"Kak Ezaa, bangunnnnn!" Teriak seorang wanita memakai seragam putih abu dengan rambut yang dikuncir dua mengguncang tangan Kakaknya yang bernama lengkap Reza Riansyahputra.
Lelaki yang bernama Reza itu menggeliat sebelum pada akhirnya membuka kedua matanya lalu terduduk "Mau kemana lo pake baju sekolah?" Tanyanya masih dengan wajah mengantuk.
Wanita yang bernama Nadya saja mendengus kesal "Sekolah lah Kak. Masa iya mau ke Afrika! Cepetan mandi, masih ada setengah jam lagi buat nyampe ke sekolah. Gue gak mau terlambat dihari pertama gue masuk sekolah. Mamah sama Papah udah nunggu buat sarapan!" Ujar adiknya.
Reza kembali mengambil selimbutnya yang berada diujung kaki, lalu merebahkan kembali badannya dengan selimbut yang menutupi "Lo berangkat bareng Papah aja, gue sekolahnya besok. Bilangin ke gurunya, otak gue belum siap buat mikir!" Ujarnya lalu memejamkan mata.
Nadya menyibakan selimbut Kakaknya, yang sama sekali tidak terganggu oleh kegiatannya "Kak Ezaa ihh, gue serius gila... Gue bilangin Kak Lani biar lo diputusin. Mampus lo!" Ujar Nadya hendak menelpon seseorangan yang bernama Lani yang merupakan pacar tersayang Kakaknya.
Sontak Reza terbangun lalu merebut handpone yang dipegang Nadya "Gigi tupai lo, maennya aduan. Kagak asik! Pergi lo sono, lo mau nungguin gue mandi disini?"
Nadya terkekeh melihat sikap Kakaknya yang selalu kicep jika bersangkutan dengan Lani. Entah jampi jampi apa yang diberikan Lani hingga Reza sampai kelimpungan jika ada yang mengadukan sikap buruknya kepada Lani. Reza hanya ingin terlihat baik dimata pacar terkasihnya itu.
"Yaudah mandinya cepetan, Kasihan Mamah sama Papah udah nunggu!"
"Daripada lo nunggu gak jelas mending beresin kamar gue. Lo gak mau kesiangankan karena gue ngeberesin kamar dulu!" Ujar Reza sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Reza kembali lagi lalu terkekeh melihat wajah cemberut adiknya "Beresin ya Adekku yang cantiknya melebihi keong racun" ujarnya seraya mencubit pipi Adiknya gemas lalu mengambil ikatan rambut yang dipakai adiknya untuk menguncir dua, Reza berlari kedalam kamar mandi dengan ikatan rambut yang dipegangnya, takut Adiknya mengamuk macam kerbau marah.
"Eza ngapain iket rambut gue dibawa! Ikan badut dasar, lo beresin kamar lo sendiri. Dasar Kakak durjana, mati lo keselek air didalem" Teriaknya kesal, jika sudah kesal maka embel embel Kakak akan hilang dari tempat asalnya.
***
Reza duduk dikursi yang kosong, lalu membagikan cengirannya kepada semua anggota keluarga yang ada dimeja makan. Sebelum mengambil tempe goreng krenyes kesukaanya. Dia sudah rapi menggunakan seragam putih abu yang dibalut dengan jaket hitam miliknya.
"Selamat pagi Mamah, Papah dan Adiku yang cantiknya melebihi cabe inul dipasar" sapanya yang membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala dan Adiknya yang mendengus kesal mendengar ucapan Adiknya.
"Tadi keong racun, sekarang cabe inul, nanti apaan hah tembok Cina?" Ujarnya berapi api.
Reza terkekeh "Boleh juga Adiku yang Cantiknya melebihi tembok Cina. Jangan marah marah! Btw, lo mau tua sebelum waktunya!"
"Wajah gue dong setiap harinya selalu memuda, bukan menua kaya lo!" Lanjutnya yang membuat Nadya semakin kesal.
Abangnya yang satu ini memang pantas untuk ditenggelamkan, dia akan meminta Susi nanti untuk menenggelamkan Kakak durjananya ini di laut bebas.
"Dihh Kura kura ninja. Umur 150 tahunan aja bangga! Gue dong baru 14 tahun" bangga Nadya menepuk nepuk keningnya. Dia sudah bosan jika harus menepuk dada dengan bangga. Dia akan dengan sangat bangga jika menepuk keningnya.
