Chapter 3

87 9 0
                                    

"Danar... Danar.. sssttt. Woii." Panggil Aeleasha dengan nada yang tidak keras sambil terus mengikuti Danar yang terus berjalan di hadapannya. "Sssttt, nengok dong. Capek tau ngikutin mulu." Ucap Aeleasha berjalan sambil menghentak hentakkan kedua kakinya. Tapi tiba tiba

Bughh...

Aeleasha seketika menabrak Danar yang berhenti secara tiba-tiba.

"Yang nyuruh lo ngikutin gue siapa?" Tanya Danar tanpa menengok sedikitpun. Suara datar Danar seketika membuat Aeleasha terkejut dan membuatnya spontan mundur untuk memberi jarak.

"Haii, halooo.. aku disini. Bukan di depan kamu. Balik dong!" Celoteh Aeleasha yang berusaha mengusir rasa gugupnya sambil melambai lambaikan kecil tangannya.

Lama tak ada jawaban, Aeleasha pun melanjutkan ocehannya.

"Sayang banget, ganteng ganteng kok rese gini ya. Ampun deh. Yaudah jadi langsung aja ya. Gini...." Belum selesai Aeleasha dengan ucapannya, Danar tiba tiba saja kembali berjalan dan meninggalkan Aeleasha yang masih tergantung dengan ucapannya sendiri.

Mungkin memang benar, hati Danar adalah sebuah batu. Bukannya berbalik sebentar untuk mendengarkan Aeleasha, ia malah melanjutkan jalannya melenggak lenggok dengan gagahnya bagaikan model professional dengan menebar pesonanya.

Aelasha yang masih terdiam di tempat pun akhirnya mengeluarkan suaranya dengan lantang.

"Yaudah yaudah. Aku nyerah ngikutin kamu. Aku cuma mau minta maaf aja soal kemarin. Aku udah nuduh kamu nabrak aku. Maafin ya, aku juga gak bakalan ngikutin kamu lagi kayak gini." Teriak Aeleasha memenuhi koridor yang sepi itu sambil berbalik arah meninggalkan Danar. Tapi entah apa yang salah dengan ucapan Aeleasha, seketika Danar berhenti dan berbalik untuk melihat Aeleasha yang saat ini sudah berjalan berlawanan arah denganya.

****

"Aleeeeee!" Teriak Diva histeris saat melihat Aleasha duduk terdiam di kelas.

"Tuh kan, minumannn lagiii. Pliss lah, lama lama aku di endorse sama ale ale kalo gini terus." Ucap Aeleasha merengek seperti anak kecil.

"Hahaha uuu tayangg maafin yaaaa." Rengek Diva mengejek sambil duduk di samping Aleasha. "Giniiiiiii" Lanjutnya spontan membuat Aeleasha spontan terkejut.

"Apaan?"

"Tadi gue ngeliat lo ngikutin Danar mulu. Ngapain sih lo? Mau ngungkapin perasaan ya pake surat cinta? Hahahha. Udah gak jaman kali."

"Gak gituuu. Kan kemarin aku udah bilang mau minta maaf sama dia. Jadi ya gitu deh."

"Lah terus? Lo ngikutin dia sampai segitunya? Jadi lo udah dimaafin sama dia?" Tanya Diva penasaran.

"Gak tau. Tapi udah ah biarin aja. Batu gitu dianya. Aku males juga ngadepin orang kayak dia."

"Dia emang gitu orangnya. Sabar aja yah nakk. Gue yakin dia udah maafin lo kok. Plis lah, jangan ngemis sama dia kayak gitu lagi. Gue gak mau lo diceritain sama satu sekolah karena ngikutin dia mulu." Saat ini ekspresi Diva sudah berubah 180 derajat seperti ibu yang sedang menasihati anaknya.

"Kok kamu tau banget ya tentang dia? Jangan jangan kamu ngefans berat lagi sama dia." Goda Aeleasha mencoba mencairkan suasana.

"Hahaha, gak lah. Dari 16 siswa perempuan di kelas ini, yakin cuma lo aja sama gue yang gak ngefans sama dia."

"Hahhh?? Seriusan? Jadi 14 nya itu ngefans sama dia semua?"

"Yah gitudeh. Jumlahnya lo kali aja sama semua kelas di sekolah ini. Gila gak? Tapi emang sih, dia itu pesonanya ampun banget." Ucapan Diva berhasil membuat beberapa siswa perempuan di kelas itu menengok ke arah mereka berdua.

"Tuh kan. Hahahah udah ah, kok kita jadi bahas dia yah?"

"Gue pantau aja, bisa aja besok besok lo suka sama dia. Hahah."

"Yaelah Divaaaa."

Aeleasha mendengus. Cukup sekali saja ia ingin memiliki masalah dengan pria yang bernama Danar dan itu adalah cukup kemarin dan hari ini. Ia berharap tak akan memiliki sesuatu yang berhubungan dengan pria dingin itu lagi.

****

"Lemes aja lo dek." Tanya Azka melihat adiknya yang baru saja pulang sekolah. Azka Nandana Pratama, ia adalah kakak dari Aeleasha. Mereka berdua memiliki jarak umur sekitar 2 tahun dan hal itu yang menjadikan mereka lebih dekat satu sama lain. Saat ini Azka sedang menempuh pendidikan kuliahnya di salah satu Universitas terkenal di Jakarta. 

"Dih dihhh.. Mah, abang udah pake lo gue loh sekarang." Teriak Aeleasha pada Ibunya.

"Ya iyalah. Gue kan anak Jakarta coyy." Ucapnya sambil memperlihatkan gaya swagnya.

"Dihh... Udah ahhh. Abang masuk kamar aja. Bikin pusing!"

"Hahaha gak lah dek. Abang bercanda doang. Kok lemes sih adik abang?" Ucap Azka sambil memegang kepala adiknya.

"Di sekolah ada cowok rese bang. Iya sih aku yang salah, tapi gitudeh. Dia itu ngeselin banget. Udah, itu aja." Ucap Aeleasha berlalu menutup pintu kamarnya dan meninggalkan abangnya yang masih terdiam.

"Awas loh kamu suka sama dia dek. Hahaha abang bakalan guling guling kalau kamu sampai suka sama dia."

"Gak akan bang." Suara Aeleasha jelas terdengar dari dalam kamarnya. "Ehhh bangggg, stop dulu." Seketika ia membuka kembali pintu kamarnya dan menghentikan langkah Azka yang berniat ingin pergi ke minimarket.

"Elah, ngagetin aja. Apaan?"

"Besok jemput aku yah? Hehehe soalnya tadi angkotnya penuh. Rasa trauma naik angkot mulai menjalar di otak aku bang."

"Bisa aja kamu dek. Hahaha. Yaudah besok abang jemput ya."

"Siapppp."

"Dijemput sama abang angkot maksudnya." Teriak Azka sambil berlari keluar rumah membuat Aeleasha mendelik sebal.

****

Sangat minta kripik dan saran:)

AELEASHATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang