Author POV
Hari disekolah berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja ada sesuatu yang membuat Vira terus berpikir tentang hal-hal yang mungkin ia lupakan setelah ia lakukan. Belakangan ini, Arza tidak tersapu oleh pandangan matanya. Memang, Vira hanya berdiam diri di kelas. Namun, yang menjadi masalah adalah Arza memang tidak sekolah belakangan ini. Sudah terhitung satu minggu sejak pertama kali Vira mengetahuinya. Kemana lelaki itu ? Vira menunggu setiap waktu. Inikah yang namanya rindu ? Hah, tidak mngkin.
" Ra'. Gue ada sesuatu yang perlu di omongin." Ucap Cincau dengan keras dari depan pintu saat jam istirahat. Ia membawa tasnya, berjalan menghampiri Vira.
" Apaan ?" Tanya Vira sedikit penasaran.
Tanpa diduga, Cincau menuangkan seluruh isi tasnya di atas meja Vira.
" Ini apaan coba ?" Respon Vira terkejut.
" Tugas yang kemarin gue curhat. Gue udah lakuin apa yang lo saranin. Detail banget. Tapi masih nggak ketemu. Udah di cari di buku dari berbagai penerbit, tapi kagak ada yang sama. Pusing." Rengek Cincau
" Lo pake yang berapa ?" Tanya Vira.
" Apanya ?" Cincau ambigu.
" Bilangan phi nya. Pake yang 3,14 ato 22/7 ?"
" Hah, kok pake itu sih ? Kan yang ditanya bukan itu."
" Kudu pake itu dulu neng. Baru masukin angkanya ke rumus yang ada di buku ini." Vira menunjuk salah satu buku yang tebal.
" Ohh gitu. Ngerti-ngerti." Cincau tersenyum senang.
Vira mengangguk. " Btw, gue udah lama nggak liat Arza. Tuh anak kemana ya ?" Tanya Vira dengan ragu-ragu.
" Mana gua tau. Kan elu pacarnya. Kok jadi nanya sama gua ?" Ucap Cincau seperti tak tahu terimakasih.
Vira menggerutu di bangkunya, sempat menyesali kenapa ia bertanya hal itu pada orang yang salah. Pria yang memaku perhatiannya kian tak terlihat sejak beberapa hari belakangan ini. Entah kemana makhluk ciptaan Tuhan, yang entah mengapa, mungkin sengaja dikirim untuk Vira. Mewarnai harinya dengan perhatian serta kepribadiannya.
...
Vira menghembuskan nafasnya dengan keras, pertanda bahwa ia kelelahan. Hari di sekolah cukup padat dan melelahkan, bahkan cenderung membosankan. Pak Bram tidak menjemput siang ini, karena ia harus mengkuti kelas terakhirnya di bulan ini. Dan Vira, jangan tanya bagaimana ia pulang. Ia duduk di halte depan sekolah selama 2 jam untuk menunggu mobil papanya menjemput. Vira meraba saku rok pendek sekolahnya. Memastikan bahwa ponselnya masih aman. Takut saja jika nanti dia lupa dan meninggalkannya di halte.
Sebuah gambar beserta nada dering muncul di layar sebagai notifikasi. Awalnya Vira heran, siapa pemilik nomor tak dikenal itu. Namun, karena sebuah rasa yang benama penasaran membuat Vira berujung dengan mengangkat panggilan tersebut. Dengan ragu Vira mendekatkan ponselnya yang kini tak lagi bersuara ke telinganya.
" Siapa ya ?" Tanya Vira ragu.
" Tebak coba ?" Ujar suara di seberang.
" Arza ya ?" Tebak Vira.
Suara disana bergeming. " Kalo bukan ?"
" Aku tutup." Vira yang tampak kesal memutus sambungannya. Berbicara dengan orang yang tak jelas bukanlah kebiasaan Vira. Terutama berbicara di telpon.
Ponsel Vira bordering kembali. Nomor yang sama, sepertinya. Vira tak ingat jelas nomor sebelumnya. Kedua nomor ini berasal dari perusahaan yang sama.
" Kok dimatiin ?" Tanya suara disebrang sana. Suara yang sama. Vira jelas sekali ingat suara itu.
" Cie yang tadi nyariin." Ledek Arza.
" Siapa juga yang nyariin ? Ih, ge'er banget. Prince syndrome ya ?" Sanggah Vira cepat.
" Prince syndrome ? Daffa, lu yakin yang nyari gua tadi Vira ? Cewek cantik yang pake kacamata ? Iya, yang pendek. Bener berarti. Tuh, Daffa yang bilang." Jelas Arza setelah mengoceh dengan orang yang kedengarannya sedang bersama.
Vira terdiam. 'Cewek cantik yang pake kacamata'. Kalimat itu kini terngiang dikepalanya. Semburat merah muda menambah kesan rona pipinya.
Huh. Daffa memang tak bisa di pegang perkataannya. Seseorang yang ditemui Vira tadi siang, atas saran dari Cincau. Menanyakan perihal Arza sangat salah menurut Vira. Dan penyesalan baru datang di akhir. Padahal Vira sudah berpesan untuk tidak mengatakan apa-apa pada Arza, dan lelaki itu mengatakannya. Lengkap dengan deail terkecil.
" Kamu kemana ?" Tanya Vira perlahan.
" Tuh kan nyariin..." Arza tertawa puas seakan mendapatkan kemenangan.
" Seminggu ini kamu kemana aja ?" Vira semakin kesal. Terdengar dari nada bicaranya.
" Asyik ya ternyata kalau ada yang ngekhawatir-in." Arza masih terus menggoda Vira.
" tut...tut...tut..." Sambungan telepon di matikan.
" Kok di matiin lagi sih ? Kagak seneng di telpon pacar ?" Suara Arza terdengar lebih berat.
" Aku seneng kok. Kamu belum jawab pertanyaan aku." Vira berbicara dengan suara sehalus mungkin.
" Aku darimana itu nggak penting. Yang penting sekarang, besok aku sekolah." Arza kedengaran bersemangat.

YOU ARE READING
FEAR & PHOBIA
Teen FictionSebuah tulisan berdasarkan apa yang sering terjadi, namun tak begitu disadari. *Because Sugar Its Always Sweet