Sepuluh

23 5 1
                                    

Andean baru pulang dari rumah sakit di hari Minggu pagi. Rumah kosong seperti biasanya, makanan dingin tersaji di meja makan. Andean mengabaikannya dan naik ke lantai 2, menuju ke kamarnya.

Selama setahun terakhir ini ia dan ibunya bergantian menemani Adinda di rumah sakit. Adik kesayangannya itu tidak pernah keluar rumah sakit lebih dari 2 bulan, kesehatannya selalu menurun sejak menginjak bangku SMP.

Adinda menderita penyakit yang sama dengan mendiang ayahnya dulu. Anemia. Dua tahun lalu ayahnya meninggal dunia ketika menjalani operasi, satu tahun berikutnya Adinda mulai sering keluar masuk rumah sakit.

Setelah perjuangan ayahnya yang tidak sebentar, Andean harus kembali menegarkan diri untuk berjuang bersama adiknya. Kalau dipikir lagi mustahil baginya untuk tetap berdiri seperti sekarang. Setelah kehilangan ayahnya, kini ia harus menyaksikan adiknya kesakitan dan ibunya banting tulang sendirian.

Bukan tidak mau membantu, Andean hanya tak mendapat restu. Kalau saja ia tidak dilarang, pasti Andean sudah melupakan soal sekolah dan memilih bekerja. Tapi prinsip ibunya tetap, 'Pendidikan nomor Satu'.

Jadilah Andean hanya menyaksikan semuanya. Benar kata Diana kemarin, kadang kita yang cuma liat ngerasa sakit lebih banyak. Memang, Andean merasa seperti itu, posisinya yang tidak berdaya terasa lebih menyiksa.

Langit mendung, udara dingin memenuhi kamarnya yang jendelanya terbuka lebar. Dinding biru di sekelilingnya seperti laut, gelap, tenang, dingin, dan menenggelamkannya sampai ia sesak napas.

Lutut Andean bertemu dengan lantai, tas ranselnya tergeletak di belakang. Ia menatap sendu awan kelabu yang menutupi langit. Kemudian, satu ingatan di bawah langit mendung yang sama terputar di otaknya.

"Kalau gue udah keluar rumah sakit, gue harus jalan-jalan keliling Bandung. Bosen gue di rumah sakit terus,"

"Kalau lo mau kita jalan sekarang aja,"

"Serius? Ayo!"

"Tapi gue cuma bawa sepeda doang, gak apa-apa?"

"Bodo, yang penting gue cuci mata."

Lalu Andean menarik tangan gadis itu menuju tempat ia memarkir sepeda. Seorang gadis yang membawa kantung infus, memakai baju biru milik rumah sakit, dan hanya memakai sandal tidur berbentuk katak hijau.

Mereka mengendap-ngendap keluar dari lingkungan rumah sakit, lalu berboncengan menuju taman terdekat dari sana.

Menyenangkan rasanya bisa terus mengingat semua pertemuannya dengan Diana sebelum ini, kejadian yang sudah 2 tahun berlalu itu masih melekat kuat di sel-sel otaknya. Andean selalu bersyukur akan hal itu.

Dalam keheningan di sekelilingnya Andean tiba-tiba merindukan Diana. Ia butuh suara gadis itu ketika menjawab pertanyaannya, atau sahutan kesal ketika menanggapi gombalan recehnya. Wah, ia tidak tau sejak kapan Diana menjadi begitu berpengaruh pada suasana hatinya.

Bel berbunyi, helaan napas Andean keluar begitu kakinya bangkit berdiri. Ia keluar dan turun ke pintu depan, dibalik pintu berdiri Genta dengan celana jeans dan kaos hitam longgar.

Satu alis Andean terangkat. "Mau ngapain lo?"

Tanpa menjawab sepatah katapun Genta melangkah masuk, tasnya dilempar ke sofa dan cowok urakan itu menjatuhkan dirinya di sofa.

"Gue nginep disini seminggu."

"Hell no," Andean menutup pintu.

GRAVITYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang