Bab 3

406 35 0
                                        

Berubah menjadi lebih baik nggak salah kan?
Toh, ini kemauan gua sendiri, bukan tuntutan orang lain.

^^^

Di Bandung, sore itu terasa menyejukkan. Taman, segelas jus jeruk dan juga Belva. Rey mengantarkan Belva pulang, namun ia tak langsung pulang. Ia memilih untuk bertamu sebentar dirumah Belva. Rey ingin sedikit mengulik tentang Belva. Siapa tahu Rey berhasil kali ini.

"Bel, dirumah sendiri? Nggak ada pembantu?" Rey yang pertama membuka perbincangan.

Belva yang sedang melamun, akhirnya menjawab pertanyaan Rey. "Iya, nggak ada pembantu."

Mata Rey menjelajahi sekitar taman belakang rumah Belva. Masih sangat hijau, udaranya pun sangat sejuk, ditambah ada kolam ikan ditengah nya. "Orangtua lo kemana?"

"Udah meninggal, sejak gua baru masuk SMA." Rey bisa melihat raut sedih dari wajah Belva setelah ia menjawab. Rey hanya mengangguk, tidak mau meneruskan perbincangan yang sensitif bagi Belva.

"Gua tinggal sendiri. Kadang Kakak gua pulang, paling sekali atau beberapa kali setiap seminggu. Maka dari itu gua nggak perlu pembantu." lanjut Belva.

Rey tersenyum, Belva sudah lebih sedikit terbuka kepadanya. "Terus kenapa lo kayanya--eh rasanya gua baru pertama lihat lo pas dipinggir jalan? Lo bukan anak baru kan?"

Belva tertawa kecut. "Bukan, awalnya seperti kebanyakan anak lainnya, awal masuk SMA gua pengen punya temen banyak. Entah, mereka nggak ada yang mau temenan sama gua, dan akhirnya gua lebih memilih sendiri, menutup diri."

Rey mengangguk. "Sekarang lo temen gua, ya?"

Belva menoleh ke arah Rey, menatap Rey intens dari rambut hingga ujung kaki, lalu matanya kembali menatap kolam didepannya. "Gua nggak mau temenan sama pentolan sekolah, anak bandel!"

Rey terkejut, rupanya Belva mengenal dia adalah pentolan sekolah. "Kenapa?"

Belva menghela napas, "takut. Gua nggak punya temen sama sekali," Belva berpikir sejenak. "Cuma Anin mungkin kayanya yang mau temenan sama gua. Terus tiba-tiba gua temenan sama pentolan sekolah? Aduh, makin banyak deh yang nggak mau temenan sama gua." Belva berkata jujur. Memang Anin lah yang selama ini mamaksa Belva untuk menjadi temannya.

"Gua bakal berubah, kalo lo mau jadi temen gua, janji deh." Rey mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, membentuk huruf 'V'.

Entah, apa yang ada dipikiran Rey kala itu. Ia hanya berniat membantu gadis yang sekarang ada didepannya. Walaupun ia rela menjadi anak baik sekalipun. Memang dari dulu ia berniat merubah perilakunya, namun belum ada alasan yang tepat. Dan sekarang ia telah menemukan alasannya.

***

Malam hari dirumah Belva selalu sepi bahkan setiap saat. Belva selalu mencari cara agar tidak merasa kesepian. Dengan menyibukkan diri seperti: Membaca buku pelajaran, bahkan sampai melihat TL.

Belva yang sedang membaca buku Kimia dialihkan dengan suara nada dering dari ponselnya yang menandakan ada telepon masuk. Diraihnya mendapat tersebut, lalu didekatkan ke telinganya.

"Hai, Bel! Gua main ya ke rumah lo? Orang rumah lagi keluar kota, boleh kan sekalian nginep?" langsung disambut suara cempreng khas Anin.

"Gak!" kata Belva ketus.

"Gua udah didepan nih, cepetan bukain pager!"

Garis LukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang