Part 8 - Misi Gagal??

241 25 3
                                    

"Balik yuk, Kak!" ajak Agni kepada Cakka.

"Serius? Belum selesai lho ini!" balas Cakka memastikan.

"Iya serius! Urusan ini besok aja, masih ada hari. Ini masalahnya Mama gue ada di rumah. Masa iya gue tinggalin gitu aja." jelas Agni.

"Oke kalo gitu. Kita balik ke ruang tamu." akhir Cakka. Mereka pun melangkahkan kaki bertolak dari dapur menuju ruang tamu.

Namun setelah sempurna keluar dari dapur, tepatnya 7 langkah dari pintu dapur, mereka terhentikan oleh sesuatu di depan nya. Sesuatu yang menghalangi langkah mereka. Dan itu adalah ....

"Kak Rio!" sapa Agni.

"Kalian udah selesali?" tanya Rio balik saat menyadari Adiknya dan temannya itu kembali pula.

"Belom sih, Kak. Baru sampai dapur." lapor Agni dengan nada yang, engg, tak terima sebenarnya. Ditambahi anggukan oleh Cakka.

"Kog udah balik aja?" tanya Rio lagi heran. Belom selesai kog udah balik aja. Biasanya udah selesai aja masih nggak terima nih bocah.masih pengen lanjut aja.

"Iya. Tadi mama lo telfon Agni katanya suruh balik cepet. Ya udah kita balik." jawab Cakka diangguki oleh Agni.

"Lha kalian kog juga balik? Udah selesai? Dapet apa aja?" tambah Agni.

"Mama nelfon? Suruh balik? Emang kamu kasih tau mama kalo kita main-main di rumah kosong lagi?" Tanya Rio bertubi-tubi.

"Pertanyaan gue belum lo jawab lo, Kak!" ingat Agni. Ia kesal kepada kakaknya ini yang asal nyerocos saja. Asal nuduh ia. Rio pun nyengir mendengar ucapan Agni itu.

"Hhe, belom." Masih dengan cengiran khasnya sambil mengacungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ke samping wajahnya. Cepat tersadar ia kembali menanyai Agni.

"So, kenapa bisa Mama nelpon lo dan nyuruh kita balik? Mama ada tau kita main-main ke rumah kosong lagi?" tanya Rio kembali. Mengapa ia tetap kekeuh menanyakan itu? Karena ia tahu, Mamanya kurang menyetujui hobby gila putra-putrinya itu. Bukan apa-apa, beliau tidak menyetujui bukan karena takut dengan hal-hal berbau angker seperti itu. Namun beliau lebih mengkhawatirkan kondisi Agni. Seperti yang dikatakan sebelumnya, Agni selalu melakukan ini jika ia sedang ada masalah. Dan jika beliau mengetahui ini, pasti Mamanya akan berfikir demikian. Mamanya akan terfikirkan oleh putrinya itu. Maklumlah, anak bungsu. Dan Agni yang mudah sakit saat mendapat masalah. Nah itulah yang Mamanya takutkan.

"Nggak, gue nggak kasih tau Mama kalo kita main ke rumah kosong. Tapi sekarang Mama lagi ada di rumah Kakak. Di Jakarta." jelas Agni santai yang mengundang amarah tidak terima dari Rio. Kini ia memandang adiknya tajam. Agni yang ditatap seperti itu pun tersentak.

"Lo kog nggak kasih tau kalo Mama mau ke sini?" protes Rio.

"Gimana gue mau kasih tau lo, gue aja baru tau saat Mama tiba-tiba tadi nelfon gue dan bilang kalo Mama udah ada di rumah." jelas Agni.

"Kog Mama malah nelponnya ke lo sih. Sebagai tuan rumah, harusnya gue dulu yang dikasih tau. Ini malah nggak kasih tau sama sekali." gerutu Rio. Ia merutuki Mamanya yang tak memberinya kabar dulu kepadanya.

"Gue udah tinggal sama lo ya, Kak! Jangan anggep gue nggak ada!" protes Agni pula.

"Bodo amat. Tetep aja harusnya Mama kasih kabar gue dulu!" ucap Rio masih tak terima.

"Udah sih, kalian malah debat." pisah Sivia, "nggak kasian Mama kalian nunggu kalian dari tadi?"

"Ah iya, harusnya kita balik! Malah masih ada di sini," sahut Rio dengan ekspresi tanpa dosanya bak bayi baru lahir.

Ketiga anak adam di hadapannya menatapnya tanpa ekspresi. sadar, mereka pun kompak menepuk kening masing-masing. Mereka tak habis fikir dengan Rio saat ini.

"Kak Rio! Lo kog dong-dong sih!" ucap Agni sebal, greget, dan teman-temannya yang lain.

"Kak Rio! Lo yang dari tadi ulur waktu!" kesal Sivia juga greget. Tak jauh berbeda dengan Agni.

"Rio! Lo kog ogeb gini kek adik lo! Janganlah, Yo!" keluh Cakka pula. Sesaat kemudian ia tersentak. Ia salah ucap. Buktinya, kini Agni menatapnya intens dan tajam. Cakka merutuki kata-katanya dalam hati. Bisa-bisanya ia kelepasan berucap kata seperti itu.

Kini ia yang di tatap Agni seperti itu pun bergidik.tak hanya Cakka, Rio dan Sivia pun juga merasakan aura tak sedap di sekitar Agni. Tak lupa juga mereka berdua merutuki ucapan Cakka pula. Sembari merapalkan doa-doa demi keselamatannya, Cakka melihat Agni yang semakin tajam menatapnya. Ditambah lagi kini ia juga mengajungkan telunjuknya ke hadapan Cakka. Cakka tersentak

"Tadi lo bilang apa, kak?" tanya Agni tajam.

"Hah, eh, eung, eung, tadi, nggak, bukan, eeh, itu, eeh...." jawab Cakka tergugup.

"Apa ang-eng ang-eng?" sentak Agni tak terima.

"Enak aja bilang gue ogeb. Ngatain diri sendiri jangan korbanin orang lain dong! Gue bukan cermin." tambah Agni dengan nada ketusnya.

"Udah deh, udah! Kapan baliknya ini kalo kita berantem mulu!" Sela Rio. Ini membuat teman adiknya yang sedari tadi bersamanya menyaksikan aksi debat adiknya dan sobatnya itu mendelik.

"Lo juga kak Rio!" ketusnya.

"Hhe, maaf deh, yoh dah balik! Kasian Mama?" ucapnya sebelum menarik tangan adik semata wayangnya dan melangkah keluar dari rumah yang bisa dibilang cukup megah itu, meninggalkan Cakka dan Sivia yang masih terbengong.

Beberapa detik kemudian mereka tersadar.

"Lah malah ninggalin, dia. Ck ck ck... ayo ikut mereka, Vi!" guman Cakka setelah tertinggal beberapa langkah dari kakak beradik itu.

"Kuy lah, Kak!" balas Sivia.

Mereka pun melangkah mengikuti duo kakak beradik yang jarang akur itu yang kini baru akan tiba di pintu utama rumah itu.

"Yo! Tungguin gue!" panggil dan teriak Cakka.

"Ag! Jangan tinggalin kita!" teriak Sivia pula.

Mereka berempat pun keluar dari rumah itu. Cahaya tampak remang-remang di halaman rumah itu. Ya, karena memang tak ada lampu di halaman rumah itu. Hanya di terangi cahaya-cahaya lampu dari rumah tetangga.

Rumah itu kini tampak lebih mengeramkan daripada yang telihat sore tadi. Penyebabnya masih sama. Tak ada panerangan. Kecuali yang ditemukan Rio dan Sivia di lantas atas tadi. Andai rumah ini diterangi cahaya lampu, pastilah akan terlihat indah. Di tambah bersihnya rumah ini. Bisa jamin kenyamanan jika kita tinggal di sini. Sudahlah. Jangan menghayal.

Mereka berempat berlalu ke rumah Rio. Rio dan Agni, ya pasti mereka pulang dan menemui sang Mama yang sudah tak bertemu hampir 20 hari. Mereka merindukan orang yang telah berjasa melahirkan mereka dari rahimnya itu. Terutama Agni. Padahal belum ada 3 minggu, namun Agni sudah sangat merindukan wanita terpenting dalam hidupnya itu, bagaimana nanti setelah cukup lama ia tinggal di Jakarta dan berpisah dengan sang Mama yang berada di Yogyakarta. Ah mungkin karena sebelumnya ia belum pernah berpisah dengan sang Mama lebih dari 2 hari saat ia persami di sekolahnya dulu.

Sedangkan Cakka dan Sivia selain kendaraan Cakka ada di sana, mereka berdua juga ingin tahu bagaimana bentuk rupa dari Mama sang sahabat masing-masing.

***

"Aku ingin bertemu dan bersama dengan kalian. Merasakan hangatnya kebersamaan. Menikmati Indahnya tawa bahagia bersama. Kumohon bantu aku!" ucap sebuah suara.

----------DBK----------

Lagi pengen post nih. Responnya, ya! Vote n comment.
Terima kasih tetap setia dengan cerita ini.
Ceritanya makin nggak jelas, ya? Alurnya nggak nyambung?
Maaf kalau nggak sesuai harapan. Aku hanya ingin mencurahkan apa yang aku fikirkan. Kalau pun ada yang ngga sesuai, boleh silakan comment! Setiap masukan dari kalian adalah pelajaran untuk saya. Jadi, bantulah saya untuk belajar.
Sekian.
Salam penulis.

Di Balik KeindahanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang