Keempat keturunan Adam tersebut pun telah tiba di kediaman salah satu dari mereka. Ehm ralat, salah dua dari mereka yang merupakan kakak beradik. Yup! Kediaman Rio dan Agni.
Saat masuk ke dalam rumah tersebut, mereka mendapati ada seorang wanita paruh baya tengah duduk gelisah di atas sofa di ruang tengah rumah itu sembari menatap majalah terkadang beralih ke handphone-nya. Siapa wanita itu? Tentu saja itu Mama Ria, orang yang menyuruh mereka pulang sekaligus yang membuat mereka harus menunda acara penelisikan rumah misterius itu, ibunda dari dua saudara kakak beradik, Rio dan Agni.
Segera Agni menghampiri sang Mama dengan berlari kecil sembari menyerukan nama Mamanya.
"Mamaa!" Seru Agni senang. Mendengar itu, Mama Ria menoleh ke arah sumber suara. Didapatinya sang putri bungsunya yang tengah berlari kecil semakin mendekat ke arahnya. Beliau pun tersenyum senang. Raut wajahnya gelisah tadi telah sirna tergantikan oleh ekspresi kelegaan yang sarat akan kerinduan yang amat mendalam. Beliau berdiri dan merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh sang putri bungsu. Dipeluknya tubuh sang anak dengan begitu eratnya. Menyalurkan rasa rindunya yang telah menumpuk bak tugas sekolah yang tak kunjung terselesaikan.
Tak jauh berbeda dengan sang Mama. Agni juga membalas pelukan Mamanya dengan sangat erat. Bulir bening hangat dari mata pun tak dapat dihindarkan kemunculannya. Satu per satu bulur itu berjatuhan dari kedua pasang mata itu. Hingga membentuk aliran anak sungai di pipi keduanya.
"Ma, Agni kangen banget sama Mama!" lirih Agni.
"Mama juga kangen banget sama kamu, sayang!" balas Mama Ria.
Menyaksikan pemandangan yang mengharukan itu, Rio pun tak ingin menyia-nyiakan suasana lagi. Ia pun segera berlari menuju Mama dan adiknya yang tengah melampiaskan rasa rindu antara ibu dan anak itu. Didekapnya erat tubuh Mama dan adiknya. Kalau boleh jujur, Rio juga sangat-sangat merindukan ibunya. Bertahun-tahun berpisah dari orang tua membuat rasa rindu itu telah menggunung dan semakin besar di setiap detiknya. Ya, walaupun sudah seringkali orang tuanya mengunjunginya, dan terakhir saat mengantarkan Agni kemari, pertemuan-pertemuan itu tak mampu untuk mengobati rasa rindunya. Karena memang ia sering sibuk saat orang tuanya berkunjung. Itu pun orang tuanya hanya singkat waktu saja mengunjunginya. Mengingat mereka juga memiliki kesibukan sendiri. Tak mungkin ia menuntut waktu kepada mereka. Kan memang dari awal ia telah membuat keputusan untuk belajar hidup mandiri di sini. Maka ia pun harus menerima segala konsekuensi yang akan diterimanya nanti. Jauh dari orang tua ini terutama. Berat ternyata.
Lama mereka terhanyut dalam suasana penuh kerinduan itu. Sehingga melupakan dunia sekitar. Terlupa akan adanya dua sahabat dari dua kakak beradik itu. Dan terlupa akan kurangnya satu personil lagi yang belum hadir. Siapa? Ehmmmm... Dia adalah.......
"Asiknya yang pelukan! Sampai-sampai Papa nggak diajak." sindir Papa Rio dan Agni. Papa Gio. Sontak semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
"Papa!" seru Rio dan Agni kompak. Papa Gio pun mendekati mereka lantas merentangkan tangannya ketika berada tepan di depan kedua putra-putrinya itu. Mereka berdua pun menyambut rentangan tangan itu dengan dekapan erat sama seperti yang mereka lakukan bersama sang Mama tadi. Bedanya Papa mereka juga mengelus puncak kepala sang anak dengan penuh kasih.
"Udah ih, malu sama temen-temen kalian tuh!" ucap Papa Gio sembari menunjuk pintu utama dimana Cakka dan Sivia berada dengan dagunya. Mereka pun melepaskan pelukan kerinduan mereka. Agni mengusap pipinya guna menghapus sisa air matanya.
"Eh, maaf Kka, Vi! Kita terlalu terbawa sama suasana," ucap Rio. Cakka dan Sivia hanya tersenyum dan mengangguk pasti.
"Eh, kalian berdua kemarilah! Malah berdiri di depan pintu gitu. Ayo sini!" sapa Mama Ria kepada Cakka dan Sivia.

KAMU SEDANG MEMBACA
Di Balik Keindahan
De Todo---------- Menceritakan petualangan 4 orang remaja mencari tau sesuatu yang tersembunyi dibalik sebuah rumah yang terlihat megah. Diwarnai konflik seru para tokoh. ---------- "Aku di sini menyaksikan tawa kalian. Aku senang melihatnya. Jujur, aku i...