"Yee bocah aja bangga. Anak Anoa dasar!"
"Anak Anoa. Terus Mamah apa? Ibunya Anoa" getok Fini Ibunya menggunakan centong nasi yang memang duduk disebelah Reza.
Reza menyengir "Bercanda Mah. Mamah cantik gini emangnya mau disamain sama Anoa? Kalo mau, ayo kita fotbar sama Anoa. Kita liat Mamah ada kemiripan gak sama Anoanya." Ujarnya terkekeh mengundak tawa dari Ayahnya.
"Ide bagus itu Za. Papah juga selama ini curiga kalo Mamah kamu itu kembarannya Anoa" ujar Renaldi Ayahnya ikut menimpali. Dia sangat senang jika sudah beradu mulut untuk meledek Istrinya ini.
"Wahh Mahh parah Mah. Suruh tidur diluar aja Mah Papah, Kak Eza tendang dari sini ke Afrika. Biar tenang dan damai hidup kita Mah" ujar Nadya membela Mamahnya.
Renaldi terkekeh "Mana bisa Mamah kamu jauh jauh dari Papah, ditinggal ke kamar mandi sebentar aja dia mau ikut" ledeknya kembali membuat Fini mengerucutkan bibirnya.
"Noh Pah!Mamah udah siap dicium, bibirnya dimonyongin gitu!" Gelak tawa terdengar dari mulut Reza.
Mamahnya berdiri "Jangan pada makan kalian, Sana berangkat!" Ujar Mamahnya ketus seraya berpura pura membereskan lauk pauk makanan yang ada dimeja.
"Ehh ehh, janganlah Mah. Papahk an bercanda sayang. Kamu gitu aja ngambek! Nanti malem siap siap begadang ya kalo marah marah!" Ujar Renaldi membujuk Fini dengan mengelus lembut tangan istrinya yang sedang mengambil lauk makanan.
"Begadang ngapain Pah? Jangan bikin Adek mulu, satu aja udah repot apalagi kalo nambah" peringat Reza membuat Fini melotot kearahnya.
"Dihh, siapa juga yang mau punya Kakak kaya lo! Micin aja masih jauh lebih bagus daripada lo" ujar Nadya mengebu gebu seraya memakan nasinya.
Reza berdecak menggelengkan kepalanya dramatis "Ini nih calon generasi micin! Gak ada bagus bagusnya" ujar Reza sebelum meminum susu Coklat kesukaanya.
"Berisik lanjut Makan. Kalian udah tau kesiangan malah debat mulu!" Peringat Mamahnya yang sudah kembali duduk seperti biasa, suaminya sangat pintar membujuk.
Sontak ucapan Ibunya membuat Reza dan Nadya membulatkan matanya, lalu Nadya secepat kilat menghabiskan makanannya, berbeda dengan Reza yang malah terlihat santai setelah tadi menampakan wajah terkejutnya.
"Mamah kenapa gak bilang daritadi, kalau aku kesiangan gimana?" Omel Nadya dengan mulut penuh makanan.
"Ya dihukum sayang. Masa iya dikasih uang jajan" kekeh Renaldi melihat anak anaknya yang kelimpungan.
"Paling digantung di tiang bendera. Gak papa kali nyet, itu lebih bagus daripada digantung di Monas" ujar Kakaknya ikut menimpali.
Nadya yang makanannya sudah habis lalu berdiri menyalami tangan kedua orangtuanya, sebelum pada akhirnya menggiring Kakaknya keluar rumah yang sedang asik meminum susunya.
"Bentar woyy, gelasnya masih gue pegang!" Pinta Kakaknya yang tidak digubris oleh Adiknya.
Nadya mengambil gelas yang dipegang Kakaknya lalu menyimpannya diteras depan "MAH GELAS KAK EZA DILUAR, DIA MALES NGEMBALIIN GELASNYA KE DALEM!" Teriak Nadya membuat Reza berdecak dan membuat kedua orangtuanya menggelengkan kepala melihat kedua anaknya.
***
Halove💞 Mudah mudah suka ya Say💋
YOU ARE READING
Teza
Teen FictionIni bukan cerita tentang seorang Player yang mengejar incarannya yang susah untuk ditaklukkan. Bukan pula tentang seorang Lelaki kaya raya yang mencintai wanita biasa saja. Ini hanya cerita tentang Tessa dan Reza. Kedua manusia yang bernafas denga...
