13. Take Me on A Date

1.7K 396 31
                                    

"Jeno my love my hero!" Lisa langsung memekik heboh begitu melihat sosok Jeno memasuki kamar rawatnya dengan menenteng paper bag dengan logo bakery favoritnya.

Lisa tidak berada seorang diri di kamar, ada ibunya yang sedang duduk di sofa sembari menonton televisi. Nyonya Park melempar senyuman lebar pada Jeno yang membungkuk dengan sopan.

"Jeno baru pulang?" tanya Nyonya Park saat mendapati pemuda itu masih mengenakan seragam sekolahnya.

"Iya, kebetulan rumah sakit ini satu arah dengan tempat les, jadi sekalian mampir." Jeno menjawab dengan sopan.

Nyonya Park sepertinya tertarik dengan jawaban tersebut, karena wanita tersebut segera melupakan siaran yang tengah berlangsung dan menatap Jeno dengan antusias. "Jeno sudah mulai les untuk persiapan ujian?"

Dengan kikuk, Jeno mengangguk. Sementara Lisa mulai merutuki jawaban Jeno barusan. Sudah pasti ibunya akan membahas les persiapan ujian dan memaksa Lisa untuk ikut les tersebut.

"Coba kau dengar, Jeno saja sudah mulai les persiapan ujian, sementara kau masih asyik main-main."

Benar kan.

"Eomma," Lisa mengerang kesal. "Aku bahkan belum keluar dari rumah sakit dan kau sudah menyuruhku untuk ikut les? Kau benar-benar kejam."

"Aigoo, kau benar-benar pandai mencari alasan." Nyonya Park menggerutu. "Ah sudahlah, kebetulan Jeno ada di sini, Eomma ingin keluar mencari makan sebentar. Jeno-ssi, kuharap kau tidak keberatan untuk menunggu Lisa sebentar."

"Ah, tidak masalah, eommoni."

"Aigoo, benar-benar anak yang sopan dan manis. Pasti menyenangkan memiliki anak sepertimu dibandingkan anak perempuan yang bandel seperti Lisa."

"Eomma!" Lisa kembali mengerang, kali ini kesal karena harus dibandingkan dengan Jeno.

Nyonya Park mendengus, lalu segera berlalu dari ruangan setelah menenteng tasnya. "Eomma pergi dulu. Jangan merepotkan Jeno."

"Hm,"

Tawa Jeno lepas begitu saja setelah sosok Nyonya Park hilang di balik pintu ruangan. Pemuda itu kemudian duduk di samping ranjang Lisa tanpa memperdulikan tatapan mematikan yang dilayangkan Lisa padanya.

"Ibumu lebih menyukaiku dibandingkan denganmu." Jeno berseloroh dengan sombong.

Lisa mendengus, persis seperti apa yang baru saja ibunya lakukan tadi. Gadis itu tidak membalas ucapan Jeno, melainkan menengadahkan tangannya pada Jeno.

"Berikan kue itu padaku."

"Kata siapa kue ini untukmu?"

Rengekan kekanakan Lisa kembali terdengar, "ayolah berikan padaku."

Jeno terkekeh, otomatis membuat kedua matanya tenggelam dalam bulan sabit. "Baiklah-baiklah, jangan menangis."

Paper bag yang semula berada di tangan Jeno kemudian berpindah pada Lisa yang serta merta segera membukanya dengan tidak sabar. Gadis itu memekik kesenangan saat menemukan kue yang diinginkannya ada di dalam tas. Dengan hati-hati, dikeluarkannya cheese cake dalam kemasan jar dari tas.

Kedua mata Lisa berbinar begitu jar itu berada dalam genggamannya. Seolah ia baru saja melihat keajaiban dunia di atas telapak tangannya.

Gemas, tangan Jeno tergerak begitu saja untuk mengusap puncak kepala Lisa dengan lembut. "Kau benar-benar menggemaskan."

PUPPY LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang