"Lihat, kamu lihat? Hubungan yang aneh, nggak begitu orang yang suka sama suka."
Aku menghentikan suapanku, beberapa nasi berjatuhan lagi kekotak makanan. Tara tiba-tiba bertengger manis duduk di depanku tak peduli seberapa kagetnya wajahku. Mata Tara menyipit mengawasi Lan dan Archi yang sedang membahas botol berisi cairan yang kurasa jika itu bukan parfum mungkin obat pencahar.
"Kamu lihat!" Tanganya memiringkan wajahku agar menghadap meja mereka. "Coba lihat Rhy, apa mereka terlibat obrolan yang seru? Ya." Tara menaggut-manggut. Melontarkan pertanyaan dan menjawabnya sendiri. "Tapi yang heboh cuma Arsinta aja. Lihat wajah Lan, memang terlihat antusias tapi juga nggak berwarna, aduh gimana ngasih istilahnya ya. Itu wajah penghormatan tapi...." Tangan Tara memijit-mijit dahinya, ia terdiam sejenak, lalu menatapku sambil menghela nafas berat. "Aku semalem nggak bisa tidur dan terus mikirin ini. Ada banyak hal janggal dan perlu untuk kita tahu. Iya kan Rhy?"
Aku meletakan sendok dan menyipitkan mata. Aku mendengar ia menyebut 'kita' lagi. Dan sekarang dia duduk di depanku, memberikan perhatian atas masalahku dan menjadikanya seakan masalahnya juga. Tara seperti sedang bermain lenong.
"Rhy, kita bikin misi 007."
Ha?? Baru saja sejenak kupikir istirahat siang ini aku bisa menikmati bekal makanku, tapi Lan yang sudah lama pergi digantikan oleh Tara yang kemudian datang. Sejak kapan ia merasa bisa beramah tamah seperti ini denganku.
Aku tak menggubrisnya dan terus mengaduk-aduk makan siangku dengan tak bersemangat. Misi 007? Kekonyolan apa yang membuat kepalanya mencetuskan sebuah nama aneh itu. Rasanya belum lama sejak aku membatalkan misi gencatan senjata yang akan kulakukan bersama Winar untuk menumpas nenek sihir Archi. Setelah dengan alot aku meyakinkannya bahwa betapa terkesan sirik dan irinya aku padanya. Tapi kini bahkan datang lagi relawan yang mengaku siap berani mati.
"Rhy? Fokus Rhy!" Tara menatapku lamat-lamat dan mengacungkan dua jari kemataku "Kita sukseskan misi ini bersama."
"Kamu lagi ngapain?" Aku menopang dagu. "Siapa yang kamu sebut dengan 'kita', dan sejak kapan aku dan kamu wajar ngobrol begini? Apa kamu salah makan?"
Tiba-tiba Tara menempelkan telunjuknya kemulutku. "No no no, no Rhy! Jangan mengalihkan pembicaraan ke hal yang nggak penting. Kita harus fokus Rhy, kalo nggak rencana ini akan sia-sia. Okey? Tenang aja, kalem. Kita akan bergerak santai tapi pasti, itu moto kita mulai hari ini. Mari kita satukan kekuatan."
INI ANAK UDAH SINTING. Satukan kekuatan gundulmu!!
Tangan Tara menggengam tanganku erat dan jidatnya mengerut begitu serius. Aku menunggu ia akan melemparkan ejekan atau hal-hal tercela lainya seperti biasa ia berbuat dosa padaku, tapi hingga selang berlalu Tara tetap merengut serius.
"Kita bertiga akan bagi tugas." Tara seperti komandan hendak maju perang.
"Kita bertiga, siapa?" Aku melepaskan tanganku dari tanganya.
"Aku. Kamu. Anabel."
"Anabel?!" Aku memekik.
Tara mengangguk mantap. Ia tak terlihat paham jika barusan aku sangat kaget. Aku melongo. Menghembuskan nafas berat menatap Tara tak tahu harus begaimana.
"Nggak ada misi Ra, dan nggak perlu ada yang dicari tahu."
"Ayolah Rhy. Apa kamu nggak penasaran? Kamu nggak punya mimpi kalo siapa tahu ternyata Lan lebih suka kamu dibandingkan Arsinta? Coba pikir walaupun cuma berimajinasi."
"Gini ya Ra, bukannya kamu juga suka dia? Laksanakan misi gerilyamu itu sendiri."
Tara terdiam, alisnya berkerut, lalu sekejap kemudian tersenyum tipis. "Mungkin enggak juga."
YOU ARE READING
nice to see you
Teen FictionRhyanti Putri atau Rhy, tidak pernah terobsesi apapun selama 17 tahun hidupnya, hingga ia masuk SMA dan bertemu dengan Danar. Danar laki-laki yang baik, pintar, dan yang paling penting dia adalah penolongnya melewati kejadian paling memalukan dalam...
