MENDARAT DARURAT! MAYDAY FOX 3 JATUH!" Suara pilot terdengar dari kokpit.

Suasana sangat menegangkan. Pesawat terjun bebas dari ketinggian 12 ribu kaki. Terdengar Pilot dan Kopilot berusaha menyeimbangkan peswat hingga akhirnya

DAAAARRRRR! Pesawat mendarat di hutan lebat wilayah Congo. Bagian depan pesawat remuk, juga Pilot dan Kopilot, tergencit tembok sepenuhnya, juga sayap kanan dan kiri. Menyisakan tabung berisi 5 orang, Mike, Professor Green, Aku, dan 2 tentara lainnya bergantung terbalik setengah sadar akibat benturan keras yang terjadi.

"Kalian tidak apa-apa?" Tanyaku sambil menatap sekitar.

"Sepertinya ada mutan dibawah sana." Tunjuk Prof. Green kearah bawah, menunjuk kearah, MUTAN?!

Sial, kita dalam bahaya.


CURETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang