Derap langkah Jevin terdengar pelan di salah satu koridor sekolah yang terletak di lantai tiga.
Langkahnya tertuju pada seorang pria yang sedang tertunduk lesu di balkon koridor seraya sesekali menengok ke bawah ke arah lapangan sekolah.
"Bang?" Sapa Jevin kikuk.
"Mmmm?" Ucap pria itu seraya menengok ke arah Jevin seakan ia telah mengetahuinya.
"Tolong bantuin gue. Ini yang kesekian kalinya gue bilang ini. Gue suka sama adek lo."
"Gue udah bilang kalau suka ya suka aja."
"Bang plis lah. Laki laki yang ada di hatinya itu cuman lo doang katanya meskipun lo itu kakaknya."
"Tanya dia. Gue gak ada urusan." Ujarnya datar tanpa menengok.
"Tapi gue suka sama dia. Tolonglah abang fikirin lagi. Abang perbaikin hubungan lagi biar aku ada tempat dihatinya walaupun sedikit. Jangan egois. Dia sayang sama lo bang." Telah merasa cukup dengan ucapannya, Jevin akhirnya meninggalkan Danar yang terlihat acuh.
Danar Prasetya, adalah seorang kakak kandung dari seorang perempuan yang bernama Diva Ameera. Lima tahun yang lalu, mereka adalah dua saudara yang saling sayang satu sama lain. Tapi, sejak ayah mereka berselingkuh dengan perempuan lain, kehidupan keluarga mereka mulai hancur sedikit demi sedikit. Tak berselang lama, ayahnya pun menggugat cerai ibu mereka dan meminta hak asuh anak. Danar yang sangat menyayangi ibunya tentu tak tak ingin ikut bersama ayahnya. Tapi sebaliknya dengan Diva, ia justru lebih memilih untuk ikut bersama ayahnya dan menolak untuk ikut bersama ibunya. Disinilah awal dari kekecewaan Danar kepada adiknya Diva.
Kebencian dan kekecewaan Danar tambah menjadi sejak ibunya meninggal dua tahun yang lalu. Saat ibunya meninggal, Danar merasa sungguh kesepian. Tak ayahnya dan tak adiknya, tak satupun dari mereka yang menengok Danar. Disaat inilah Danar berubah menjadi seorang yang keras kepala layaknya batu. Ia sungguh sangat rapuh, tapi membatu adalah caranya untuk bertahan. Bertahan dari bentuk mengasihani diri sendiri dan menghindar dari segala bentuk rasa iri yang dimiliki orang lain yang tak bisa ia miliki. Kebahagiaan.
Tak berselang lama, Diva pun pindah bersekolah di sekolah Danar. Ia berfikir jika ia satu sekolah dengan kakaknya, mungkin itu akan membuat hubungan mereka menjadi lebih baik. Tapi justru sebaliknya, hingga Danar hampir lulus dari sekolah itu, tak pernah sekalipun ia menyapa adiknya.
Dari sekian banyak siswa di sekolah yang mengetahui Danar, tak ada satupun dari mereka yang mengetahui bahwa Diva adalah adik dari Danar Prasaja. Diva sendiripun tak ingin menceritakan pada semua orang di sekolah itu. Ia tak ingin membuat kakaknya merasa terganggu karena itu. Tapi berbeda dengan Jevin, seorang pria yang bersungguh sungguh untuk mendapatkan tempat di hati Diva. Ia selalu saja mendengar keluh kesah yang diceritakan oleh Diva padanya. Hingga tiba suatu hari, ia tahu bahwa perempuan yang ia kejar adalah adik dari seorang idola di sekolah mereka.
****
"Haii cewek. Sendiri aja neng." Jevin mengejutkan Diva yang baru saja keluar dari toilet perempuan.
"Heh? Kok disini? Ngapain?" Tanya Diva celingak celinguk.
"Habis dari atas. Tadi aku ketemu sama kakak kamu. Hayooo."
"Lah terus? Hayoo tuh maksudnya apaan?" Ucap Diva yang tak lagi sehisteris seperti kemarin ketika mendengar nama Danar.
"Lah, gak ceria banget neng. Pms ya? Setau aku kalau pms kan ceweknya marah marah. Serem gitu sih."
"Gak pms tau."
"Terus apa dong? Sms? Mms?"
"Itu ngelucu atau apaan ya? Hahaha. Gini sih, aduh gimana ngomongnya ya."
"Udah ada perempuan di hati kakak aku Jev. Gimana dong." Ujar Diva berjalan menuju kursi panjang dekat toilet yang diikuti oleh Jevin.
"Seriusan? Ya bagus dong. Biar kakak kamu ada yang ngasih perhatian dikit. Kasian, sendirian dia."
Setelah mendengar kalimat terkahir yang diucapkan Jevin, seketika Diva berdiri dan berlari meninggalkan Jevin.
"Div...." Teriak Jevin yang tak sadar akan ucapannya.
Kalimat terakhir Jevin sangatlah menyakitkan bagi Diva. Ia merasa bersalah karena saat itu telah meninggalkan kakaknya. Mungkin memang betul jika saat ini kakaknya sudah wajar untuk memiliki pacar. Tapi ia merasa belum siap untuk melihat seorang perempuan merebut kasih sayang milik kakakknya yang seharusnya bisa ia rasakan juga.
****
Drrrttt Drrrttt
Ponsel Diva bergetar
"Mmm?"
"Salah aku apa kamu tinggalin tadi? Tadi juga pas aku balik ke kelas, kamu gak ada. Kata Aeleasha kamu sakit jadi izin pulang. Sakit apa?" Diva masih terdiam dengan katanya.
"Halo? Nangis?"
"Gak kok. Gak enak badan aja."
"Soal kakak kamu? Atau apa? Atau emang lagi pms? Plis akutuh gak pekaan orangnya. Jadi kalau aku salah, ya tegur aku."
"Diva?"
"Aku suka sama kamu. Aku harus gimana lagi?" Tanya Jevin beruntun yang tak dibalas sesahut pun oleh Diva.
"Salah kalau aku ketemu sama kakak kamu?"
"Gak kok Vin, kamu gak salah."
"Lah terus apa. Jangan diemin aku dong."
"Atau kamu udah gak mau aku suka lagi? Ini cara kamu buat nyuruh aku mundur?"
Diva sungguh terdiam. Ia kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan Jevin yang satu ini.
"Kak Danar suka sama Aeleasha." Sekuat hati ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk membahas tentang privasi kakaknya yang sebetulnya tak ingin ia ceritakan.
"Lah terus? Bagus dong. Biarin lah Div. Kamu sampai kapan mau nyiksa diri kamu gini. Kakak kamu tuh gak pernah mikirin kamu. Udahlah."
"Kamu tuh gak ngerti. Gak pernah ngerti Jev."
"Gak ngerti apanya? Aku. Kapan aku punya tempat di hati kamu? Apa memang aku harus mundur?"
"Capek?"
"Gak. Aku gak pernah capek buat dapetin kamu. Tapi aku gak bisa maksa Div. Aku gak bisa maksa kamu buat suka sama aku. Selama ini kamu mungkin memang respon sama aku. Tapi aku harap itu tulus. Bukan karena kasian."
"Kamu mundur aja. Maaf aku gak bisa balas perasaan kamu."
Diva dengan emosi yang tidak stabil seketika memutuskan pembicaraan mereka. Malam ini, ada dua hati yang merasakan hancur secara bersamaan. Mungkin bukan dua tapi tiga. Satu untuk jevin, dan dua untuk Diva. Sejujurnya Diva sangatlah menyukai Jevin. Tapi ia memiliki alasan tersendiri untuk tetap menaruh hati pada kakaknya.
"Vin, kamu memang lagi patah hati. Tapi aku lebih dari itu. Kamu gak tau rasanya berusaha gak peduli saat kamu benar benar menyayangi." Ucap Diva tersenyum sambil mematikan ponselnya.
****
Holaa. Maafin yaa baru update. Otak udah ada di ujung jurang.
Jadi di part ini Aeleasha gak nongol yaa. Lagi buka puasa. Ehe.
Kalau suka tinggalin jejak yaa. Makaciww

KAMU SEDANG MEMBACA
AELEASHA
Teen Fiction[Slow Update] Niana Aeleasha adalah seorang gadis pindahan yang lugu dan polos. Saat pindah ke Jakarta, ia bertemu dengan Danar Prasaja. Seorang pria yang cool dan dingin terhadap siapa saja yang ditemuinya. Bagaimana jadinya jika seorang Aeleasha y...