CHAPTER 8 IKATAN DENGAN PEREMPUAN BIRU ITU

69 1 2
                                    


......

Sebuah sentuhan halus membelai rambutku, berhasil membangunkanku dari tidurku, tubuhku berat, layaknya sedang tenggelam dalam genangan air, tak lama kusadari saat ini sedang berbaring dengan kepalaku berada di pangkuan seseorang.Samar-samar dapat kulihat wajahnya, wajah perempuan biru itu, rambut pendeknya yang sebiru samudra walau cukup panjang untuk menutupi mata kanannya, mata kirinya yang berwarna biru muda, kulitnya yang putih pucat nampak seperti mutiara walaupun sedikit terkena kotoran, Ia menatapku dalam, sesekali menyentuh hidung, telinga, mata atau bibirku.

Tunggu, bagaimana caranya mataku bisa sembuh? Jangan-jangan dia betul betul pengguna Warna Perak atau Putih? Apa yang terjadi dengan Taraksa? Dan lagi di mana aku sekarang?bagaimana dengan Ana dan Ani!? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku, sementara tubuhku tak dapat kugerakkan sama sekali karena saat ini ada genangan air yang menyelimuti tubuhku dari leher sampai kaki.

Perempuan itu membelai rambutku pelan, sebuah senyuman kecil mengembang di wajahnya.

'tenang saja, adik-adikmu sudah aman..'

Suara itu kembali terdengar, suara yang membantuku menghadapi Taraksa, suara indah itu.Pipi perempuan itu sedikit merona merah,

'Terima kasih.'

Aku sedikit kebingungan melihatnya, bibirnya tak bergerak sedikitpun, tapi aku yakin jelas mendengar suaranya.Apa ini telepati?

'Ini karena Ikatan kita..'

'Ikatan? Maksudnya?'

Aku mulai mencoba berbicara dalam hati.

'Kau dan Aku, kita berdua telah ditakdirkan membuat Ikatan'

Aku memikirkan sejenak apa maksud Ikatan itu sebenarnya.Kemudian wajahku merona ketika sedikitnya memahami maksud Ikatan tersebut.

'Ma-maksudmu kau dan aku...'

Iya kembali tersenyum kecil,

'Iya, kau dan aku telah ditakdirkan untuk membuat Ikatan, atau bahasa mudahnya adalah kau dan aku telah ditakdirkan untuk menikah, Sang Pahlawan Garuda, hehe'

Okeh, dia bahkan sudah tah kalau aku ini Pahlawan Garuda, saat ini aku betul-betul tidak tau harus bicara apa.Baru beberapa minggu yang lalu aku dibangkitkan lagi walau dalam wujud anak-anak ini, dan sekarang aku tiba-tiba sudah punya calon istri.Entah apakah ini adalah bagian dari rencana 12 Kesatria Bintang, atau apa aku benar-benar tidak tau.

"...Ka...Kak..."

Sebuah suara kecil menyadarkanku dari lamunanku, sebuah suara kecil yang sangat kurindukan, suara kedua adikku yang tak kusadari ternyata berbaring di sampingku sedari tadi.Sepertinya mereka masih tertidur, fiuh syukurlah mereka baik-baik saja.Sedikit terlambat kusadari ternyata ada sekitaran sepuluh anak laki-laki dan perempuan yang berada di sekitar kami, sepertinya mereka juga korban penculikan Taraksa.

Kuterawang tempat ini dengan baik-baik, hnn, sepertinya kami sedang berada di dalam sebuah gua, beberapa kristal menghiasi dinding gua itu, sekaligus memberikan cahaya pada gua tersebut, kami semua saat ini sedang berada di tumpukan jerami yang lembut sepertinya.

"Hooh, Kau sudah bangun ya, Garuda?"

Suara yang terasa tak asing, aku yang saat ini masih berada di pangkuan perempuan biru itu, kembali menerawang sekitar, guna menemukan sumber suara itu.Perempuan biru itu menyentuh pipiku pelan, mengambil perhatianku kemudian menunjuk ke arah seseorang, atau lebih tepatnya seseekor Serigala Putih yang sudah nampak tua, dengan telinga kirinya yang sudah tidak ada.

Aku berpikir sejenak, sebelum akhirnya menyadarinya,

"Ca-Cakara..?"

"Hohoho, ternyata kau masih ingat padaku ya, Garuda.."

GARUDA : kembalinya Sang PahlawanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang