Chapter 7

425 16 0
                                    

"Lo selalu bikin gue kena masalah. Sekarang, lo juga berhasil bikin gue kena masalah cinta." -Juki Fandino.

***

Sudah sore. Namun Juki masih berada di halaman rumah Uli. Duduk di kursi kayu bersama Uli yang sedang mengobati dirinya.

"Aw! Sakit bego," kesalnya.

"Mau diobatin gak, sih? Gue udah baik hati nih, ngobatin lo." ucap Uli seraya menempelkan kapas dengan alkohol, ke sisi kanan bibir Juki.

"Ini tuh gak seberapa, dibanding perjuangan gue tadi. Emang dia siapa sih? Sampe segitunya ke cewe,"

"Perjuangan mata lo! Kalau gak ada gue, lo udah ditusuk mati." ketus Uli.

"Lo gak jawab pertanyaan gue!"

"Yang mana?"

"Yang tentang siapa pria berjaket hitam itu?"

"Oh,"

"Apaan oh doang. Jawab yang bener. Masa harus kursus dulu buat jawab pertanyaan orang."

"Nanti lo tau sendiri, siapa dia." lugasnya.

Juki hanya diam, lalu mendecak kesal. Percuma dia bertanya lagi, Uli akan menyembunyikan jawabannya. Juki pun menoleh ke wajah Uli yang berada di hadapannya beberapa detik, setelahnya, dia membuang muka. Ada rasa malu dan detak jantung yang tidak karuan menghampirinya. Entahlah, dia tidak tahu kenapa. Uli mengobati Juki dengam hati-hati. Suasananya hening. Hanya deru nafas masing-masing sajalah yang terdengar oleh keduanya.

Tadi siang, Juki memang dilanda emosi. Dia menghajar pasukan yang didatangkan pria berjaket hitam itu tanpa berpikir panjang. Awalnya dia bisa menghabisi pasukan yang berjumlah 15 orang itu dengan mudah, beserta pria berjaket hitamnya juga. Namun, pria berjaket hitam itu diam-diam mendekati Juki dengan mengeluarkan pisau. Tujuannya, yang tidak lain adalah ingin menusuk Juki. Juki akan tertusuk, namun beruntunglah, Uli yang berada di belakang pria tersebut memukulnya dengan kayu besar, yang ditemukannya tergeletak sembarangan. Singkat kata, pria berjaket hitam itu pingsan. Dan, saat itulah mereka lari dari tempat kejadian itu. Disusul dengan riuhan siswa-siswi yang menonton kejadian itu sejak awal. Namanya juga sekolah, ada kejadian aneh sedikit saja, pasti jadi bahan tontonan. Besoknya, Uli dan juki pasti menjadi trending topic satu sekolah.

"Nah, udah selesai." ucap Uli seraya membereskan kotak P3K yang dipakai untuk mengobati Juki barusan.

"Makasih." ucap Juki datar, dan hanya dibalas dengan anggukan singkat Uli yang sedang berjalan ke dalam rumah, untuk menyimpan kotak P3K seraya mengambil cemilan untuk Juki.

Kini Juki sendiri, duduk di kursi kayu ini. Dia merenung sejenak, mengingat ucapan ayahnya sebelum berangkat ke luar negeri. "Jaga ibumu ya. Jangan buat hatinya terluka, dan buatlah dia bangga." Mengingat ucapan ayahnya, Juki selalu merasa bersalah atas apa yang selama ini diperbuatnya. Dia sama sekali belum bisa membuat ibunya bangga, dia hanya bisa membuat ibunya bersedih dengan kelakuan nakalnya. "Seharusnya gue gak sesedih itu, saat ditinggal ayah kerja. Seharusnya gue gak ikut ajakan temen gue buat ngerokok dan bolos." sesalnya seraya mengacak-acak rambutnya kasar.

"Heh, lo ngapain ngomong sendiri di sini?" tanya seorang pria di samping Juki yang memakai kaos putih polos.

Juki pun menoleh, lalu mendapati sosok pria yang menurutnya sangat emosian. Dia Devan, berdiri tegak di depan Juki dengan raut sebal.

"Kak—kak, eh kakaknya Uli." gagapnya.

"Ngapain lo di sini? Kalau lo mau minta ganti rugi buat warung lo, gue udah gantiin tadi ke ibu lo. sekarang, lo bisa pergi." ucap Devan dengan sorot mata yang tajam.

JULI Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang