Menyakiti diri sendiri termasuk dalam sebuah kategori kesalahan terbesar dalam hidup. Jika kamu menyakiti diri sendiri, bagaimana orang lain ingin menyayangimu?
¤¤¤
"Ini tempat kostnya, Bel? Mau nggak?"
Suara dari Rey membuyarkan lamunan Belva. Sekarang mereka sedang berada di dalam sebuah kamar kost.
Belva mengangguk. Fasilitas di kamar kost ini sudah lengkap. Kasur, lemari, ac dan yang terpenting kamar mandinya di dalam.
Belva tidak mau jika kamar mandinya di luar. Itu akan membuatnya memakan waktu. Karena kamar kost ini jauh dari sekolahnya dan juga komplek rumahnya. Sesuai dengan keinginanya.
"Bel, di rumah gua aja sih. Gua nggak yakin ngebiarinin lo ngekost sendiri gini."
Belva terkekeh. Baru beberapa minggu bertemannya dengan Belva, Rey sudah sangat khawatir. Belva benar-benar bersyukur kali ini.
Rey ijin keluar untuk mengambil barang-barang Belva. Sebelum mereka kesini, mereka pergi ke rumah Belva terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang Belva. Untunglah hari ini hari minggu, jadi mereka bisa berberes-beres dahulu.
Belva mulai menyusun pakaiannya dengan rapih, lalu ditata di lemarinya. Sedangkan Rey membantu menyusun rak sepatu.
Tiba-tiba terdengar ponsel berbunyi. Ada telepon masuk.
"Bel, hp lo bunyi tuh. Angkat dulu."
"Angkatin aja tolong Rey, gua nggak bisa bangun. Hp gua ada di tas di atas kasur."
Belva tidak berbohong. Di atas pangkuannya memang banyak baju-baju jadi jika ia bangun akan membuat susunannya berantakan.
Rey bangkit dari posisinya, mengambil handphone Belva di tasnya.
"Assalammualikum. Hallo."
"....."
"Rey tampan disini. Belva lagi susah bangun katanya."
"....."
Terlihat Rey menjauhkan handphone Belva dari telinganya, sepertinya orang yang di sebrang telepon berteriak.
"Aduh, budeg nih nanti kuping gua!"
"....."
"Bodoamat!"
Rey menutup teleponnya secara sepihak.
"Siapa Rey?" Belva bertanya.
"Anin. Aduh pake teriak-teriak segala lagi, sakit nih kuping gua." Belva hanya tertawa mendengar aduan dari Rey.
Semuanya kembali ke tugasnya masing-masing. Hingga akhirnya selesai. Belva mengambilkan Rey minum yang sebelumnya ia beli di mini market sebrang jalan.
"Rey..."
"Hmm?"
"Makasih, ya. Udah bantu gua."
Rey tersenyum, "bukannya itu tugasnya teman? Enakan Bel, punya teman itu?" Rey mengusap rambut Belva dan anehnya Belva hanya mengangguk tanpa menghindar.
"Teman itu tempatnya berbagi. Lo bisa kapan aja cerita masalah apapun sama gua, Bel. Apapun, dimanapun dan kapanpun. Lo harus yakinin hati lo, bahkan lo sekarang nggak sendirian. Lo. Punya. Gua." Rey menunjuk hati Belva yang ada di depannya. "Dan lo nggak perlu melakukan sesuatu yang menyakiti fisik lo cuma buat melampiaskan rasa kesedihan lo, Bel."
Belva menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. Ia berpikir, lalu meruntuki kecerobohannya sendiri.
"Buka kardingan lo, Bel!" Belva menggeleng membuat Rey semakin emosi. "Sekarang! Cepetan buka,Belva!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Luka
Fiksi RemajaCover by @itsmeyeremia Belvary Bellania. Gadis cantik yang memiliki banyak rahasia dan misterius. Tidak pernah terjamah di sekolahnya. Relandio Reyvandi Atmidja. Pentolan sekolah yang berubah menjadi anak baik. Hanya demi berteman dengan seorang...
