Bab 2

494 42 1
                                        

Hidup itu tantangan. Kalo lo maunya ketenangan, mending mati aja. Tenang dialam sana.

^^

Semenjak kejadian kemarin, Rey benar-benar penasaran. Penasaran dengan gadis yang merupakan satu sekolah dengannya, namun ia tidak mengenalnya, melihatnya pun tidak pernah.

Saat pelajaran Bahasa Indonesia, Rey berusaha keras untuk tetap berkonsentrasi(terpaksa),  karena Pak Didik--guru Bahasa Indonesia sangat disiplin dan sering mengadakan kuis dadakan. Walaupun Rey merupakan pentolan, alias anak nakal. Dia tidak pernah tidak mengerjakan tugas dari Pak Didik. Menurut Rey, Pak Didik terlihat sedikit mirip dengan Alm Kakeknya, maka dari itu dia sangat menghormati beliau.

"Gua udah tau!" Alfa berbisik.

Rey tak paham. Dia sedikit memajukan dagunya, apa. Rey tidak bersuara. Ia tidak ingin sedikitpun mengganggu Pak Didik yang tengah fokus menulis dipapan tulis. Rey kembali menatap papan tulis, sesekali menulis dibukunya. Rey tidak menulis yang ditulis oleh gurunya dipapan tulis itu. Rey hanya menulis daftar-daftar komik yang berada di perpustakaan mini rumahnya, milik Key, adiknya. Rey sudah hafal betul judul-judul komik yang disukai adiknya tersebut.

Pletak! Alfa memukul Rey dengan buku paket tebal.

"Apaan, sih pukul-pukul!" teriak Rey. "Sakit, beon! Mana pake itu buku paket. Astajim, Alfa." Rey membalas Alfa. Berulang kali memukul sipelaku yang memukulnya tadi dengan buku yang sama.

"REY! ALFA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

Teriakan dari suara Pak Didik yang memberhentikan aksi mereka. Rey dan Alfa memohon agar Pak Didik tidak mengeluarkan mereka dari kelas. Namun nihil, mereka tetap keluar.

"Lu, sih, Rey. Pukul-pukul segala," Alfa menyalahkan Rey. Padahal sudah jelas ia yang tadi mulai lebih dahulu.

"Ye, kamvret! Lu yang duluan!" Rey membela diri.

Ketika Rey menoleh ke arah taman samping sekolah, jantungnya langsung berhenti melihat seseorang duduk disana.

Rey pun tidak mengerti apa yang salah dari jantungnya. Melihat gadis itu, hati nuraninya mengatakan agar dia membantu gadis itu. Rey tidak tahu, apa yang harus dilakukan nya.

"Belvary Bellania, XI IPA-1, satu komplek sama rumah lo!" celetuk Alfa yang mengetahui bahwa Rey sedang memeperhatikan Belva.

Rey menatap Alfa intens. Seperti bertanya, Yakin? Tau dari mana?"

Alfa memutar bola mata, jengah. "Belva. Dia itu salah-satu siswa berprestasi di sekolah kita. Cantik sih, tapi menutup diri banget."

Rey kembali mengalihkan pandangannya ke arah Belva, "menutup diri? Maksudnya?"

Alfa mengangkat bahu. "Nggak ngerti. Dia itu selalu sendiri, antara nggak punya temen atau memang nggak mau punya temen."

Dari situ, Rey malah semakin ingin mengenal gadis yang sedang duduk sendiri dibawah pohon rindang itu, tanpa kursi, dan tanpa sebuah buku. Matanya tajam, menatap kekosongan.

Rey berbalik, menuju toilet, sendiri. Alfa tidak ingin ikut, menunggu dikursi yang disediakan dikoridor setiap depan kelas. Rey mendengar sayup-sayup Alfa mengatakan.

"Katanya, dia punya temen yang tak terlihat."

Lemas. Rey yang mendengarnya sangat lemas. Walaupun Rey jagoan di sekolahnya. Jika mengangkut urusan beda alam nyalinya akan ciut. Dia lebih senang jika harus melawan 20 preman daripada menonton film horor.

Setelah selesai dari panggilan alamnya, Rey tidak langsung kembali ke depan kelasnya. Ia menuju taman samping sekolah. Melihat gadis itu dari jauh. Rambut panjangnya, badan yang sering disebut body goals oleh kalangan anak muda sekarang, dan cardigan yang selalu dipakainya kapan pun.

Garis LukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang