"Rhu, jangan terlalu berisik. Kamu punya tetangga."
Malam minggu yang seperti biasa. Kamar sebelah yang selalu gaduh oleh suara cekikikan, sesekali mengumpat, kemudian bersorak sorai, dan aku menebak bahwa Rhu sedang melakukan ritual sesatnya, ia bersama teman-temannya bermain game dan itu sangat menggangguku.
"Makanya kamu diem Rhy, biar nggak tambah berisik." Rhu berteriak keras menimpaliku dari kamar sebelah.
"Heh, kamu nggak hidup di dunia ini sendiri Rhu, ada orang lain yang butuh ketenangan juga."
"Makanya Rhy kamu tuh nggak hidup sendiri, ada orang lain yang butuh hiburan juga. Jadi mari kita saling menghormati." Adiku berteriak dengan lantang, teman-temanya yang menimpali dengan cekikian.
Aku beranjak dari kasur dan melangkah cepat ke kamar adiku yang tepat bersebelahan dengan kamarku. Aku menggedor pintunya dan dengan paksa masuk kekamarnya. 5 bocah ingusan serba tanggung menatapku dengan takut-takut.
"Rhu, main game oke, tapi nggak pakai teriak-teriak!"
"Nggak seru Rhy." Rhu mengaruk kepalanya.
"Kalo gitu besok kamarmu harus pindah ke gudang." Aku berkacak pinggang, wajah mereka tak terlihat menyesal, malah cengar-cengir. "Biyan, betul nggak kalo malam-malam berisik?" Aku beralih bertanya pada salah satu anak yang baru saja menjadi teman Rhu. Aku hapal semua temanya, dan mereka berempat adalah juara bertahan yang meski sering aku marahi tak pernah kapok untuk datang lagi.
"Nggak betul Kak."
"Bagus, itu kamu tahu."
Rhu terdiam, ia mengedikan bahu. "Rhy, harusnya kamu cari temen, biar nggak gangguin kita kalo malem minggu, kalo kamu mau sadar yang berisik justru kamu. Makanya malam minggu jangan cuma gigit jari, di kamar, tiba-tiba marahin kita."
"Mau sama abangnya Biyan Kak? Nanti Biyan kenalin. Biar kak Rhy nggak rusuhin kita ."
OH MY GOD. Aku mangap, mereka sukses menjadi bocah paling sok tahu. Bahkan mereka mendadak menjadi makcomblang. Orang tua mereka pasti tipe asal kasih uang dan anak bahagia. "Nggak perlu repot-repot Biyan, terima kasih."
"Abangnya Biyan cakep kok Kak."
Oh, jadi bocah ini serius? Aku tertawa terpingkal-pingkal. Oke sebenarnya Biyan ini sebagai anak yang baru lulus SD dia cukup imut, rambutnya sedikit ikal dan tak sempurna berwarna hitam, kabarnya ibunya indo, mungkin kakaknya memang tak jauh imut dari dia tapi seorang anak selalu belajar dari yang lebih tua. Jika adikya senakal ini aku tak bisa bayangkan seperti apa kakaknya.
"Terima kasih Biyan. Tapi Kak Rhy ini juga terlalu cantik, jadi mungkin abangnya Biyan nggak secakep itu buat Kakak."
"Bohong juga jangan terlalu kelewatan." Kata Rhu kalem.
Aku melempar Rhu dengan bantal, mereka tertawa dan menghindar kocar-kacir. Memang lebih baik kembali ke kamar dan membaca komik. Aku masih mendengar protes dari Biyan yang memberikan pemahaman pada teman-temanya bahwa Abangnya memang cakep, dan Rhu masih begitu ngotot untuk menggunjingkanku bahwa aku ini monster kesepian yang kekanak-kanakan. Dan para bocah ingusan itu kembali melanjutkan hingar bingarnya. Kudengar mereka bersepakat satu suara bahwa aku tak secantik yang kukatakan. Aku hampir menyiram bensin dan membakar mereka semua jika bukan karena membakar orang hidup-hidup adalah tindakan criminal yang tercantum dalam UU.
Aku berbaring di kasur menatap kalender yang tergantung ditembok, ada lingkaran warna merah pada tanggal 12 Semptember. Aku mendesis atas kekonyolanku. Tinggal 2 hari lagi, tanggal dimana aku mendapat undangan yang aneh dari Lan. Maksudku, aku juga tak yakin benar itu semacam undangan dalam arti memang betul-betul mengundang, atau sebuah ancaman. Pesannya terlalu absurd untuk dipahami. Sejujurnya dimana pula lokasi yang ia sebutkan aku sungguh tak tahu, tapi mengingat disana ada pohon besar mungkin saja aku hendak digantung dan dikuliti seperti kambing, tapi aku sudah menyiapkan hati dan mental, sudah sejak kemarin aku selalu berangkat sekolah dengan lari pagi, aku juga banyak membaca komik tentang kungfu dan karate, jika besok terjadi hal-hal yang tak diinginkan maka saat itulah waktunya mempraktikan apa yang sudah kupelajari dari komik. Aku takut? Oh no, apa yang perlu ditakutkan dari bocah tengik yang berlagak karena beruntung wajahnya tampan. Mungkin sebanarnya ia juga penyakitan karena kulitnya yang kupikir terlewat putih dan berkilau, bukankah bagi laki-laki itu tak wajar? Matanya yang sekilas juga sedikit biru, apa sebanarnya itu juling? dan jari-jarinya yang panjang, tulang-tulangnya yang terlihat menonjol, bahunya yang bidang, dan tubuhnya yang tinggi,...........Oke Rhy kamu gila!
YOU ARE READING
nice to see you
Teen FictionRhyanti Putri atau Rhy, tidak pernah terobsesi apapun selama 17 tahun hidupnya, hingga ia masuk SMA dan bertemu dengan Danar. Danar laki-laki yang baik, pintar, dan yang paling penting dia adalah penolongnya melewati kejadian paling memalukan dalam...
