CHAPTER 4 WARNA

83 6 6
                                    


SET..ZAP!!

Fuh, kuhela keringat yang menetes dari keningku.Saat ini aku sedang memotong kayu bakar dengan kapak untuk Ibu.Yah, aku mulai terbiasa memanggilnya Ibu, dan faktanya ialah sendiri yang menyuruhku memanggilnya Ibu.Mungkin Aku sudah diangkat menjadi anaknya, haha.

Sudah seminggu penuh aku berada di tempat ini,pada pagi hingga siang hari, aku menghabiskan waktu dengan membantu Ibu dengan memotong kayu bakar seperti sekarang ini, sesekali aku membantu Ibu, Ana, dan Ani bercocok tanam atau berkebun di depan gubuk atau rumah kami.

Sementara pada sore harinya aku pergi bermain dengan Ana dan Ani, mereka sangat senang bermain petak umpet dan kejar-kejaran di sekeliling desa.Mereka juga kadang kadang mengajakku berkeliling di desa Daun ini.

Desa Daun merupakan tempat yang indah dan hijau, karena hampir semua penduduk desa ini bekerja sebagai petani.Hamparan sawah yang luas ditambah dengan segarnya udara disini membuat tempat ini sangat bagus untuk anak-anak.Namun ada hal yang sedikit menggangguku disini, entah kenapa kurasa sangat sedikit anak-anak yang kulihat di sekitaran desa ini.Kalaupun ada, mereka biasanya ditemani oleh kakak, atau orang tuanya.

"Ana, Ani, kenapa hanya ada sedikit sekali anak-anak di desa ini?"

Tiba-tiba wajah mereka menampakkan ekspresi ketakutan.Mereka berdua kemudian berjalan disamping kanan dan kiriku dan lalu mengenggam kedua tanganku.

"A-Ada monster yang suka menangkap anak-anak.."

"Ka-katanya monster itu su-suka makan anak-anak.."

Aku dapat merasakan genggaman mereka berdua semakin erat, sepertinya mereka juga takut dengan monster itu.Ana lalu menoleh kearahku.

"Ta-tapi kami tidak takut dengan mo-monster itu!"

Ucap Ana berusaha terdengar berani walau dapat jelas terlihat kakinya gemetaran, aku hanya tersenyum kecil.

"Kalau begitu, nanti kalau monsternya muncul, Kakak dan Ani akan bersembunyi di belakang Ana saja ya..."

"E-Eh! Ma-maksudku serahkan pada Ana!"

"Haha, iya iya..."

Tawaku pelan.Hnn, cepat atau lambat aku sepertinya harus membereskan monster ini apabila ia muncul lagi, agar anak-anak di desa ini bisa bermain sesuka hati mereka dengan aman tanpa ada teror seperti ini.

......

Pada malam harinya, aku akan menceritakan kisah Sang Pahlawan Garuda atau kisahku sendiri pada Ana dan Ani, terkadang Ibu juga ikut ikutan mendengarkan ceritaku.Ketika Ibu bertanya bagaimana aku bisa tau banyak kisah mengenai Pahlawan Garuda, aku dengan terpaksa harus berbohong lagi dengan mengatakan bahwa aku sering mencuri dengar kisah kisah tersebut pada saat jadi budak dulu.

Aku baru saja hendak menceritakan kisah mengenai pertarunganku, Pahlawan Garuda melawan Naga Krakatau, namun di potong oleh pertanyaan dari Ani.

"Kak, apa Ana dan Ani juga bisa memiliki 'Warna' seperti Pahlawan Garuda?"

Aku mengangkat sebelah alisku, kebingungan dengan pertanyaan itu.Aku tidak ingat ada istilah 'Warna' 100 tahun yang lalu.Apa mungkin maksudnya adalah Aura? , hnn, lebih baik ku tanyakan saja.

"Err... Ani, Kakak boleh tau 'Warna' itu apa?"

Entah kenapa, Ani yang biasanya terlihat pemalu berbeda dengan Ana yang periang, nampak sangat bersemangat.Ia lalu berdiri mengambil sebuah buku kemudian duduk di depanku.

"Ehem, Ani akan menjelaskan mengenai 'Warna' ke Kakak..."

Ucapnya penuh antusias.Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya.Ani kemudian membuka buku yang dibawanya, berdehem sekali lagi, kemudian bercerita.

"Pa-pada dassarnya, Warna adalah kem-kemam-kemampuan, ene-energi a-atau prote..pohtesi...."

Ia berhenti sejenak berusaha membaca tulisan di depannya itu, sepertinya Ani masih belum terlalu lancar membaca, haha.Lain waktu akan mengajarkan mereka cara membaca, pikirku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

"potensi.."

Ucapku membenarkannya,

"I-Iya potensi, Ehem.. e-energi a-atau po......pohtensi dar-dari da-dalam ma-manusia,"

Ia terdiam lagi, kemudian mendekatkan wajahnya ke arah buku itu, berusaha keras membacanya.Ibu yang sedari tadi ternyata ikut mendengarkan, mengambil buku itu, kemudian duduk di depan kami.

