Ngutang

23 2 4
                                    

Heemmm... Kejadian ini udah lama banget, kisahnya dimulai saat gue masih balita. Masih imut-imutnya, masih unyu-unyunya, dan masih muda. Klo gak salah waktu itu umur gue 6 tahun.

Kebanyakan anak diumur segitu, hobi mereka kalau gak main masak-masakan ya main tawuran. Tapi waktu itu gue masih terlalu muda untuk mengerti sesuatu. Saat yang lain asyik berpura-pura jadi mama papa, gue asyik berhutang dimana-mana.

Pokoknya ini salah emak gue saat itu, salah sendiri ngajarin gue ngutang. Saat itu emak nyuruh gue ke warung dan belanja beberapa barang, tapi gue gak dikasih duit melainkan kata ajaib yang amazing banget.

"Kung! Beli ini ya di warung," sambil menyodorkan daftar belanjaan "Bilang aja, bu.. Ngutang dulu ya."

"Kutang? Okke"  Gue hampir aja minta kutang ke penjaga warung.

"Bukan kung! Ngutang! Gak pake 'ng' pake 'K'! Ngertikan? Ngu-" emak memonyongkan bibirnya minta ditirukan.

"Ngu-,"

"Tang!"

"Tang!"

"Ngutang!"

"Kutang!"

"Sini kau ku giling!"

"Kabuuuuuur!"

Gue bergegas pergi ke warung, dan ajaib banget guys! Cuma karena satu kata gue boleh mengambil apapun disana! Gue takjub banget, ternyata begini toh cara orang dewasa hidup tanpa gaji.

Sejak gue diajari ngutang, hidup gue lebih sejahtera guys. Gue jadi ingat saat-saat gue kelaperan, terus didapur gak ada apa-apa. Gue tinggal ngeloyor ke warung-warung terdekat untuk mengutang makanan.

Gue inget saat gue pengen mentraktir temen-temen gue kerupuk bawang, gue ngutang serenteng kerupuk buat dibagi-bagikan. Bisa dibilang, gue itu pengutang yang dermawan. Jadi, banyak anak-anak yang ngebet jadi bodyguard gue. Kalau bodyguard gue kelaperan gue ngutangin bakso. Kalau bodyguard gue gak punya sampo, gue ngutangin peralatan mandi. Kalau bodyguard gue kecapekan gue pijitin, kalau haus gue susuin, kalau beol gue cebokin. Lelah juga punya bodyguard guys. Karena itu, gue gak pengen lagi punya bodyguard, ngerepotin loh.

Kesehatan gue juga makin meningkat sejak gue rajin berhutang. Dulu gue kurus banget, tapi sejak gue berhutang perut gue membuncit. IH! Imoooet! Emak tentunya adalah yang paling curiga melihat kemakmuran di hidup gue. Mengapa disaat anggota keluarga yang lain kekeringan nutrisi, gue malah kelebihan nutrisi?

Kecurigaan emak semakin meningkat saat dia ditagih tumpukan bon yang jumlahnya tidak masuk akal dengan kebutuhan kepala yang dia urusi.

Dan akhirnya, hal itupun terbongkar. Ibu-ibu penjaga toko, om-om penjual pentol, dan mbak-mbak pasar malam berkonspirasi membocorkan bisnis yang selama ini gue geluti. Sampai hati mereka membocorkan rahasia yang telah kami simpan berbulan-bulan. Bukankah mereka jua yang akan menerima keuntungan dari hutang-hutang yang berlimpah tersebut? Bukankah mereka jua yang membuatku berhutang dengan memamerkan banyak makanan enak? Sial! Sial! SIAAAAAAL!!!!!!

Hari itu, emak berubah menjadi godzilla dan gue jadi ciki-cikian yang dimakan emak.

Ahh.. sudah bertahun-tahun sejak peristiwa nahas itu. Gue menyentuh lagi bekas lubang kuku sebesar peluru dikepala gue. Kikiki, geli rasanya...

"Kuuung! Belanja dulu kuuung!" Emak membuyarkan lamunan gue.

"Ngutang lagi kah?"

"OGAH!" Ujar emak sambil mengacungkan tinju.

Dikung And The Kampret GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang