Aku di sini menjadi saksi. Atas apa yang sebenarnya ada di hatimu. Beku kan? Sebentar lagi aku akan mencairkannya. Tunggu saja.
---
DI SINILAH mereka sekarang. Duduk di kursi pelanggan dengan saling berhadapan. Bahkan mereka tidak saling menyapa atau mengobrol. Mereka lebih memilih bungkam dan sibuk dengan handphone masing-masing. Menghiraukan sebuah laptop, kertas manila, juga peralatan menulis lainnya. Sudah tiga puluh menit lamanya, mereka duduk dengan posisi sama, saling melirik tapi saling bungkam. Sampai akhirnya si pelayan menghantarkan pesanan mereka.
Si pelayan menaruh pesanan di atas meja yang bernomer 12, "pesanannya mau ditambah lagi Non Gify?"
Gify menggeleng, "nggak Mbak, tapi gak tau kalau dia." Gify mengangkat dagunya untuk menunjuk Rega yang berada di hadapannya.
Rega menatap Gify dengan mulut tertutup rapat. Lalu menggeleng kaku pada pelayan itu. Si pelayan akhirnya pergi. Keheningan kembali melanda mereka. Padahal terdapat musik yang mengalun. Hingga akhirnya Rega memecah keheningan itu.
"Waktu gue cuma 2 jam." Ujarnya sambil menyeruput capuccino miliknya.
Gify yang awalnya menatap laptop kini beralih menatap Rega, "no thing. Tugas ini gak nyita banyak waktu, gak kayak yang lo bayangin." Gify meraih onion ring dan melahapnya. Matanya beralih ke layar laptop, "kita tinggal nentuin tema yang unik, pokoknya yang limited edition lo sanggup?"
Rega mendengus, menyenderkan tubuhnya ke bangku seraya bersedekap dengan pandangan lurus ke Gify, "lo cuma ngasih waktu gue satu jam lebih lima puluh menit. Lo nantangin gue?"
Gify menaikkan sebelah alisnya, "its okay kalau lo emang merasa tertantang." Gify memutar laptopnya agar menghadap Rega.
"Dan tugas lo?" Tanya Rega dengan pandangan tajam.
Gify terkekeh, "lo ngira semua tugas ini lo yang ngerjain? Terus gue cuma duduk santai gitu?"
Rega menaikkan sebelah alisnya, merasa heran dengan Gify, "So?"
"Ya ampun Rega! Gue cuma butuh bantuan dari otak lo bikin tema doang! Selanjutnya gue yang ngerjain. Ini tanggung jawab gue." Gify kembali melahap onion ringnya. Sedangkan Rega sekarang lebih memikih berkutat di layar laptop daripada mendengarkan ejekan Gify.
"Gue punya tiga tema." Ujar Rega yang membuat badan Gify menegak seketika.
"Apaan tuh? Banyak banget."
"Pertama, temanya tentang pacaran produktif. Kedua, satu hari tanpa kendaraan. Yang terakhir, menaklukkan alam." Jelas Rega. Gify sedari tadi hanya mangut-mangut. "Jadi?"
"Gue suka yang pertama. Tapi kita kayaknya bisa sangkutin dengan tema yang ketiga. Cuman tema kedua gue gak rada srek aja. Gimana sanggup?" Tutur Gify antusias. Rega langsung mencari makalah tentang temanya itu. Gify yang merasa terabaikan kembali berbicara, "Ga, lo tau nggak? Lo tadi udah ngomong panjang banget."
"Terus?" Rega menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Sebelum menjawab, Gify menyeruput jus strawberry miliknya, meneguknya pelan-pelan, "gue kaget aja. Secara lo kan terkenal dingin. Lo aja ada sebutan spesialnya."
"Apa?"
"Monster es! Gila keren banget punya sebutan kayak gitu!"
"Gila lo."
Gify mengaduk-aduk jus strawberrynya. Kemudian berseru kepada Mbak Astri untuk membawakan segelas es batu. Sekarang ini Gify berada di cafe Escapé milik mamanya. Gify mengajak Rega ke sini karena dompetnya sedang tipis. Bagaimanapun juga, tugas ini tanggung jawab Gify, dia merasa tak enak jika Rega yang mentraktirnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny
Teen FictionTakdir memang tak ada yang tahu. Seberapa keras perjuangan kita untuk merubahnya, takdir tidak bisa dirubah tanpa kehendak Tuhan. Layaknya pertemuanku denganmu dan dengannya. *** Rega si Bad Boy sekolah dengan sifat dingin dan tak acuh dengan sekita...