Siang yang terik di nusim hujan, langit bersih dari gumpalan awan. Matahari memakai mahkotanya, menjadi raja waktu kala itu. Diana duduk diam di deretan meja sakral di kantin, dengan kotak bekalnya yang tertutup yang isinya sudah kosong.
Satu hal yang ingin Diana lakukan saat ini hanyalah kembali ke kelasnya, duduk di bangkunya dan bersembunyi di balik bahu Fhara. Ia tidak suka atmosfer asing yang mengelilinginya, mereka semua murid terkenal, saling bicara, tertawa, berteriak, mengabaikan sosok aneh yang duduk di ujung sambil tertunduk. Ugh, perut Diana mual.
"An, gue duluan ya?"
Cowok itu langsung mengalihkan pandangan kepadanya, satu alisnya terangkat. "Nanti aja," putus cowok itu sepihak.
"Ih, An," Diana merengek, menarik sisi kiri kemeja cowok itu. Wajahnya memelas, namun Andean tetap tak memperdulikannya.
"Lo itu harus banyak-banyak hirup udara seger, Dii. Jangan diem di kelas mulu," kata cowok itu sebelum ikut menimbrung obrolan teman-temannya.
Diana diam, memilih menunggu sampai cowok itu selesai makan dan puas berbincang dengan teman-temannya. Saat ini ia sangat ingin mengutuk Andean yang menariknya untuk makan bekal di kantin.
Setelah sepuluh menit sejak bel masuk berbunyi, Andean dan teman-temannya baru membubarkan diri. Diana menarik napas lega, kakinya sudah gatal ingin angkat kaki dari tempat itu. Ia memeluk kotak bekalnya dan berjalan mendahului yang lain, tidak menggubris seruan Andean di belakangnya. Diana sebal.
"Hei!"
Cowok itu menarik satu siku Diana, membuatnya berbalik.
"Apa?" Tanyanya dengan dua alis terangkat. Matanya menyalang di bawah terik matahari.
"Ada yang mau kenalan sama lo," ucap cowok itu. Kening Diana mengerut perlahan.
Lalu seorang murid perempuan muncul dari balik bahu Andean, Diana menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tinggi semampai, langsing, kulit putih, mata besar, hidung mancung, rambut sepunggung bergelombang, bibir ber-liptint, dan seragam yang pas di badan. Diana tiba-tiba merasa ingin melempar Andean ke luar angkasa. Cantik parah sih.
"Kenalin, Cyntia. Cyn, ini Diana," ujar Andean.
"Hai," sapa Cyntia.
Entah kenapa Diana mengernyit ketika melihat senyum cewek itu. "Halo," balas Diana dengan senyum yang tak sampai pada matanya.
Diliriknya Andean, cowok itu sedang menoleh dengan wajah tegang. Namun belum sampai Diana melihat sesuatu, Andean maju menghalangi pandangannya.
"Balik, ke kelas, sekarang," bisik cowok itu tepat di telinga kanan Diana.
Dahinya mengerut, ia memundurkan wajah agar bisa menatap Andean. Cowok itu memberikan tatapan memohon, "please," katanya lagi.
Mata mereka masih bertemu, Diana berusaha menolak titah Andean. Lalu cowok itu menggenggam pergelangan tangannya, mengusapnya pelan. Saat itu barulah Diana menyerah, ia mengangguk dan menurut.
"Gue duluan ya."
Diana pamit, namun sebelum berbalik ia sempat melirik ke kanan dan mendapati beberapa orang anak kelas 12 sedang berjalan menuju ke arahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
GRAVITY
Teen FictionMau tak mau Diana harus menerima kenyataan kalau Andean berhasil memikatnya dalam sekali pandang. Selanjutnya, gadis itu diberi kemampuan untuk melacak tempat tergelap dalam hati cowok itu. Diana tak peduli apapun lagi ketika Andean pertama kali me...