Bab 8

236 25 0
                                        

Tebak hayo siapa?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tebak hayo siapa?

¤¤¤

Lantas masih pantaskan aku disebut pembunuh? Setelah semua yang aku lakukan untukmu.
Bukannya aku tidak ikhlas, namun aku hanya ingin keadilan.

¤¤¤

BELVA mencari kunci duplikatnya di dalam ransel sekolahnya. Untungnya dia selalu membawa duplikat itu.

Setelah pintu rumahnya terbuka, Belva buru-buru menuju lantai dua untuk ke kamarnya. Mencari barang yang tertinggal disana.

Belva membuka laci di samping kasurnya, mengambil benda kesayangannya. Kalung peninggalan almarhumah Mamahnya. Setelah menutup laci itu Belva bergegas turun. Ia takut akan bertemu Gani. Dugaan Belva jika Gani sampai melihatnya pasti akan kembali diusir dan dimarahi habis-habisan.

Belva menuju dapur, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Ia melihat meja makan, tidak ada makanan sama-sekali. Sepertinya Gani sering makan diluar.

Belva berniat memasak untuk Gani. Setidaknya walaupun jika nanti makanan itu tidak dimakan yang terpenting Belva sudah berusaha. Belva membuka kulkas dan tidak ada bahan makanan apapun disana, telur saja tidak ada. Belva menuju pintu untuk pergi ke minimarket.

Namun, setelah ia menutup gerbang rumahnya ada Rey disana dengan rawut wajah cemas dan masih menggunakan sepatu sekolahnya.

Aneh. Tadi Rey berpesan kepada Belva, jika Belva ingin pulang, Belva harus mengirim pesan kepada Rey terlebih dahulu agar Rey yang menghantarkan Belva pulang. Tapi mengapa Rey sudah ada disini, padahal Belva belum memberitahunya ingin pulang.

Belva mendekat ke arah Rey, "kan belum gua chat Rey?"

Rey memberi helm untuk Belva. "Ibu sakit! Kita kerumah sakit sekarang."

Belva belum sepenuhnya mencerna ucapan Rey. "Sakit apa?"

Belva menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia salah bertanya. Ia buru-buru naik ke atas motor Rey. Rey menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.

Disela-sela mengendarai motornya, Rey berkata, "Typus."

Belva hanya mengangguk tidak ingin membuat suasana semakin ribet dan malah membuat Rey tidak konsen.

Tidak lama mereka sudah sampai di rumah sakit milik keluarga Rey. Dan Belva baru tahu bahwa keluarga Rey mempunyai rumah sakit sebagus ini.

Mereka menuju kamar tulip dilantai dua, kamar Ica dirawat. Setelah mengucap salam dan mengetuk pintu, mereka masuk. Terpampanglah wajah pucat Ica. Selang impus ditangan kirinya.

"Ibu..."

Ica tersenyum melihat anak laki-lakinya datang. "Abang kenapa belum ganti seragam?"

Rey menggeleng, "Bu, Rey mana sempet sih mikir sampai ke situ, Rey kepikiran sama Ibu."

Garis LukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang