Author POV
Sebelum berangkat ke Brazil, Stephen memutuskan untuk datang ke kampus dan menemui Ben sambil mencari keberadaan Halsey jika bertemu dengannya di dalam trem.
"Stephen!" Ucap Ben menghampiri Stephen.
"Kau jadi berangkat hari ini?"
Stephen pun mengangguk sebagai jawaban.
"Semoga beruntung ya, kawan, jika hari ini tidak ada kuliah, pasti aku datang mengantarmu ke bandara."
"Jangan khawatir, kawan, kan masih ada Shabby sama Mamaku."
Ben pun mengangguk.
"Sebenarnya aku bisa saja tidak ngampus hari ini untuk menemanimu ke bandara, tetapi mengingat dosen yang mengajarku nanti adalah Prof. Harrick nan super killer, aku mundur. Karena kau tahu saja hukuman apa yang dia berikan padaku jika aku bolos."
"Prof. Harrick? Dia memang gila."
"Sangat gila. Udah killer, tugas dari dia banyak banget lagi, sedangkan waktu yang dia kasih terlalu sedikit, dia pikir kerjaanku cuma mengerjakan tugas dari dia apa." Kata Ben hanya bisa mengeluh.
"Prof. Harrick kalau ngasih tugas emang nggak pernah mikir, kalau menghadapi dia, sabarnya harus sampai ke tulang."
"Emang Iya. Rasanya aku ingin membelah tubuhnya menjadi dua lalu menenggelamkan mayatnya ke tengah laut."
"Untung aku udah terbebas dari dia." Jawab Stephen nyengir.
"Ngomong-ngomong apa kau sudah mengembalikan diary milik Halsey? Tadi aku dapat beberapa info tentangnya."
"Info apa?"
"Tunggu dulu, karena aku pelupa jadi aku mencatatnya di dalam handphone-ku." Gumam Ben nyengir.
"Astaga, Ben, belum tua sudah pikun, apalagi kalau udah tua, pasti amnesia nih." Stephen pun terkekeh.
Ben malah terus nyengir dan langsung mengambil handphone-nya dari dalam tas.
"Jadi, nama lengkapnya Halsey Madison, dia-"
"Sudah tahu." Potong Stephen.
"Eh dengarin dulu, woy."
"Iya, iya."
"Dia datang dari London ke sini buat ikut sebuah penelitian di kampus sebelah. Baik. Cantik. Pintar. Berbakat. Tapi resikonya satu, Steph, dan yang satu itu menurut aku fatal banget."
"Apa?"
"Feminist. Dia itu cewek feminist."
"Ya bagus lah kalau dia feminist. Berarti dia perempuan yang mandiri."
"Astaga. Kau tahu sendiri, kan, resiko punya pacar feminist?"
Stephen malah geleng-geleng kepala.
"Makanya jangan bego. Kebanyakan wanita feminist itu benci sama laki-laki, tidak suka sama pekerjaan rumah tangga, dan, yang lebih parahnya lagi, kebanyakan dari mereka tidak ingin menikah."
"Sembarangan saja kau Ben, mana ada perempuan yang tidak ingin menikah. Setiap wanita pasti ingin memiliki keturunan."
"Iya. Tetapi hal itu berbeda dengan wanita feminist, mereka memiliki sifat independen. Mereka mengira kalau mereka bisa mengerjakan segalanya sendiri. Jadi tidak perlu lagi keberadaan kita-kita nih."
"Kau tahu dari siapa?"
"Dari Nitsa."
"Nitsa? Nitsa mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hey Stephen! - [Telah Terbit]
FantascienzaPesawat yang ditumpangi Halsey dan Stephen mengalami kesalahan jalur, dan secara tak sengaja melewati area terlarang yang dinamakan segitiga bermuda. Pesawat tersebut pun menghilang dari permukaan bumi sedangkan area segitiga bermuda malah membawa m...
![Hey Stephen! - [Telah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/141034030-64-k656736.jpg)