puppy love
noun [ U ] ● ˈpʌp.i ˌlʌv
romantic love that a young person feels for someone else, which usually disappears as the young person becomes older
(Cambridge Dictionary)
"Oppa, I love you!"
"You are just a kid. What do you know about love?"
"I...
"Kenapa kita harus pindah saat aku memasuki kelas tiga? Aku harus beradaptasi lagi, dan aku tidak akan punya waktu untuk itu. Eomma tahu kan bahwa aku harus banyak belajar saat memasuki kelas tiga?" Lisa kembali mengeluh untuk kesekian kalinya. Ia kini tengah duduk di dalam mobil keluarganya, dalam perjalanan menuju apartment baru yang akan mereka tempati.
"Berhentilah mengeluh! Suaramu sangat mengganggu." Nana, kakak Lisa yang duduk di sampingnya menimpali. "Kalau kau tidak mau pindah, kau bisa tinggal sendiri di goshiwon sana. Tidak ada yang memaksamu untuk pindah," lanjutnya ketus. Ia mulai kesal karena sejak beberapa minggu lalu selalu mendengar hal yang sama dari adiknya.
"Eonni!"
Ibu mereka yang duduk di depan berdampingan dengan suaminya berdecak. "Berhentilah bertengkar! Kalian tidak lelah bertengkar setiap hari?"
"Lisa yang memulainya, setiap hari mengeluhkan hal yang sama. Seolah dunianya akan berakhir hanya karena pindah sekolah." Nana menukas.
"Aku tidak meminta pendapatmu." Lisa balas menjawab lalu membuang muka. Memandang jalan melalui kaca jendela di sampingnya.
Lisa jelas bukan gadis anti sosial di usianya yang berada di pertengahan delapanbelas tahun. Dia adalah gadis yang ceria dan memiliki banyak teman di lingkungan sekolahnya yang lama. Berinteraksi dengan orang baru jelas bukan masalah baginya. Tapi Lisa tidak pernah menyukai ide pindah sekolah dan meninggalkan zona nyamannya di sekolah lamanya. Ia memiliki terlalu banyak kenangan di sana. Teman-temannya yang selalu ada untuknya serta lingkungan yang positif untuk remaja tanggung seusianya. Sekolah lamanya serupa sanctuary banginya. Lisa sudah terlalu nyaman berada di sana untuk pergi. Ia menghela napas berat. Ia tidak memiliki pilihan lain selain dengan mengikuti kemauan orang tuanya. Rumah lama mereka tidak lagi cukup bagi mereka.
Lagipula, lingkungan baru yang dipilih oleh orang tuanya tidak akan seburuk itu bukan?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lisa menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya yang baru setelah selesai menata kamarnya dan membersihkan dirinya sendiri. Apartment baru mereka tidak buruk. Jauh dari kata buruk malah. Akses dari dan ke apartment tersebut mudah karena berada di pusat kota. Ada taman yang cukup rindang dalam kompleks apartment tersebut. Dan hal lain yang Lisa syukuri adalah, kamarnya yang memiliki balkon sendiri, sesuatu yang tak dimilikinya di rumah lama mereka.
Rasa letih yang ia rasakan setelah berberes tadi membawa kantuk pada kedua matanya. Ia melirik jam yang sengaja ia letakkan di atas nakas, masih sore. Mungkin tidak ada salahnya jika ia tidur sebentar sebelum makan malam. Ia merubah posisi rebahannya, menghadap kanan dan meraih guling kesayangannya. Ia sudah nyaris terlelap saat suara ibunya mengusiknya.
"Lisa, keluarlah bantu eomma!"
Lisa mengerang kesal, tapi tak ayal bangkit dari tidurnya. Ia tahu akan lebih melelahkan mendengarkan omelan ibunya jika ia tidak mau menuruti perintahnya. Jadi dengan setengah hati, gadis itu keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju dapur di mana ibunya berada. Ibunya tampak tengah sibuk membungkus kotak-kotak yang ia yakini berisi siru-tteok dengan kain perca.