Awan mendung berwarna hitam pekat muncul di pagi. Udara dingin pun terasa. Ingin sesekali aku menarik selimut bermotif doraemon untuk kembali menutupi badanku yang kedinginan. Namun apalah daya, suara gedoran pintu di kamarku sudah terdengar. Bising sekali. Sudah kuduga, itu pasti ulah bibik yang sengaja di perintah mamah. Disiplin sekali mamah, meski hari ini libur. Padahal ini masih jam 7 pagi. Argh..
"Non bangun! Buka pintunya! Sudah di tunggu nyonya dan tuan di meja makan." Ujarnya di balik pintu.
"Aaaaah bibik, masih ngantuk, masih dingin banget nih." Keluhku.
"Ya sudah! Mogok uang saku minggu ini kata nyonya!" Ancamnya.
"Aaaa kebiasaan banget. Hobby kalo soal ngancem. Iya 5 menit lagi Vely turun."
Aku memejamkan mata yang masih terasa berat ini. Udaranya memang mengajakku untuk tetap singgah di tempat tidur kesayanganku ini.
"Astaga!"
Aku segerakan membuka mata yang masih berat ini. Teringat ucapan bibik 10 menit yang lalu.
"Argh terpaksa turun nih." Gumamku.
Tap... tap... tap...
Langkah demi langkah aku turun tangga dari kamar dengan badanku yang masih lemas. Butuh tidur panjang di weekend ini.
"Selamat pagi sayang. Badan kok masih sempoyongan gitu." Kata mamah.
"Ngantuk." Suaraku samar-samar terdengar di telinga mamah dan papah.
"Makan! Nanti lanjutin tidurnya gak papa." Ujar papah.
"Hoammmm iya pah."
Nasi goreng mata sapi dengan segelas susu hangat menantiku. Kusegerakan menghabiskan mereka.
"Sayang, nanti sore jam 4 temenin mamah ke mall yuk." Ajak mamah.
"Siap! Mampir toko buku ya mah."
"Mau nambah koleksi buku lagi? Gak bosan-bosannya kamu. Mau buat apa? Kamar kamu sudah penuh buku berserakan, kasian bibik selalu membereskan." Ujar papah.
"Hobby." Jawabku sekenanya.
"Sudahlah pah. Masih mending anak kita seperti itu daripada hura-hura untuk hal yang tak penting." Bela mamah.
"Mamah ini terlalu memanjakannya." Ujar papah.
Sejak kakak laki-lakiku memilih tinggal di amerika, mamah sering sekali memanjakanku. Bahkan apa yang aku minta selalu di turuti. Mungkin mamah takut aku meninggalkannya dan memilih untuk seperti kakak. Btw, aku rindu dia.
Dia Samuel Alvaro.
Kakak terjutek tetapi begitu menyayangiku. Selisih 3 tahun denganku memang mempunyai pendirian untuk selalu menjagaku. But, kenapa malah pindah Amerika ya. Di pikir dia punya keahlian yang bisa menjaga dari jauh kali, astaga.
***
Aku mengambil handuk dari lemari lalu segera menuju kamar mandi. Aku berhenti di depan cermin dan menatap bayangan diriku pada cermin yang tertempel pada lemari di dekat pintu kamar mandi yang ada di kamarku. Rambut yang semula kugerai kini kuikat ke belakang dengan ikat rambut berwarna ungu yang menghiasi kepalaku. Sesekali aku bergumam di depan cermin.
"Pantaskah aku dicintai dia?"
Kuhentikan tingkahku di depan cermin dan segera ke kamar mandi. Aku mengatur suhu hingga air pada jacuzzi-nya sesuai dengan keinginanku. Setelah air penuh, kurebahkan tubuhku ke dalam bathtub. Terkadang berendam dapat menguapkan rasa penat yang ada di kepalaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARI BERSAMANYA
ContoAku ingin terbang setinggi mungkin meski aku tahu sakitnya jatuh berkali-kali. Apa jadinya jika mencintai seseorang yang diidolakan sejak lama tetapi selalu saja cintanya bertepuk sebelah tangan. Tetapi datang seseorang yang membuat nyaman, selalu...
