"Minggu depan aku mulai magang."
"Hmm," Febe bergumam tanda ia mendengarkan kata-kata Gifta.
Sebal nggak sih kalau ngomong trus orang yang kita ajak ngomong nyuekin kita gitu? Nah, Gifta suka sebel sama Febe kalau suaminya sudah ada dalam mode serius memandang laptop seperti sekarang ini. Kalau ngomong cuma ditanggapi dengan gumaman tanda ia mendengarkan.
"Kamu nggak mau nanya aku magang di mana?" Tanya Gifta ingin tau reaksi Febe kalau dia tau di mana Gifta magang.
"Di mana?" Tanya Febe tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada dihadapannya.
"Di perusahaan kamu." Gifta menatap Febe. Menunggu reaksi pria itu.
Dan benar seperti perkiraan Gifta.
Kepala Febe yang sedari tadi menunduk menatap laptop di depannya langsung terangkat. Matanya berbinar menatap Gifta, "Serius?" Tanyanya antusias.
"Iya." Jawab Gifta.
"Wah asyik dong. Nanti kita bisa pacaran di kantor." Jawaban Febe membuat raut sebal terlihat jelas di wajah Gifta.
"Ish, dasar. Pikirannya itu!"
Gifta tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria yang ada di sampingnya ini. Sedikit-sedikit pacaran. Mentang-mentang mereka sudah damai dari kejadian tempo hari.
"Ya, sekalian Gi." Cengiran lebar terpatri di wajah Febe.
"Mana bisa begitu. Kerja ya kerja, pacaran ya pacaran. Emang kamu mau karyawanmu nyambi gitu? Kerjanya nyambi pacaran?" Jadi pemimpin itu harus memberikan contoh yang baik untuk bawahan. Ya kan?
"Ya, nggak bisa disamain lah Gi. Kalau mereka mau pacaran ya ke mall aja sana atau ke mana terserah mereka. Jangan di kantor.”
Walaupun office romance di perusahaannya diperbolehkan, tapi karyawannya harus tau tempat dan kondisi. Dan bukannya ingin memberikan contoh yang tidak baik, sebagai penerus Nusantara Technologi bisa pacaran di kantor dengan istri sendiri itu adalah privilege. Kalau karyawannya iri ya, itu resiko mereka. Kalau nggak terima, ya bikin perusahaan sendiri aja biar bisa suka-suka mereka. Benerkan ya?
"Curang itu namanya.” Gifta tidak terima dengan jawaban Febe. Walaupun Gifta tau dimana-mana pasal satu itu selalu berlaku tapi tak ada salahnya dia mengemukakan pendapatnya.
“Di mana letak curangnya coba. Itu namanya multiskill. Dan malahan bagus. Jadi aku bisa mempercepat rencana masa depan kita.”
Huh dasar Febe! Ucapannya nggak pernah jauh-jauh dari 'itu'. Memang sih sejak mendapat pencerahan dari sahabatnya pikiran Gifta jadi sedikit terbuka. Gifta melonggarkan sedikit prinsipnya. Lagian zaman sekarang orang pacaran saja sudah bisa mencicipi menu utama, masa ya mereka yang sudah nikah masih main kayak anak TK. Bisa pindah ke pelukan wanita lain suaminya itu.
“Nggak usah punya pikiran macam-macam kamu.”
“Aku nggak mikir yang macam-macam kok.” Jawaban Febe malah bikin Gifta tambah kesal.
“Nggak usah ngeles deh. Udah kebaca jelas itu!”
“Ah kamu sok tahu.” Febe masih nggak mau ngaku .
Gifta mendesah, “ Aku di sana itu buat cari ilmu sekalian mempraktekan teori yang sudah kupelajari selama aku kuliah.” Jelas Gifta. “Kalau mau pacaran sama kamu ya di rumah aja.” Lanjutnya kemudian.
“Justru itu Gi. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Challenge juga. Ya kan. Ya kan.” Febe menaik turunkan alisnya membuat kekesalan Gifta semakin meningkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Being Happy ...
General FictionPernah merasakan kau tak punya pilihan untuk hidupmu sendiri? Pernah berada dalam posisi di mana kau tak punya kuasa untuk menentukan apa yang kau inginkan dalam hidupmu? Gifta selalu berada dalam posisi itu. Sepanjang hidupnya, selama dua puluh sat...
