"Sampai kapan nggak boleh ada bahasan dedek bayi, Gi?" Entah sudah berapa ratus kali Febe menanyakan pertanyaan yang sama pada Gifta, membuatnya jengah mendengarnya.
"Gi?" Rajuk Febe. Pria itu duduk di samping Gifta yang asyik mengunyah pilus pedas yang tadi sempat dibelinya saat perjalanan pulang ke apartemen.
"Jangan nyinyir deh!" Kesal Gifta.
"Makanya kamu jawab pertanyaan ku. Sampai kapan?" Tuntut Febe.
Gifta melirik Febe kesal. Banyak nggak sih orang model begini? Orang yang kalau punya kemauan harus dituruti. Termasuk akan jawaban sebuah pernyataan. Sepertinya banyak deh, salah satunya sosok yang duduk menghadap Gifta sekarang.
Seperti anak kecil,Febe menuntut jawaban dari Gifta. Dan Gifta rasa sebelum ia memberikan jawaban yang memuaskan Febe, pria itu pasti akan terus bersikap menyebalkan hingga nanti mendapatkan jawaban yang ia mau.
"Gimana, Gi?" Nah kan? Masih maksa juga.
Sepertinya Gifta harus memiliki stok sabar yang banyak kalau berurusan dengan Febe. Nyinyirnya maksimal banget.
Setelah menyelesaikan kunyahannya dan meminum air yang tadi ditaruhnya di coffe table di depannya, akhirnya Gifta berkata, "Kan tadi udah jelas jawabannya." Beritahu Gifta sebelum melanjutkan mengunyah pilusnya.
"Itu ambigu, Gi. Yang pasti dong." Febe tak terima dengan jawaban tak memuaskan Gifta —itu menurut Febe—
Kalau waktu boleh diulang Febe ingin kembali ke saat di mana ia melakukan kecerobohan yang mengakibatkannya menjadi seperti bocah, seperti sekarang ini. Merengek-rengek agar keinginannya segera terwujud. Febe ingin memperbaiki kesalahan yang dilakukannya.
Tadi setelah mengiyakan syarat yang diajukan Gifta, Febe langsung panik. Ia tersadar bahwa ia melakukan kesalahan besar.
Bermaksud agar Gifta tidak ngambek lagi dan memaafkannya, dengan segera Febe langsung mengiyakan syarat yang diajukan Gifta sedetik setelah dilontarkan, namun di detik setelah mengatakan iya Febe terdiam, senyum yang tadi merekah lebar di bibirnya karena maaf dari Gifta telah ia terima lama-lama hilang. Otak Febe mencerna syarat yang diajukan Gifta tak memiliki jangka waktu.
Dan setelahnya Febe bertingkah seperti bocah lima tahun —merenggek dan menyebalkan— yang membujuk Ibunya untuk merevisi aturan yang baru ditetapkan.
Siapa tahu Gifta menangguhkan pembahasan dedek bayi hingga setahun kemudian. Dua tahun. Tiga tahun. Who knows kan? Isi kepala orang tak bisa ditebak. Febe bergidik ngeri membayangkan kemungkinan-kemungkinan itu. Febe tidak bisa. Ia harus mendapatkan kepastian saat ini juga. Ini untuk kepentingan bersama. Dan pasti kepentingan pribadinya juga. Yah, paling tidak dengan memakai alasan memenuhi permintaan orangtua mereka bisa Febe pakai untuk membujuk Gifta.
"Ambigu gimana?" Tanya Gifta pura-pura tidak tahu.
Gifta tahu kok dibalik niatan mulia Febe untuk memenuhi keinginan orangtua mereka ada niatan pribadi terselubung di sana. Gifta tahu Febe mengkhawatirkan kelangsungan benda yang ada diantara dua pahanya. Gifta bukanlah bocah TK yang tak tahu apa-apa.
Gifta hanya butuh waktu lebih memikirkan kelangsungan jiwa raganya seandainya ia memberikan harta berharganya pada pria yang tidak dicintainya.
Mungkin banyak yang mengatakan cinta datang karena terbiasa dan Gifta termasuk salah satunya. Tapi masalahnya Gifta bukanlah tipikal gadis yang gampang untuk menyerahkan apa yang ia miliki kepada orang yang telah membuatnya jatuh hati. Cinta saja tidak cukup bagi Gifta butuh keyakinan dihatinya untuk bisa melakukan lebih.
Gifta ingat dulu ketika berpacaran dengan mantan-mantannya ia tak akan mau memberikan bibirnya di akhir kencan pertama. Butuh setidaknya lima kali kencan bagi Gifta untuk menyerahkan bibir merahnya kepada pacarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Being Happy ...
Aktuelle LiteraturPernah merasakan kau tak punya pilihan untuk hidupmu sendiri? Pernah berada dalam posisi di mana kau tak punya kuasa untuk menentukan apa yang kau inginkan dalam hidupmu? Gifta selalu berada dalam posisi itu. Sepanjang hidupnya, selama dua puluh sat...
