Udara dingin menusuk tulang, berkali-kali namja ini menggosokkan kedua telapak tangannya berharap sedikit rasa hangat dapat mengaliri tangannya.
"Aish jinja, kenapa malam ini sangat dingin eoh?" Gerutunya.
"Kalau begitu cepatlah pulang, nyalakan penghangat lalu tidur" Timpal namja lain berlesung pipit.
"Jooheonie, kau tahu kan walaupun tadi sudah kita kerjakan bersama, tugas sekolah kita masih saja tetap banyak" gerutunya lagi.
"Ya! Son Hoseok, wajar saja, kita kan kelas 3 sekarang. Jadi, ya beginilah"
"Iya hegh.. jika saja eomma tidak menyuruhku harus masuk SMA favorit seperti Hyungwoo hyung, aku tidak akan pernah mau ikut bimbingan belajar sampai selarut ini."
"Hyungmu memang luar biasa kan? Dengar-dengar dia mau dapat beasiswa ke Amerika?" Jooheon semakin penasaran.
"Ne,, karena itulah aku menjadi minder karena eomma sering membandingkan kami"
"Sudah-sudah, sudah malam, ayo kita pulang" Jooheon merapikan jaketnya, memakai sarung tangan, "Kajja" ajaknya.
"Ne..., sampai ketemu di sekolah Jooheon" Hoseok berbelok arah, mengambil jalan lain menuju rumahnya.
Jalanan terlihat sepi, wajar saja karena ini sudah lewat jam 10 malam. Lagipula jalan ini jarang dilewati orang jika sudah malam seperti ini. Dalam hati Hoseok pun enggan, tapi demi bisa mengikuti les dia mau tidak mau harus melewati jalan ini.
Rumahnya tidak terlalu jauh dari saat mereka berpisah tadi. Hanya saja, dia melihat kekanan, kekiri kedepan, dan menoleh dibelakang hanya ada dia seorang. Angin dingin berhembus pelan, menyapu tengkuknya membuatnya bergidik.
"Sebentar lagi Hoseok ah! Sebentar lagi" Ucapnya pelan berkali-kali. Kakinya melangkah lebar-lebar supaya cepat sampai rumahnya. Tangannya membuka pintu dan setengah berlari masuk.
Tanpa dia sadari, seseorang yang lain melihatnya dari jauh.
"Dia sungguh lucu" senyumnya samar melihat tingkah laku Hoseok yang dari tadi dia perhatikan.
. . .
Dikelas
"Jooheonie, aku bersumpah, rasanya beberapa hari ini ada yang mengikutiku" itulah kalimat pertama yang diucapkan Hoseok setelah bell istirahat berbunyi.
"Bilang saja kau takut"
"Aku? Takut?" Tunjuknya pada diri sendiri.
"Dengan mengatakannya langsung padaku sedetik setelah bell istirahat seperti ini membuktikan bahwa kau ketakutan" Jooheon mamainkan pulpennya.
"Anniya.. aku tidak takut berjalan sendirian. Tapi masalahnya aku merasa di ikuti seseorang dan aku tidak bisa melihatnya" Hoseok menopangkan dagunya, menghela nafasnya berat.
"Jika kamu penasaran, bagaimana kalau nanti malam aku menemanimu pulang? Kita tangkap orang itu bersama-sama" usul Jooheon.
"kau memang yang terbaik Jooheonie" Hoseok merangkul pundak Jooheon kuat, menepuk-nepuk bahunya.
"Aku tahu.., herannya mengapa kau baru tahu aku baik" Mereka tertawa bersama.
Sementara itu dilain tempat.
Sebuah kastil tua terlihat tersembunyi ditengah hutan. Pohon pinus menjulang tinggi menyamarkan semua orang dari tempat ini. Sebagian penjelajah hutan yang handal beberapa kali samar melihat tempat ini.
Hanya saja lebih baik mereka menganggapnya sebuah fatamorgana saja, berbalik arah, pulang dan melupakannya. Karena jika mereka akan mengulangi dan mencarinya lagi, dipastikan mereka akan hilang ditelan hutan, dan tidak akan pernah kembali.

KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei No Akai Ito (Benang Merah Takdir)
FanfictionKonon, dijari kelingking setiap orang terhubung benang merah takdir yang menghubungkannya dengan cinta sejatinya. Bagaimanapun dan dalam keadaan apapun benang itu tidak akan terputus, sekalipun terpisah jarak yang jauh, maupun melewati dimensi ruang...