Dua jam sudah Gifta resmi menyandang status sebagai istri dari pria yang sekarang tengah duduk di sofa di kamar hotel tempat resepsi pernikahan mereka berlangsung.
Gifta mencuri pandang ke arah Febe yang tengah asik mengutak-atik ponselnya. Suaminya itu sedari tadi terlihat sibuk dengan gadgetnya. Entah mengurus pekerjaannya atau membalas pesan selamat yang diberikan teman-temannya Gifta tidak tahu.
Gifta tak begitu mengenal siapa suaminya ini. Mereka hanya beberapa kali bertemu sejak keputusan pernikahan mereka ditetapkan. Febe terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan setiap bertemu tak ada interaksi berarti di antara mereka.
Suara ketukan di pintu memutus pikiran Gifta tentang suaminya. Di ambang pintu Ibu mertuanya tersenyum semringah melihat ke arahnya. "Mami boleh masuk nggak?" Ratna bertanya.
Belum sempat Gifta menjawab Ratna membawa langkahnya mendekati Gifta. "Cantik banget sih menantu Mami ini." Puji Ratna tulus.
Gifta tersipu malu menerima pujian dari Ratna. "Mami jauh lebih cantik." Puji Gifta balik.
"Beruntung banget sih yang jadi suami mu, Nak." Ucap Ratna melirik anaknya yang pura-pura tidak mendengar percakapan mereka.
"Eh tapi Gi, kalau suami kamu macam-macam nanti, lapor Mami ya, biar Mami beri dia pelajaran." Ucap Ratna masih sambil melirik Febe.
Febe menyimpan ponselnya di meja yang ada di sisi kanannya. "Mi jangan ngajarin istri aku yang aneh-aneh deh."
"Mami nggak ngajarin Gifta yang aneh-aneh kok. Mami cuma ngasih tahu Gifta kalau suaminya macam-macam dia harus lapor Mami. Gifta ini terlalu baik buat suaminya." Jawab Ratna.
"Ckk!" Febe berdecak. Ada ya Ibu yang hobi membully anaknya di hadapan orang lain." Gerutu Febe.
Tak mengindahkan pertanyaan Febe, Ratna malah bertanya, "Kenapa sih kamu berdecak begitu. Emang kamu suaminya Gifta?"
"Udah deh Mi. Mending Mami keluar sana temani Papi. Jangan gangguin istri aku." Febe malah mengusir Maminya.
"Yee, posesif banget sih kamu. Mami kan cuma bercanda. Makanya jangan dianggurin istrinya. Ajak ngobrol kek." Setelah mengucapkan itu Ratna meninggalkan mereka begitu saja.
Kecanggungan terjadi setelah Ratna meninggalkan kamar mereka.
"Kamu mau aku panggil penata riasnya. Atau mau istirahat dulu." Tanya Febe memecah keheningan. Resepsi mereka akan dilaksanakan beberapa jam lagi. Jadi sebelum itu Gifta harus di dandani lagi.
Gifta berpikir sejenak. "Aku mau mandi dulu." Beritahu Gifta.
Febe mengangguk. "Ya udah." Ucapnya. "Aku mau tiduran sebentar. Kalau kamu sudah selesai mandi beritahu aku." Melepas jasnya Febe berbaring di ranjang.
Gifta segera menuju kamar mandi. Tidak lupa membawa perlengkapan mandi serta baju gantinya. Ia butuh menyegarkan tubuhnya dulu sebelum nanti di make up lagi.
"Gifta!" Panggilan Febe membuat Gifta kembali membuka pintu kamar mandi yang tadinya hampir tertutup.
"Ya?" Jawab Gifta.
"We are married now. So, let's behave as a real husband and wife." Ucap Febe mantab.
•••
Rasanya Gifta sudah menurunkan suhu ruangan hingga 17°C tapi mengapa Gifta merasakan bulir-bulir keringat masih saja membasahi tubuhnya. Baju kaos yang dipakainya terasa lembab. Tetesan keringat terasa jelas mengalir dari dada hingga ke perutnya. Padahal dia baru selesai mandi.
Ugh, kenapa Gifta bisa seperti ini. Apakah ini syndrom malam pertama?
Perasaan mendebarkan makin Gifta rasakan tatkala ia tidak mendengar lagi bunyi percikan air dari kamar mandi. Pertanda seseorang yang sedari 20 menit lalu berada di dalam sana sudah selesai dengan ritual yang dilakukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Being Happy ...
Fiksi UmumPernah merasakan kau tak punya pilihan untuk hidupmu sendiri? Pernah berada dalam posisi di mana kau tak punya kuasa untuk menentukan apa yang kau inginkan dalam hidupmu? Gifta selalu berada dalam posisi itu. Sepanjang hidupnya, selama dua puluh sat...