"Biar Ibu yang membacakannya untuk kalian.."

Ucap Ibu pelan, sementara Ani hanya menunduk sedikit menggerutu mengutuk dirinya sendiri yang tidak lancar membaca mungkin.Aku mengusap kepala Ani pelan, kemudian berbisik.

"Lain kali akan Kakak ajarkan membaca agar lancar, jadi Kakak bisa mendengar cerita itu dari Ani ya.."

Ia membalas dengan mengangguk kecil, kemudian mengacungkan kelingkingnya, yang artinya ia menyuruhku berjanji.Aku membalas dengan mengacungkan kelingkingku juga tanda janjiku, ia tersenyum kecil melihatnya.

"Ehem, sampai mana tadi..."

Aku sebenarnya ingin bertanya apa orang yang hendak membaca buku harus berdehm dulu, tapi aku urungkan niat itu.

"Jadi, pada dasarnya Warna adalah kemampuan, energi atau potensi dari dalam manusia, hampir semua manusia memilikinya, namun ada beberapa manusia yang tidak dapat mengaktifkannya.Ada 3 Warna dasar yang dimiliki oleh manusia, yaitu Warna Merah sebagai simbol kemampuan Penciptaan, Warna Biru sebagai simbol kemampuan Pengendali, dan Warna Kuning sebagai simbol kemampuan Manipulasi. Kemampuan Penciptaan atau Warna Merah memberikan kemampuan penggunanya untuk mengubah energi mereka dan menciptakan sesuatu, biasanya yang diciptakan adalah benda mati.Kemampuan Pengendali atau Warna Biru memberikan kemampuan penggunanya untuk mengalirkan energi mereka pada suatu objek dan membuat mereka dapat mengendalikan objek tersebut, biasanya objek yang digunakan adalah elemen, seperti tanah, air, angin dan lain-lain. .Kemampuan Manipulasi atau Warna Kuning memberikan kemampuan penggunanya untuk mengalirkan energi mereka pada tubuh atau diri pengguna itu sendiri sehingga ia dapat memanipulasi dirinya sendiri, contohnya seperti memanipulasi diri mereka agar tidak terlihat, mengeraskan kulit mereka dan lain-lain. Kebanyakan manusia hanya mampu mengaktifkan 1 Warna saja, Tapi ada juga beberapa orang yang mampu mengaktifkan sampai dengan 2 Warna, orang yang dapat melakukannya disebut 'Citra'. Apabila seseorang mampu mengaktifkan 2 Warna, maka kedua Warnanya akan bercampur dan kemampuannya pun semakin kuat dan lagi ia mampu menggunakan kedua kemampuan dari Warna tersebut dan mampu pula menggabungkannya.Sampai sekarang belum ada yang mampu mengaktifkan sampai dengan 3 Warna.Menurut legenda hanya Sang Pahlawan Garuda yang mampu mengaktifkan semua Warna."

Ibu berhenti membaca buku itu setelah melihat bahwa Ana dan Ani sudah terlelap tidur di sampingku, Ibu kemudian berdiri lalu mengangkat adik-adikku itu kemudian membawa mereka ke tempat tidur mereka kemudian mengucapkan selamat malam kepadaku, aku membalasnya singkat sedikit kagum melihat bahwa ternyata Ibu kuat juga mampu mengangkat kedua adikku itu, apa mungkin Warna Ibu adalah Kuning, Manipulasi sehingga Ibu bisa kuat seperti itu? Entahlah besok aku tanyakan saja pada Ibu.

Aku lalu mengambil buku yang tadi dibaca oleh Ibu, kemudian membacanya singkat.Ternyata dugaanku benar, selain 3 Warna yang tadi dibacakan Ibu, masih ada 2 Warna lagi, yaitu Perak atau Warna Putih yang tertulis di buku ini, simbol Suci, berkisar pada Penyembuhan, Warna ini memberikan penggunanya kemampuan penyembuhan yang sangat hebat.Namun, orang yang memiliki Warna ini biasanya memiliki kekurangan di salah satu Panca Indranya, entah itu penglihatan, perasa atau yang lain.

Warna Emas, simbol dari Bintang, Warna Pahlawan Garuda, yang mampu menguasai Warna lainnya, kecuali Warna Putih.Hnn, tidak salah lagi, Warna yang di maksud disini adalah Aura.Namun ada satu Aura, maksudku Warna yang tidak tertulis di buku ini, yaitu Warna Hitam, Aura atau Warna yang dimiliki musuh terbesarku, Arang.Apa mungkin sengaja tidak dituliskan atau orang-orang saat ini betul-betul tidak tau ya?

Hnn, kurasa cukup hari ini, besok aku akan melatih Warna milikku.Seperti yang sudah tertulis di buku itu, aku sepertinya telah menguasai ketiga Warna itu, tapi untuk saat ini kurasa aku akan menggunakan 1 Warna saja, Warna Kuning, Simbol Manipulasi.Kenapa? Karena Warna inilah yang paling dekat dengan Warna Emasku.

Alasan yang simpel, haha.

GARUDA : kembalinya Sang PahlawanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang