Meja makan hari ini penuh berbagai macam hidangan, dari makanan berat hingga cemilan. Sup, sambel goreng kentang, emping, ayam bakar, lalapan, sambal, gurameh asam manis, oseng kangkung, kerupuk, buah dan entah apa lagi. Ini semua membuatku berteriak gembira. Entah ada acara apa, yang penting aku bisa makan banyak. Jarang sekali Mamah masak sebanyak ini meski sering mendapat pesanan catering.
"Mah," Aku duduk mencomoti kentang goreng. "kenapa masak banyak?"
"Hari ini mau ada tamu."
Aku mengiyem tak percaya "Biasanya juga cuma air putih."
"Kamu dari pada ribut mendingan cuci tangan dan bantu-bantu."
"Siapa yang mau datang?" Aku mencomot pisau dan mulai mengiris kentang.
"Teman Mamah dan Papah dulu waktu kuliah."
Aku mengangguk ber-oh. "Itu rumah urutan ketiga lagi dibangun ya? Berisik."
"Rumah itu mau dipakai penghuni yang baru, Bu Jaya kan sudah pindah, rumah itu dijual. Nah yang mau pakai itu temen Mamah."
"Yang mau datang kesini ini?"
Mamah mengangguk sambil membubuhi garam dan merica ke dalam masakanya. "Tetanggaan kan jadi rame. Oh kamu masih inget sama Archi?"
Aku menghentikan tanganku memotong, berusaha mengingat-ingat. Archi? "Kok kayak nama anjing?"
Centong mendarat dijidatku. "Kamu kok kalo ngomong sukanya ngawur begitu."
"Archi siapa?" Sungguh itu nama anjing. Tapi aku bahkan tak punya riwayat apapun yang berhubungan dengan anjing.
"Kalian itu kan suka main bareng dulu waktu TK sampai SD, yang suka kamu gandeng kemana-mana itu yang anaknya agak cengeng, kecil, manis. Archi pindah ke Jakarta waktu kelas lima SD dulu kan?"
Siapa? SD itu sudah berabad-abad yang lalu. Archi yang cengeng? Aku memutar otak dan mataku terbelalak, mulutku melongo sempurna "Archi yang itu? Adeku?"
Mamah menatapku tidak setuju "Dulu dia memang badannya lebih kecil dibanding kamu tapi kalian kan seumur."
"Apa dia sekarang jadi cantik? Entah masih cengeng apa nggak. Dulu kalo dia dijahilin sama bocah-bocah badung, Rhy yang selalu belain. Mamah tahu anak yang gendut, putih kayak piggy itu yang sukanya bertingkah sok preman? Dia dulu suka nakalin Archi, entah siapa namanya. Kayaknya si dia suka sama Archi makanya begitu, kelewatan luar biasa. Saking nakalnya pernah Rhy lempar jidatnya pakai tempat pensil, sampai berbekas merah. Rhy sampai dibilang Herdernya Archi. Jahat banget." Crak Crak aku memotong kentang dengan kasar. "Tapi Archi juga disebut pudelnya Rhy, Mah."
"Ngawur ah. Iya dulu kita tetangga, sekarang kebetulan jadi tetangga lagi."
Aku mengeluarkan banyak boneka. Dia suka boneka aku tahu, aku punya banyak di lemari. Tak pernah terpakai apalagi kumainkan, aku lebih suka komik. Kebetulan aku anak perempuan pertama jadi dibelikan banyak boneka, beranjak besar Mamah mulai berinisiatif untuk membungkusnya dalam kardus dan merana di dalam lemari yang gelap. Aku mandi tiga kali lebih lama dibandingkan biasanya, berkeramas, luluran yang tak pernah kulakukan seumur hidupku, dan memakai pakaian senyaman mungkin. Aku tahu mangga di belakang rumah sudah berbuah dan Archi sangat menyukainya, jadi aku berencana untuk naik ke atas pohon dan memetikan beberapa buah untuknya. Sebenarnya aku sangat gembira ketika Archi menganggap ku superhero ketika di atas pohon.
YOU ARE READING
nice to see you
Novela JuvenilRhyanti Putri atau Rhy, tidak pernah terobsesi apapun selama 17 tahun hidupnya, hingga ia masuk SMA dan bertemu dengan Danar. Danar laki-laki yang baik, pintar, dan yang paling penting dia adalah penolongnya melewati kejadian paling memalukan dalam...
